Belajar Dari Gempa Lombok

  • Bagikan
Deliana, pemerhati sosial politik.Foto:ist

Lombok Berduka.  Wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Barat ini baru saja diguncang musibah.  Tak tanggung-tanggung gempa  tektonik berkekuatan 7,0 SR bahkan sempat berpotensi tsunami.   Dari laman detik.com,  “Berpotensi terjadi tsunami,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Minggu (5/8/2018).

Parahnya bencana ini bukan kali pertama terjadi.   Belum lama berselang gempa beruntun menggoyang Lombok.  Sebabnya seperti yang dilansir Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Dwikorita Karnawati, “Mengingat episenter atau pusat gempa relatif sama dengan gempa bumi yang telah terjadi pada 29 Juli lalu, maka BMKG menyatakan bahwa gempa bumi ini, yang baru saja terjadi, merupakan gempa bumi utama dari rangkaian gempa bumi sebelumnya, yang merupakan gempa pendahuluan,” (viva.co.id).

Malang tak dapat ditolak.  Korban pun berjatuhan tanpa bisa dicegah.  Dari liputan6.com,

Pagi ini sampai pukul 08.25 Wita, jumlah korban meninggal akibat gempa Lombok sudah mencapai 89 orang,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD NTB Agung Pramuja Senin (6/8/2018).

Memprihatinkan.  Selayaknya segala bantuan baik fisik maupun moril dikerahkan untuk saudara kita di Lombok.  Jangan lupakan untaian doa.  Semoga diangkat segala bencana dan musibah yang menimpa..  Aamiin.

Baca:   Media Sekuler, Dibalik Rusaknya Generasi

Renungan di Balik Petaka Beruntun

Posisi geologis negeri ini  lumrah jadi alasan terjadinya gempa.  Seperti diketahui Indonesia terletak di titik pertemuan tiga lempeng litosfer, yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik. (ilmugeografi. com).  Bila lempeng bergeser maka bumi pun berguncang. Hal ini mudah dibuktikan secara ilmiah.  Namun soal menentukan di mana dan kapan,  semua teori seismologi dibuat bungkam seribu bahasa.  Sebab jawabannya mutlak berpulang pada Allah swt.  Sang Maha Pencipta lagi Maha Berkehendak.

Saatnya Taubat,  Kembali pada Syariat

Pastinya ada pelajaran di balik setiap bala’.   Mustahil Allah zhalim terhadap makhluk-Nya.   Firman Allah, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS Ar Rum:41).  Terkait ayat ini, Abul Aliyah dalam tafsir Ibnu Katsir berkata barang siapa yang berbuat durhaka kepada Allah di bumi berarti dia telah berbuat kerusakan di bumi karena terpeliharanya kelestarian bumi dan langit adalah dengan ketaatan. (ibnukatsironline.com).

Bagaimana dengan kemaksiatan yang ada kini? Korupsi,  riba,  zina hanya segelintir.   Lebih dari itu masih segudang.  Sementara ummahat mukminin Aisyah ra telah menasihati kita sejak berabad lalu.  Seperti yang diungkap Imam Ibnu Qayyim dalam kitab Al-Jawabul Kafi berikut,  Suatu saat Anas bin Malik bersama seseorang lainnya mendatangi Aisyah ra. Orang yang bersama Anas itu bertanya kepada Aisyah: “Wahai Ummul Mukminin jelaskan kepadaku tentang gempa”.

Aisyah menjelaskan, “Jika mereka telah menghalalkan zina, meminum khamar dan memainkan musik. Allah azza wajalla murka di langit-Nya dan berfirman kepada bumi: “guncanglah mereka. Jika mereka taubat dan meninggalkan (dosa), atau jika tidak, Dia akan menghancurkan mereka.

Orang itu bertanya kembali: Wahai Ummul Mukminin, apakah itu azab bagi mereka?

Aisyah menjawab, “Nasehat dan rahmat bagi mukminin. Azab dan kemurkaan bagi yang ingkar.”

Anas berkata: Tidak ada perkataan setelah perkataan Rasul yang paling mendatangkan kegembiraan bagiku melainkan perkataan ini.

Maka taubat mutlak jadi pilihan.  Saatnya  merujuk pada syariat Islam secara total.   Agar tak menyesal kelak di Yaumul Hisab.  Cukuplah kita menaruh prasangka baik kepada Allah Ar-Rahman dengan janji-Nya. “Katakanlah (Wahai Rasulullah), Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS Ali Imran:31).  Sungguh Allah Maha Menepati Janji. Wallaahu a’lam.

Baca:   RUU P-KS Beraksi, Rakyat Bereaksi

 

Wd.  Deli Ana (Pemerhati Sosial)

  • Bagikan