15 Tahun Bertahan Hidup dengan Mengais Barang Bekas di Tengah Malam

SULTRAKINI.COM: KENDARI-Malam bagi sebagian orang menjadi waktu untuk beristirahat setelah menjalani aktivitas seharian. Namun, bagi Suratno (61), malam justru menjadi waktu untuk bekerja. Saat sebagian warga mulai terlelap, ia berkeliling mengumpulkan barang-barang bekas di kawasan Sodoha, Kota Kendari.

Sudah sekitar 15 tahun Suratno menjalani pekerjaan sebagai pemulung. Ia mulai bekerja sejak pukul 22.00 WITA hingga sekitar pukul 05.00 WITA. Botol plastik, kaleng, kardus dan berbagai barang bekas lainnya menjadi sesuatu yang ia cari untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Kalau banyak, bisa dapat sekitar Rp600 ribu. Kalau sedikit paling Rp300 ribu,” ujar Suratno.

Penghasilan tersebut tidak selalu sama setiap harinya. Menurutnya, banyak atau sedikitnya hasil yang diperoleh bergantung pada kerajinan dan jumlah barang bekas yang ditemukan.

Suratno bukan berasal dari Kendari. Ia sebelumnya tinggal di Jawa dan bekerja sebagai petani. Sekitar 25 tahun lalu, ia kemudian pindah ke Kendari melalui program transmigrasi.

Setibanya di Kendari, Suratno sempat bekerja sebagai petugas kebersihan di lingkungan pemerintahan. Namun, setelah terjadi pergantian bupati, ia berhenti dari pekerjaan tersebut. Kondisi itu membuatnya harus mencari pekerjaan lain hingga akhirnya memilih menjadi pemulung.

Selain memulung, Suratno juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai tukang becak di sekitar Pasar Sentral Kota Lama. Kedua pekerjaan tersebut dijalani untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Kini, Suratno telah berkeluarga dan memiliki tiga orang anak. Di usianya yang tidak lagi muda, ia tetap menjalani pekerjaan yang mengharuskannya beraktivitas hingga dini hari.

Perubahan juga terlihat dari jumlah pemulung yang bekerja di kawasan tersebut. Suratno mengatakan, sekitar 10 orang sebelumnya bekerja sebagai pemulung di lokasi itu. Namun, kini hanya tersisa sekitar dua hingga tiga orang. Sebagian lainnya memilih berhenti dan beralih ke pekerjaan lain.

“Dulu banyak, sekitar 10 orang. Sekarang tinggal dua atau tiga orang saja,” katanya.

Di balik rutinitasnya mengumpulkan barang bekas, terdapat persoalan lain yang dirasakan Suratno, yakni akses terhadap bantuan pemerintah.

Ia mengaku sebelumnya pernah menerima bantuan berupa uang dan sembako. Namun, belakangan bantuan tersebut tidak lagi diterimanya karena persoalan desil dalam pendataan penerima bantuan.

Suratno mengaku telah mengusulkan kembali berkas untuk mendapatkan bantuan. Namun, hingga kini belum ada kepastian atau jawaban mengenai pengajuan tersebut.

Kondisi itu menjadi salah satu hal yang membuatnya merasa sedih. Di tengah usia yang sudah 61 tahun dan masih harus bekerja hingga dini hari, ia berharap kembali mendapatkan perhatian dan bantuan dari pemerintah.

Bagi Suratno, menjadi pemulung bukan sekadar pekerjaan. Di balik botol plastik, kaleng, dan kardus yang dikumpulkannya setiap malam, ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi dan kehidupan yang harus terus dijalani.

Laporan: Mardiyah & Elfa