10 Bahaya Aborsi

  • Bagikan
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SULTRAKINI.COM: Akhir-akhir ini aborsi menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat Indonesia. Terlebih ditemukannya tujuh janin dalam kamar kos hasil aborsi yang dilakukan sepasang kekasih NM (29) dan SM (30). Apa sebenarnya aborsi itu dan bagaimana bahaya bagi kesehatan?

Dilansir dari berbagai sumber, aborsi atau mengugurkan kandungan dengan sengaja merupakan tindakan menghilangkan nyawa bayi. Aborsi dilakukan beberapa orang karena alasan tertentu, seperti kehamilan yang tidak direncanakan.

loker wartawan sultrakini

Tindakan aborsi dapat menyebabkan beberapa gangguan kesehatan bahkan sampai berujung pada kematian.

Pendarahan

Salah satu risiko sering terjadi setelah aborsi adalah pendarahan berat. Pendarahan berat sebagai efek aborsi serius umumnya disertai dengan demam tinggi dan gumpalan jaringan janin dari rahim.

Berikut ini ciri-ciri pendarahan hebat yang perlu diwaspadai:

  1. Adanya gumpalan darah atau jaringan yang lebih besar dari ukuran bola golf.
  2. Berlangsung selama 2 jam hingga lebih .
  3. Aliran darah yang deras selama kurun waktu 2 jam berturut-turut.
  4. Perdarahan berat selama 12 jam berturut-turut.

Infeksi

Infeksi merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi akibat aborsi. Kondisi ini biasa ditandai dengan adanya benda asing yang tidak bersih masuk ke area dalam rahim yang dapat menyebabkan luka robek yang mengakibatkan infeksi pada rahim.

Selain itu, terjadinya infeksi juga dapat disebabkan masih ada sebagian janin yang tersisa dalam rahim, serta mengonsumsi obat-obatan tertentu.

Baca:   Penemuan 7 Janin dalam Kos, Citizen Duga Hasil Praktik Aborsi NM

Tanda-tanda infeksi aborsi mirip dengan penyakit standar, seperti sakit kepala, nyeri otot, pusing, atau sensasi (tidak enak pada badan). Namun pada beberapa kasus, pasien juga akan mengalami demam tinggi, munculnya keputihan yang berbau dan nyeri yang hebat di area panggul.

Masalah Kesuburan

Sebenarnya aborsi tidak mempengaruhi peluang seorang wanita untuk hamil dan memiliki kehamilan normal di kemudian hari. Banyak wanita yang pernah menjalani aborsi bisa hamil kembali.

Namun, menggugurkan kandungan bisa membuat wanita berisiko mengembangkan infeksi rahim. Bila tidak segera ditangani, infeksi tersebut bisa menyebar ke saluran telur dan ovarium yang dikenal sebagai penyakit radang panggul. Penyakit tersebut bisa meningkatkan risiko kemandulan.

Sepsis

Sepsis, yaitu infeksi parah yang dapat menyebabkan bakteri masuk ke aliran darah dan menjalar ke seluruh tubuh.

Ciri-ciri orang terkena serangan spesis:

  • Suhu tubuh tak menentu kadang tinggi kadang juga sangat rendah.
  • Perdarahan berat.
  • Nyeri parah.
  • Lengan dan kaki berubah menjadi pucat dan terasa sangat dingin.
  • Tiba-tiba linglung, kebingungan, gelisah, serta letih.
  • Gemetar sampai menggigil.
  • Tekanan darah rendah, terutama pada saat berdiri.
  • Ketidakmampuan untuk buang air kecil.
  • Jantung berdebar sangat cepat dan keras (palpitasi jantung).
  • Sulit bernapas, bernapas dangkal hingga sesak napas.

Kanker

Wanita yang pernah melakukan tindakan aborsi berpotensi 2-3 kali lebih tinggi terkena serangan kanker serviks dari pada wanita yang tidak pernah aborsi. Selain itu, risiko peningkatan kanker ovarium dan kanker hati juga dapat disebabkan karena aborsi tunggal dan ganda.

Baca:   Terjadi di Kendari: Hasil Hubungan Gelap dengan Kekasih, Siswi Nekat Aborsi Dibantu Bidan

Infeksi Peradangan Panggul

Infeksi peradangan panggul (PID) adalah penyakit yang menyebabkan peningkatan risiko kehamilan ektopik dan dapat mengurangi kesuburan wanita di masa depan.

Risiko PID juga meningkat pada kasus aborsi spontan karena adanya peluang jaringan kehamilan terperangkap dalam rahim, serta risiko perdarahan hebat. Kondisi ini berpotensi mengancam nyawa pasien.

Risiko PID meningkat pada kasus aborsi spontan karena adanya peluang untuk jaringan kehamilan terperangkap dalam rahim, serta risiko perdarahan hebat. Keduanya merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri; Selain itu pada wanita yang mengalami anemia sedang hingga berat sedari awal, kehilangan darah lebih lanjut akan meningkatkan kemungkinan infeksi

Kerusakan Rahim

Orang yang melakukan tindakan aborsi berpotensi mengalami kerusakan rahim. Kerusakan ini umumnya terjadi pada leher rahim, perlubangan (perforasi) rahim, dan luka robek pada rahim (laserasi). Namun sebagian besar dari kerusakan ini bisa tidak terdiagnosis dan tidak terobati kecuali dokter melakukan tidakan visualisasi laparoskopi.

Risiko kerusakan rahim meningkat pada wanita yang sebelumnya melahirkan dan bagi mereka yang menerima anestesi umum pada saat melalukan aborsi. Kerusakan serviks juga akan lebih besar terjadi pada remaja yang melakulan tindakan aborsi sendiri pada trimester kedua.

Endrometritis

Baca:   Kodim 1413/Buton Gelar Vaksin untuk Pelajar di MAN Baubau

Endrometritis sebuah kondisi peradangan pada lapisan rahim dan umumnya disebabkan karena infeksi. Efek ini yang mungkin umumnya terjadi pada semua wanita yang melakukan aborsi, namum lebih utama pada remaja. Infeksi yang tak kunjung diobati dapat menyebabkan komplikasi pada organ reproduksi wanita, hingga masalah kesuburan, dan masalah kesehatan umum lainnya.

Masalah Psikologis

Tak hanya masalah fisik, trauma psikologis juga dapat dirasakan oleh wanita yang menjalani aborsi. Beberapa masalah psikologis yang sering terjadi dan dialami oleh wanita setelah melakukan tindakan aborsi, seperti malu, merasa bersalah, cemas hingga depresi.

Kematian

Perdarahan hebat, infeksi parah, emboli paru, anestesi yang gagal, dan kehamilan ektopik yang tidak terdiagnosis diawal merupakan beberapa contoh dari penyebab utama kematian ibu yang terkait dengan tindakan aborsi dalam seminggu setelahnya.

Penting untuk dipahami sejumlah bahaya aborsi di atas jarang terjadi dan beberapa risiko juga tampak mirip dengan komplikasi persalinan bayi pada umumnya. Namun hal yang paling penting adalah menyadarinya agar segera dilakukan tindakan medis.

Tindakan aborsi dilarang serta dianggap ilegal, bahkan di Indonesia sudah ada dasar hukum yang mengaturnya, tertuang dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, tepatnya Pasal 75, pada ayat (1) terdapat larangan untuk melakukan Tindakan aborsi bagi setiap orang. (B)

Laporan: Feni Sul Fianah
Editor: Sarini Ido

loker marketing sultrakini
  • Bagikan