Agenda Festival Budaya Tua Didemo, Begini Jawaban Dinas Pariwisata

  • Bagikan
Salah seorang orator dari PPRB saat berorasi di Perkantoran Takawa. (Foto: La Ode Ali/SULTRAKINI.COM)

SULTRAKINI.COM: BUTON – Sejumlah masa yang mengatasnamakan Pemuda Peduli Rakyat Buton (PPRB) menggelar aksi demo di Kompleks Perkantoran Takawa, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, Rabu (9/8/2017) sekitar pukul 13.00 Wita. Aksi itu sebagai penolakkan diadakannya Festival Budaya Tua yang kelima kalinya di tahun ini.

“Lebih baik kegiatan festival dihilangkan saja, karena kami menilai tidak memiliki asas manfaat terhadap masyarakat Buton,” teriak La Ovan Momi selaku koordinator Lapangan dalam orasinya.

Menurutnya, festival tidak berkontribusi terhadap perekonomian daerah. Malahan sebaliknya, hanya menghambur-hamburkan anggaran yang seyogianya bisa digunakan untuk pembenahan daerah.

Massa juga menginginkan, adanya pengkajian ulang pelaksanaan festival oleh Pemerintah Daerah Buton. “Perencanaannya tidak tuntas, kami minta benahi dulu dasar-dasarnya agar program ini berjalan terus dan ada nilai ekonominya terhadap masyarakat, jika tidak hanyalah festival Agustus yang tak berarti,” kata orator lainnya.

Setelah berorasi sekitar sejam lamanya, massa sekitar 10 orang itu ditemui Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buton, La Ode Abdul Zainuddin Napa untuk berdialog di salah satu ruangan.

Dalam dialog itu, Zainuddin Napa menjelaskan banyak manfaat yang didapatkan dalam kegiatan itu. Salah satunya Buton semakin dikenal bukan hanya sebagai penghasil aspal tapi dengan keanekragamanbudayanya baik di kanca nasional maupun internasional.

“Pembangunan itu tidak hanya dilihat dari pembangunan fisiknya, tapi non fisik juga, dan ini yang kita lakukan sekarang, selain pembangunan fisik seperti infrastruktur,” terang Zainuddin Napa.

Baca:   Tiga Sekolah Siap UNBK, Dikbud Konut: Tidak Diusulkan

Sedangkan anggaran dalam kegiatan itu lanjut dia, bukan bentuk pemborosan, hanya nol koma sekian persen yang diporsikan dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Buton tiap tahunnya karena sudah menjadi agenda nasional. Dana itu juga berputar di masyarakat yang diberikan kepada siswa yang ikut menari pada festival tersebut dan kebutuhan lainnya oleh sekolah yang berpartisipasi di dalamnya.

“Kan uang itu juga kita kasih ke penari, kan larinya juga di masyarakat, juga kebutuhan lainnya dibutuhkan oleh sekolah untuk kegiatan itu, dan sebagian lagi kita bayarkan kepada artis yang kita undang untuk hibur masyarakat juga,” tambahnya.

Usai berdialog, massa membubarkan unjuk rasa dengan pengawalan ketat dari aparat Polres dan Sat Pol PP Buton.

(Baca juga: Festival Budaya Tua Buton Mengundang Lima Menteri)

Laporan: La Ode Ali

  • Bagikan