Angka Penurunan Stunting di Baubau 15,6 Persen Lebih Rendah dari Provinsi Sultra

  • Bagikan
Plt Wali Kota Baubau, La Ode Ahmad Monianse (Foto: Ist)

SULTRAKINI.COM: BAUBAU – Penurunan stunting di Kota Baubau mencapai 15,6 persen lebih rendah dari Provinsi Sulawesi Tenggara yang mencapai 16,4 persen.

Plt Wali Kota Baubau, La Ode Ahmad Monianse mengatakan, angka ini menjadikan Kota Baubau sebagai salah satu lokus stunting dari 17 kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara.

Pemerintah pusat menargetkan capaian penurunan angka stunting secara nasional pada tahun 2024 sebesar 14 persen, hal ini juga menurun pada pemerintah daerah sehingga Pemerintah Kota Baubau menargetkan capaian penurunan stunting menjadi 14 persen.

“Pada gambaran nasional hari ini kita ada di posisi 27 persen angka stunting di Indonesia, itu artinya 3 sampai 4 kelahiran ada satu yang stunting, ini menjadi sebuah warning kita untuk kita bersama-sama berkolaborasi membuat inovasi dalam upaya percepatan penurunan stunting,” kata Monianse, Selasa (8 Maret 2022).

Monianse mengungkapkan, pandemi Covid-19 menjadi tantangan tersendiri bagi upaya penurunan stunting ini. Di mana pandemi Covid-19 yang telah berlangsung lebih dari dua tahun ini juga telah memberikan dampak di bidang kesehatan dan gizi masyarakat dalam penyediaan pangan yang sangat berpotensi mengancam terhambatnya percepatan penurunan angka stunting di Kota Baubau.

“Stunting ada dua hal yang perlu  kita lakukan bersama yaitu ketersediaan dan keterjangkauan pangan karena ini menyangkut tentang suplai gizi di masa pembentukan dari sejak masih dalam kandungan,” terang Monianse.

Baca:   BKKBN Sultra: Angka Stunting di Buton dan Busel Masih Tinggi

Menurut Monianse, stunting tidak hanya berbicara tentang kesehatan saja tapi jauh lebih luas dari itu yaitu membicarakan tentang masa depan dari negeri karena mempengaruhi kualitas generasi penerus bangsa.

Untuk itu, Monianse mengimbau agar seluruh perangkat daerah segera menemukan inovasi-inovasi dalam upaya pemenuhan gizi masyarakat di masa pandemi utamanya bagi  mereka rentan seperti ibu hamil, lansia, dan anak balita. (C)

Laporan: Aisyah Welina
Editor: Hasrul Tamrin

  • Bagikan