TAPERA, Kekerasan Simbolik?

  • Bagikan

Oleh Muh. Nato Alhaq (Kaprodi Desain Komunikasi Visual UM Kendari, Mahasiswa S3 UHO)

Platform shorts (youtube) akun @jumadilcelebes6366 #Sindiran TAPERA Ala Bang Deny, mementaskan dialog “kalau orang miskin ngambil duit orang kaya, sebutannya merampok. Kalau orang kaya ambil uangnya orang miskin disebut bisnis. Ngak adilkan?,ngak adil Pak!. Kalau pejabat ngambil duit rakyat, sebutannya koruptor. Tapi kalau pemerintah ngambil uang rakyat sebutannya kebijakan…”

Apakah anda merasakan ‘sesuatu’ dalam statement seolah kocak  tersebut?. Tentu selain statement ini membutuhkan nyali untuk memuntahkannya. Apakah  “Sesuatu” itu datang dari  akal sehat anda yang meronta?. Celoteh Sang Artis Lawak ini coba menggelitik kita.

Bagaimana   penguasa,  orang kuat, kaum berpangkat, orang kaya, yang berhadapan dengan rakyat jelata, orang lemah,  kaum rendah, wong kere dalam  konteks BAHASA.  

Apakah Deny yang pada Pemilu 2024 terpilih sebagai  Anggota DPRRI tersebut, sekedar melawak. Sekedar memancing tawa. Atau ada sesuatu yang hendak disampaikannya?. Saya memilih kemungkinan terakhir. Ada  makna dari ungkapannya. Sesuatu pesan dari bahasanya. Demikian pula pemilik akun yang menyebarkannya. Menurutmu apa postingan itu  kebetulan saja?, atau apakah @jumadilcelebes6366 punya maksud tertentu dibalik postingannya… anda saja simpulkan.

Karena tema seputar bahasa ini, saya kemudian mengulik tipis tipis pemikiran Pierre Bourdieu. Dia bukan orang   Asinua Unaaha kampung saya. Om itu dari Perancis, sebuah  negara yang  ditakdirkan jadi kiblat banyak hal. Fashion, saluran tv  anakmuda 90an, Menjajah Aljazair (negeri asal Zenedine Zidane), bahkan inspirasi dunia lewat revolusi Prancisnya.  Sederet Pemikir hebat  lahir dari negara di Benua Eropa ini.  Henri Bergson, Gabriel Marcel, Roland Barthes,  Jean-Paul Sartre, Michel Foucault, banyak masih sederet lagi.

BAHASA bukan sekedar alat komunikasi. Bahasa adalah instrumen kekuasaan. Dibalik bahasa ada ideologi. Begitulah kira kira  Bourdieu. Jika demikian berarti bahasa bukan sekedar bunyi bunyian yang keluar dari mulut manusia. Atau bukan sekedar getaran yang ditransmisikan untuk  gendang telinga pendengarnya.  Bahasa adalah ALAT KEKUASAAN….

Saya coba mengurai bagaimana mengintip kekuasaan dengan  mengamati bahasanya.  Sebuah ilustrasi dari Romo ‘Moko’ Haryatmoko. Dosen Filsafat Universitas Sanata Dharma dan Juga Dosen Tamu di Universitas Indonesia. Kebetulan Saya mengikuti kelasnya sekitar 2017 lalu  bertepatan peluncuran bukunya Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis)   di Kampus UI Salemba. Penjelasannya tentang semiotika  ini saya kembali ilustrasi  lewat dialog berikut ini :

(Sebelum Pernikahan)

W: Bang, saya mau menerima abang sebagai suami saya,  asal saya tetap bisa berkarir.

P: Siap sayang, tentu Abang akan terus dukung karir kamu (sambil menatap penuh harap).

(Dialog Setelah Menikah, di dalam rumah).

P:Sayang, tolong hari ini jaga anak dulu ya, saya ada tugas di  kantor.

W:Maaf, Bang hari ini juga saya ada tugas penting.

P:Pokoknya hari ini kamu jangan ke Kantor!!!

W:jangan Bang, sudah terlanjur terjadwal. Ada janji penting untuk kantor saya Bang.

(Dialog berpindah ke teras sambil ‘P’ bersiap ke kantor. Dialog bernada keras hingga terdengar tetangga dan pelintas jalan).

P:Saya Kepala Rumah Tangga yang atur. Jangan bantah. Pokoknya harus tinggal di rumah…!!!.

W:Abang tidak konsisten. Katanya dulu akan dukung saya berkarir.

P: Sudah kamu patuh jangan bantah. Saya kan yang beri izin bekerja.

W:  Tapi Bang… tidak bisa begitu bang…!!!

P: sudah (plakbunyi tamparan)

W:  (sedih, kecewa dan marah)….Jahat…

Tetangga : Itu sih…, sama suami menjawab sih…. Istri harusnya patuh. Kan tugas Istri  emang jaga anak…

Ilustrasi di atas semoga bisa menggambarkan bagaimana bahasa bekerja. Bagaimana Bahasa menjadi pintu bagi kekuasaan bahkan lebih jauh sebagai pintu masuk kekerasan. Dialog ini menggambarkan kekerasan diawali dalam level kekerasan simbolis. Saat  wanita menyerahkan dengan sadar kemerdekaannya. Menjadi  simbol penyerahan diri  kepada kendali orang lain. Kita coba urai:  

1. Kekerasan Simbolis sebagai Pintu Masuk:

Denotasi: Penggambaran awal menunjukkan penyerahan kemerdekaan wanita secara sadar kepada pasangannya sebelum pernikahan.

Konotasi: Dalam kasus tersebut, istri dengan sadar  mengizinkan kekerasan tersebut. Tindakan ini mengantarkan pada kekerasan simbolis (patriarki) di mana terjadi relasi kuasa yang timpang. Wanita secara sadar tunduk pada norma dan ekspektasi patriarki yang mengungkung kemerdekaannya sejak awal.

2. Bahasa sebagai Alat Kekerasan Psikologis:

Denotasi: Dialog suami yang meminta istri patuh dan menempatkan dirinya sebagai pemimpin.

Konotasi: Penggunaan bahasa ini merepresentasikan kekerasan psikologis. Suami memanipulasi bahasa untuk menegaskan dominasi dan kontrolnya. Dalam kasus ini,  merendahkan harga diri istri, dan menciptakan rasa takut serta ketergantungan.

3. Kekerasan Fisik sebagai Puncak Eskalasi:

Denotasi: Tindakan tamparan yang dilakukan suami.

Konotasi: Kekerasan fisik ini merupakan manifestasi nyata dari kekerasan simbolik dan psikologis yang telah terjadi sebelumnya. Tindakan ini menegaskan kontrol absolut suami dan merampas sepenuhnya kemerdekaan serta hak-hak dasar istri.

4. Pernyataan Tetangga sebagai Kekerasan Sosial:

Denotasi: Pandangan sosial yang tergambar dari pernyataan tetangga.

Konotasi: Hal ini menunjukkan adanya kekerasan sosial, di mana norma dan budaya masyarakat turut menormalkan dan melegitimasi KDRT. Pernyataan tetangga merepresentasikan stigma dan minimnya dukungan bagi korban KDRT, memperparah rasa tertekan dan terisolasi.

Rasanya Saya kurang nyaman sebenarnya menulis contoh ini. Sebagai keluarga yang juga memperaktekkan patriarki,  meski lebih moderat. Setidaknya ini bisa  mencoba menjadi gambaran bagaimana bahasa ini menjadi  pintu masuk siklus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Berawal dari kekerasan, dilanjutkan dengan kekerasan psikologis, dan berujung pada kekerasan fisik. Pandangan sosial yang terinternalisasi dalam budaya dan norma masyarakat turut memperparah situasi, menciptakan lingkaran kekerasan yang sulit dipatahkan. Jika kita caba seret pada memahami KDRT tentu manfaatnya adalah melalui pemahaman yang lebih mendalam mulai dari praktik bahasanya.  Diharapkan upaya pencegahan dan penanganan KDRT dapat dilakukan dengan lebih efektif.

Bagaimana  kalau diskusi ini dibawa ke konteks berbeda.   Misal alam kampus, antara Mahasiswa  dan Dosennya.  Romo Haryatmoko juga memberi ilustrasi menarik bagaimana kekerasan simbolik ini bekerja. Misalnya pada dialog berikut ini.

Mahasiswa: Maaf Pak, saya sudah setor Bab IV Skripsi saya 2 minggu lalu…

Dosen: Terus?

Mahasiswa: Apa sudah diperiksa Pak,

Dosen : memang hanya skripsi saudara  yang saya periksa?

Mahasiswa: Tabe maaf kasian Pak.  Kalau bisa saya mau ujian  semester ini Pak.

Dosen: Terus kalau tidak ujian, saya yang salah?

Mahasiswa: waduh maaf Pak, bukan begitu Pak…

Dosen: Terus..???

Mahasiswa: Maaf Pak, saya yang salah Pak…

Apakah anda dapat berempati pada mahasiswa dalam dialog tersebut?. Bagaimana jika anda dalam situasi demikian. Sebagai mahasiswa,  salahkah anda ketika mempertanyakan perkembangan skripsi anda.  Apakah keliru jika anda bersunguh sungguh menetapkan target menyelesaikan kuliah?. Lantas kenapa dalam kondisi  demikian, mahasiswa harus berada dalam posisi lemah ?.  Inilah contoh kekerasan simbolik disekitar kita.

Lantas bagaimana dengan  TAPERA yang digaungkan pemerintah.  Masih lekat tawa kami  ketika seorang teman mengirim di WAG, Sebuah  meme TAPERA sebagai akronim “Tambah Penderitaan Rakyat”. Apakah ini mengimbangi  makna “Tabungan Perumahan Rakyat”?, sebagaimana definisi yang diutarakan pemerintah?.   Makna TAPERA dari pemerintah bermakna mendorong agar masyarakat memiliki  tabungan kepemilikan rumah dimasa depan. Faktanya perlawanan bahasa dilakukan diantaranya dengan plesetan definisi tersebut yang kira kira artinya “kami tidak setuju”.

Dialog Bang Deny di platform Shorts YouTube dengan akun @jumadilcelebes6366 tersebut, dapat kita kategorikan dalam tema ketidakadilan. Analisis semiotika  membantu kita memaknai komedi Bang Deny sebagai relasi kuasa antara orang miskin dengan si  kaya, pejabat dan rakyat dalam konteks pengambilan cuan dengan uraian:

  • Kesenjangan Sosial: Dialog ini menggugat adanya kesenjangan sosial antara orang miskin dan orang kaya, pejabat dan rakyat.
  • Ketidakadilan: Dialog ini mengkritik ketidakadilan sistemik yang memungkinkan orang berkuasa mudah saja mengambil keuntungan terhadap pihak yang lemah.
  • Satire dan Kritik Sosial: Dialog ini menggunakan satire dan kritik sosial menyuarakan pahitnya realitas ketidakberdayaan tersebut.
  • Simbol dan Makna: Penggunaan kata-kata seperti “merampok”, “bisnis”, “koruptor”, dan “kebijakan” sarat makna dan mengundang refleksi kritis.

Platform Shorts YouTube menjadi media efektif untuk menyebarkan pesan kritis dan satire ini kepada khalayak luas. Seolah ingin membangunkan  masyarakat (jumlah banyak) untuk bersikap atas penguasa (jumlahnya sedikit). Singkat dan mudah sekali menyebarkan ini secara massif. Bagi penyebarnya,  Dialog Bang Deny diharapkan dapat membangkitkan kesadaran masyarakat tentang ketidakadilan sosial yang terjadi. Satire dari kritiknya setidaknya menggelitik saya menulis catatan ini. Jadi ingat, tagline media massa tempat saya tumbuh dulu, SUARA VOKAL ANAK LOKAL. Sayang… arus zaman sudah menggilasnya. ***

TAPERA, Kekerasan Simbolik?

Oleh: Muh. Nato Alhaq. (Kaprodi Desain Komunikasi Visual UM Kendari)

Platform shorts (youtube) akun @jumadilcelebes6366 #Sindiran TAPERA Ala Bang Deny, mementaskan dialog “kalau orang miskin ngambil duit orang kaya, sebutannya merampok. Kalau orang kaya ambil uangnya orang miskin disebut bisnis. Ngak adilkan?,ngak adil Pak!. Kalau pejabat ngambil duit rakyat, sebutannya koruptor. Tapi kalau pemerintah ngambil uang rakyat sebutannya kebijakan…”

Apakah anda merasakan ‘sesuatu’ dalam statement seolah kocak  tersebut?. Tentu selain statement ini membutuhkan nyali untuk memuntahkannya. Apakah  “Sesuatu” itu datang dari  akal sehat anda yang meronta?. Celoteh Sang Artis Lawak ini coba menggelitik kita.

Bagaimana   penguasa,  orang kuat, kaum berpangkat, orang kaya, yang berhadapan dengan rakyat jelata, orang lemah,  kaum rendah, wong kere dalam  konteks BAHASA.  

Apakah Deny yang pada Pemilu 2024 terpilih sebagai  Anggota DPRRI tersebut, sekedar melawak. Sekedar memancing tawa. Atau ada sesuatu yang hendak disampaikannya?. Saya memilih kemungkinan terakhir. Ada  makna dari ungkapannya. Sesuatu pesan dari bahasanya. Demikian pula pemilik akun yang menyebarkannya. Menurutmu apa postingan itu  kebetulan saja?, atau apakah @jumadilcelebes6366 punya maksud tertentu dibalik postingannya… anda saja simpulkan.

Karena tema seputar bahasa ini, saya kemudian mengulik tipis tipis pemikiran Pierre Bourdieu. Dia bukan orang   Asinua Unaaha kampung saya. Om itu dari Perancis, sebuah  negara yang  ditakdirkan jadi kiblat banyak hal. Fashion, saluran tv  anakmuda 90an, Menjajah Aljazair (negeri asal Zenedine Zidane), bahkan inspirasi dunia lewat revolusi Prancisnya.  Sederet Pemikir hebat  lahir dari negara di Benua Eropa ini.  Henri Bergson, Gabriel Marcel, Roland Barthes,  Jean-Paul Sartre, Michel Foucault, banyak masih sederet lagi.

BAHASA bukan sekedar alat komunikasi. Bahasa adalah instrumen kekuasaan. Dibalik bahasa ada ideologi. Begitulah kira kira  Bourdieu. Jika demikian berarti bahasa bukan sekedar bunyi bunyian yang keluar dari mulut manusia. Atau bukan sekedar getaran yang ditransmisikan untuk  gendang telinga pendengarnya.  Bahasa adalah ALAT KEKUASAAN….

Saya coba mengurai bagaimana mengintip kekuasaan dengan  mengamati bahasanya.  Sebuah ilustrasi dari Romo ‘Moko’ Haryatmoko. Dosen Filsafat Universitas Sanata Dharma dan Juga Dosen Tamu di Universitas Indonesia. Kebetulan Saya mengikuti kelasnya sekitar 2017 lalu  bertepatan peluncuran bukunya Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis)   di Kampus UI Salemba. Penjelasannya tentang semiotika  ini saya kembali ilustrasi  lewat dialog berikut ini :

(Sebelum Pernikahan)

W: Bang, saya mau menerima abang sebagai suami saya,  asal saya tetap bisa berkarir.

P: Siap sayang, tentu Abang akan terus dukung karir kamu (sambil menatap penuh harap).

(Dialog Setelah Menikah, di dalam rumah).

P:Sayang, tolong hari ini jaga anak dulu ya, saya ada tugas di  kantor.

W:Maaf, Bang hari ini juga saya ada tugas penting.

P:Pokoknya hari ini kamu jangan ke Kantor!!!

W:jangan Bang, sudah terlanjur terjadwal. Ada janji penting untuk kantor saya Bang.

(Dialog berpindah ke teras sambil ‘P’ bersiap ke kantor. Dialog bernada keras hingga terdengar tetangga dan pelintas jalan).

P:Saya Kepala Rumah Tangga yang atur. Jangan bantah. Pokoknya harus tinggal di rumah…!!!.

W:Abang tidak konsisten. Katanya dulu akan dukung saya berkarir.

P: Sudah kamu patuh jangan bantah. Saya kan yang beri izin bekerja.

W:  Tapi Bang… tidak bisa begitu bang…!!!

P: sudah (plakbunyi tamparan)

W:  (sedih, kecewa dan marah)….Jahat…

Tetangga : Itu sih…, sama suami menjawab sih…. Istri harusnya patuh. Kan tugas Istri  emang jaga anak…

Ilustrasi di atas semoga bisa menggambarkan bagaimana bahasa bekerja. Bagaimana Bahasa menjadi pintu bagi kekuasaan bahkan lebih jauh sebagai pintu masuk kekerasan. Dialog ini menggambarkan kekerasan diawali dalam level kekerasan simbolis. Saat  wanita menyerahkan dengan sadar kemerdekaannya. Menjadi  simbol penyerahan diri  kepada kendali orang lain. Kita coba urai:  

1. Kekerasan Simbolis sebagai Pintu Masuk:

Denotasi: Penggambaran awal menunjukkan penyerahan kemerdekaan wanita secara sadar kepada pasangannya sebelum pernikahan.

Konotasi: Dalam kasus tersebut, istri dengan sadar  mengizinkan kekerasan tersebut. Tindakan ini mengantarkan pada kekerasan simbolis (patriarki) di mana terjadi relasi kuasa yang timpang. Wanita secara sadar tunduk pada norma dan ekspektasi patriarki yang mengungkung kemerdekaannya sejak awal.

2. Bahasa sebagai Alat Kekerasan Psikologis:

Denotasi: Dialog suami yang meminta istri patuh dan menempatkan dirinya sebagai pemimpin.

Konotasi: Penggunaan bahasa ini merepresentasikan kekerasan psikologis. Suami memanipulasi bahasa untuk menegaskan dominasi dan kontrolnya. Dalam kasus ini,  merendahkan harga diri istri, dan menciptakan rasa takut serta ketergantungan.

3. Kekerasan Fisik sebagai Puncak Eskalasi:

Denotasi: Tindakan tamparan yang dilakukan suami.

Konotasi: Kekerasan fisik ini merupakan manifestasi nyata dari kekerasan simbolik dan psikologis yang telah terjadi sebelumnya. Tindakan ini menegaskan kontrol absolut suami dan merampas sepenuhnya kemerdekaan serta hak-hak dasar istri.

4. Pernyataan Tetangga sebagai Kekerasan Sosial:

Denotasi: Pandangan sosial yang tergambar dari pernyataan tetangga.

Konotasi: Hal ini menunjukkan adanya kekerasan sosial, di mana norma dan budaya masyarakat turut menormalkan dan melegitimasi KDRT. Pernyataan tetangga merepresentasikan stigma dan minimnya dukungan bagi korban KDRT, memperparah rasa tertekan dan terisolasi.

Rasanya Saya kurang nyaman sebenarnya menulis contoh ini. Sebagai keluarga yang juga memperaktekkan patriarki,  meski lebih moderat. Setidaknya ini bisa  mencoba menjadi gambaran bagaimana bahasa ini menjadi  pintu masuk siklus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Berawal dari kekerasan, dilanjutkan dengan kekerasan psikologis, dan berujung pada kekerasan fisik. Pandangan sosial yang terinternalisasi dalam budaya dan norma masyarakat turut memperparah situasi, menciptakan lingkaran kekerasan yang sulit dipatahkan. Jika kita caba seret pada memahami KDRT tentu manfaatnya adalah melalui pemahaman yang lebih mendalam mulai dari praktik bahasanya.  Diharapkan upaya pencegahan dan penanganan KDRT dapat dilakukan dengan lebih efektif.

Bagaimana  kalau diskusi ini dibawa ke konteks berbeda.   Misal alam kampus, antara Mahasiswa  dan Dosennya.  Romo Haryatmoko juga memberi ilustrasi menarik bagaimana kekerasan simbolik ini bekerja. Misalnya pada dialog berikut ini.

Mahasiswa: Maaf Pak, saya sudah setor Bab IV Skripsi saya 2 minggu lalu…

Dosen: Terus?

Mahasiswa: Apa sudah diperiksa Pak,

Dosen : memang hanya skripsi saudara  yang saya periksa?

Mahasiswa: Tabe maaf kasian Pak.  Kalau bisa saya mau ujian  semester ini Pak.

Dosen: Terus kalau tidak ujian, saya yang salah?

Mahasiswa: waduh maaf Pak, bukan begitu Pak…

Dosen: Terus..???

Mahasiswa: Maaf Pak, saya yang salah Pak…

Apakah anda dapat berempati pada mahasiswa dalam dialog tersebut?. Bagaimana jika anda dalam situasi demikian. Sebagai mahasiswa,  salahkah anda ketika mempertanyakan perkembangan skripsi anda.  Apakah keliru jika anda bersunguh sungguh menetapkan target menyelesaikan kuliah?. Lantas kenapa dalam kondisi  demikian, mahasiswa harus berada dalam posisi lemah ?.  Inilah contoh kekerasan simbolik disekitar kita.

Lantas bagaimana dengan  TAPERA yang digaungkan pemerintah.  Masih lekat tawa kami  ketika seorang teman mengirim di WAG, Sebuah  meme TAPERA sebagai akronim “Tambah Penderitaan Rakyat”. Apakah ini mengimbangi  makna “Tabungan Perumahan Rakyat”?, sebagaimana definisi yang diutarakan pemerintah?.   Makna TAPERA dari pemerintah bermakna mendorong agar masyarakat memiliki  tabungan kepemilikan rumah dimasa depan. Faktanya perlawanan bahasa dilakukan diantaranya dengan plesetan definisi tersebut yang kira kira artinya “kami tidak setuju”.

Dialog Bang Deny di platform Shorts YouTube dengan akun @jumadilcelebes6366 tersebut, dapat kita kategorikan dalam tema ketidakadilan. Analisis semiotika  membantu kita memaknai komedi Bang Deny sebagai relasi kuasa antara orang miskin dengan si  kaya, pejabat dan rakyat dalam konteks pengambilan cuan dengan uraian:

  • Kesenjangan Sosial: Dialog ini menggugat adanya kesenjangan sosial antara orang miskin dan orang kaya, pejabat dan rakyat.
  • Ketidakadilan: Dialog ini mengkritik ketidakadilan sistemik yang memungkinkan orang berkuasa mudah saja mengambil keuntungan terhadap pihak yang lemah.
  • Satire dan Kritik Sosial: Dialog ini menggunakan satire dan kritik sosial menyuarakan pahitnya realitas ketidakberdayaan tersebut.
  • Simbol dan Makna: Penggunaan kata-kata seperti “merampok”, “bisnis”, “koruptor”, dan “kebijakan” sarat makna dan mengundang refleksi kritis.

Platform Shorts YouTube menjadi media efektif untuk menyebarkan pesan kritis dan satire ini kepada khalayak luas. Seolah ingin membangunkan  masyarakat (jumlah banyak) untuk bersikap atas penguasa (jumlahnya sedikit). Singkat dan mudah sekali menyebarkan ini secara massif. Bagi penyebarnya,  Dialog Bang Deny diharapkan dapat membangkitkan kesadaran masyarakat tentang ketidakadilan sosial yang terjadi. Satire dari kritiknya setidaknya menggelitik saya menulis catatan ini. Jadi ingat, tagline media massa tempat saya tumbuh dulu, SUARA VOKAL ANAK LOKAL. Sayang… arus zaman sudah menggilasnya. ***

  • Bagikan