Aset Perbankan di Sultra Tumbuh 11,41 Persen

  • Bagikan
Kepala OJK Sultra, Arjaya Dwi Raya. (Foto: Dok. Sultrakini.com)

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Sulawesi Tenggara melaporkan kinerja industri jasa keuangan sampai posisi Oktober 2021 secara umum tumbuh positif. Hal ini menunjukan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan OJK di masa pandemi berhasil menjaga stabilitas sistem keuangan.

Kinerja positif dari OJK tersebut tercermin dari aset perbankan yang tumbuh sebesar 11,41 persen (yoy) atau jadi Rp 40,298 triliun terdiri dari Rp 39,9 triliun aset bank umum dan Rp 340 miliar aset BPR.

Selanjutnya, dana pihak ketiga tumbuh 8,38 persen (yoy) menjadi Rp 28,711 triliun, kredit perbankan Rp 31,661 triliun dari bank umum Rp 31,4 triliun, dan Rp 7,83 miliar dari BPR dan ini tumbuh 17,86 persen (yoy) dengan kualitas kredit terjaga pada kondisi yang baik.

“Ini artinya permintaan kredit lebih besar daripada DPK yang masuk dan tersedia sehingga ini menandakan ekonomi kita mulai tumbuh, jadi permintaan kredit mulai meningkat dengan rasio non-performing loan sangat terjaga sebesar 2,03 persen masih di bawah treshhold 5 persen, jadi sangat kecil walaupun di tengah pandemi,” jelas Kepala OJK Sultra, Arjaya Dwi Raya, Kamis (16 Desember 2021).

Arjaya menyebutkan, kredit perbankan di Sultra didominasi oleh penyaluran kredit pada sektor pemilikan peralatan rumah tangga lainnya termasuk pinjaman multiguna, yaitu 43,37 persen, disusul sektor perdagangan besar dan eceran 19,88 persen, dan sektor pemilikan rumah tinggal 10,30 persen.

“Jika dilihat dari sisi pertumbuhan secara year on year sektor pemilikan rumah tinggal hanya tumbuh 16,31 persen dan sektor perdagangan besar dan eceran 7,03 persen, sementara kredit multiguna hanya tumbuh 2,83 persen,” ujarnya.

Baca:   OJK Sultra Gelar Kuliah Umum Inklusi Keuangan

Namun berdasarkan data OJK Sultra, pertumbuhan secara year on year yang paling signifikan, yaitu sektor pertambangan dan penggalian tumbuh 1931,45 persen, disusul pertanian, perburuan dan kehutanan 32,15 persen.

Begitupun di bidang pembiayaan, piutang pembiayaan meningkat sebesar 13,28 persen (yoy) menjadi Rp 3,811 triliun. Sedangkan di bidang pasar modal modal, nilai transaksi saham meningkat 66,85 persen menjadi Rp 50,811 milliar dengan jumlah rekening sebanyak 11.940.

“Kondisi pandemi yang semakin menurun memberikan dampak pada perekonomian yang mulai pulih,” tambah Arjaya. (C)

Laporan: Wa Rifin
Editor: Sarini Ido

  • Bagikan