Atasi Karhutla, Aplikasi Asap Digital akan Dipasang di Rawa Gambut Lalolae Koltim

  • Bagikan
Apel kesiapan dalam rangka menghadapi bencana alam kebakaran hutan dan lahan di Koltim. (Foto: Hasrianty/SULTRAKINI.COM)

SULTRAKINI.COM: KOLAKA TIMUR – Gubernur Sulawesi Tenggara, Ali Mazi memimpin Apel Kesiapan dalam rangka menghadapi bencana alam kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kolaka Timur. Salah satu yang disampaikannya adalah akan dipasangnya aplikasi asap digital.

Menurut Gubernur Ali Mazi, wilayah Sultra merupakan salah satu provinsi rawan karhutla, terdapat dua kabupaten sebagai penyumbang terbesar, yakni Bombana dengan lahan savana dan Koltim yang memiliki lahan rawa gambut.

“Olehnya itu, saya menyambut baik dan mengapresiasi atas terselenggaranya apel siaga ini yang menjadi agenda rutin setiap tahun dilaksanakan. Maksud dan tujuan dilaksanakannya apel ini, adalah dalam rangka menyamakan langkah dan menyatukan tekad untuk saling bahu membahu dalam menangani kebakaran hutan dan lahan di Sultra,” ucapnya di Kecamatan Lalolae, Sabtu (10/4/2021).

Ia menjabarkan, jumlah titik panas terdeteksi baik melalui satelit Noa 19 Tera Aqua maupun dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau Lapan, mengalami peningkatan dari 2016 sampai 2019. Tetapi pada 2020 mengalami jumlah penurunan titik hotspot tersebut.

Berdasarkan pantauan satelit SNPP LAapan dengan jumlah titik hotspot yang terdeteksi pada 2016, yakni 40 titik, 2017 naik 95 titik, pada 2018 terdapat 215 titik, 2019 meningkat menjadi 417 titik, sedangkan di 2020 turun hanya 56 titik.

Baca:   KB Sebagai Hak Asasi Manusia

“Untuk 2021 sampai April titik hotspot terdeteksi sejumlah enam titik. Peningkatan titik hotspot ini terjadi di September-Desember berdasarkan SNPP Lapan jumlah titik hotspot pada September 2019 berjumlah 69 titik, Oktober 182 titik, November 127 titik. Berdasarkan satelit SNPP Lapan 2019 Bombana 94 titik, Konawe 64 titik, Konsel 44 titik, Kolaka 23 titik, Koltim 24 titik,” jelasnya.

Sementara luas area terbakar pada 2016-2019, yakni 589,204 hektare (2016); 1920,82 hektare (2017); 2387,56 hektare (2018); 2435,70 hektare (2019); dan 2020 mengalami penurunan luas area terbakar 451,94 hektare.

Berdasarkan informasi BMKG, pada 2021 musim kemarau diprediksi lebih panjang dibanding 2020 dengan curah hujan rendah sehingga kondisi tersebut menyebabkan daun kering, alang-alang, semak-semak, dan lain sebagainya memiliki potensi mudah terbakar.

Gubernur menyebut, karhutla tersebut menyebakan kerugian yang tidak sedikit baik secara ekologi, ekonomi, maupun sosial. Asap yang diakibatkan kebakaran hutan lahan tersebut tidak mengenal batas wilayah dan berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat, khsusnya mereka yang berada dekat dengan lokasi TKP sehingga mengganggu aktivitas masarakat.

Salah satu yang menjadi pertimbangan dilaksanakannya Apel di Koltim, kata dia, dikarenakan setiap tahun terjadi karhutla di Rawa Gambut Lalolae. Seperti pada 2019, jumlah karhutla di titik ini 51 kali dengan luas 942,15 hektare dan asap yang disebabkannya menyebabkan masyarakat yang terdampak terganggu aktivitasnya dan mengalami gangguan pernapasan. Penanggulangan karhutla ini tidak bisa dilaksanakan sendiri, tapi harus semua pihak mulai dari pusat sampai daerah.

Baca:   Dandim 1412 Kolaka: Terorisme sudah Menjadi Ancaman Global

Pengendalian karhutla ini, lanjut gubernur, merupakan program pemerintah pusat dengan arahan Presiden pada Rapat Nasional Penanggulangan Karhutla 22 Februari lalu. Arahannya, yakni mengutamakan pencegahan karhutla infrastruktur pemantauan dan pengawasan harus sampai ke tingkat bawah, mencari solusi permanen, penataan ekosistem gambut, tanggap dan cepat merespon jika terdapat titik api sehingga tidak membesar, dan penegakan hukum yang tegas.

Salah satu tindak lanjut dari arahan presiden, dikatakan Ali Mazi. yakni peluncuran program asap digital atau sistem pengendalian karhutla berbasis digital yang merupakan teknologi pemantauan karhutla. Aplikasi ini, ditetapkan pada desa-desa rawan karhutla secara berulang-ulang guna memaksimalkan hal tersebut, haruslah didukung pihak-pihak terkait, baik pemerintah daerah sampai perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan dan kehutanan.

Pemrpov Sultra juga melakukan pemetaan dan identifikasi terhadap daerah-daerah yang sering terjadi karhutla di Bombana, Konawe Selatan, Konawe, Kolaka, Koltim, dan Konawe Utara. Salah satu titik yang akan dipasang asap digital ini adalah Rawa Gambut Lalolae.

“Mari kita lebih peduli dengan lingkungan kita untuk tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan. Kepada penegak hukum untuk lebih tegas dan kepada penggiat penertiban karhutla tetap semangat dan fokus melakukan pencegahan karhutla,” ucapnya.

Baca:   UMK Sasar Desa Namu Sebagai Desa Wisata Binaan

Usai memimpin apel, Gubernur di dampingi Plt Bupati Koltim dan pejabat lainnya meninjau kesiapan dan kelengkapan penangan karhutla di Rawa Gambut Lalolae.

Terlaksananya Apel kesiapan tersebut, Plt Bupati Koltim semakin optimis jika semua pihak akan bahu-membahu menangani terjadi karhutla di wilayah itu sehingga dapat ditangani lebih dini.

Hadir dalam Apel kesiapan dalam rangka menghadapi bencana alam kebakaran hutan dan lahan Kapolda Sultra, Wakil Kajati Sultra, Danlanal Kendari, Danlaud Haluoleo, Sekda Provinsi Sultra, Bupati Kolaka, dan puluhan pejabat lainnya dari provinsi maupun lingkup Pemda Koltim. (B)

Laporan: Hasrianty
Editor: Sarini Ido

  • Bagikan