21 Diplomat dari Berbagai Negara Hadiri Perayaan HPS di Konawe

SULTRAKINI.COM: KONAWE – Sebanyak 21 diplomat dari berbagai negara mengikuti diplomatic tour perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-39 di Kampung Sagu Desa Labela, Kecamatan Besulutu, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara ( Sultra) pada Jumat (1/11/2019). Peserta diplomatic tour tersebut, terdiri dari tujuh duta besar negara sahabat, empat wakil dubes dan diplomat, sembilan perwakilan lembaga Internasional, dan satu orang perwakilan universitas asal Jepang.

Dalam sambutannya, Bupati Konawe Kery Saiful Konggoasa menuturkan, pembangunan ketahanan pangan sudah menjadi komitmen dari Pemerintah Daerah Kabupaten Konawe, yakni menjaga ketersediaan pangan, menjaga kestabilan harga pangan, meningkatkan mutu dan kualitas bahan pangan, meningkatkan produksi pangan serta mengatur, dan mengawasi distribusi pangan.

“Kunjungan diplomat di Kampung Sagu Desa Labela sangat strategis dalam rangka memantapkan pembangunan ketahanan pangan daerah dan ketahanan pangan nasional. Khususnya dalam meningkatkan diversifikasi peran sagu sebagai alternatif pengganti makanan pokok selain beras, guna mencapai lumbung pangan pada 2025 serta menjadikan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia pada 2045,” tuturnya.

Ditambahkannya, potensi tanaman sagu di Kabupaten Konawe seluas 3.725 Ha tersebar di Kecamatan Bondoala, Sampara, Meluhu, Lambuya, Puriala, Abuki, Asinua, Latoma, dan Kecamatan Besulutu. Sementara luas lahan pertanaman sagu yang ada di Kampung Sagu Desa Labela Lebih 70 Ha yang tumbuh di antara lembah dan perkampungan warga.

“Luas penanaman Sagu yang saat ini ada di kawasan industri dan demplot sagu hasil dari pengembangan pihak FAO yang menjadi lokasi kunjungan para duta besar negara sahabat seluas 0,75 Ha untuk pertanaman sagu dan 0,25 Ha lokasi pabrik dan pengembangan kegiatan pertanian lainnya seperti kolam ikan dan tanaman pangan serta sayuran Iainnya,” tambahnya.

Peserta diplomatic tour menyaksikan pengerjaan sagu secara tradisional. (Foto: Ulul Azmi/SULTRAKINI.COM)
Peserta diplomatic tour menyaksikan pengerjaan sagu secara tradisional. (Foto: Ulul Azmi/SULTRAKINI.COM)

Kata Bupati Konawe, kawasan Kampung Sagu Desa Labela merupakan proyek bantuan FAO Indonesia yang dimulai tahun 2016-2018, dengan pendampingan agronomis dan pengolahan sagu secara modern dan menghasilkan tepung sagu yang dikelola dengan model kelompok usaha sagu yang bermitra dengan Badan Usaha Milik Desa (BumDes) Desa Labela. Proses produksi tepung di pabrik ini baru berjalan pada Juni 2018 dengan menghasilkan sebanyak sekitar 2,5 ton tepung sagu basah dan 3 ton tepung sagu kering.

“Kita berharap ini bisa terus berkelanjutan, bila perlu dilestarikan dengan mewajibkan kepada setiap calon pengantin pria jika mau menikah harus menanam sagu sebagai mahar. Sagu ini tanaman yang tidak susah tumbuhnya. Tentunya dengan budaya kearifan lokal ini akan makin menambah serta mempertahankan populasi sagu di masa mendatang,” imbuhnya.

Kery minta kepada Kepala Dinas ketahanan Pangan Konawe bersama jajarannya untuk lebih memperluas kawasan Gerakan Budidaya Sagu dan mengelolah pohon sagu atau pohon rumbia ini, sehingga hasilnya lebih baik yaitu produktivitasnya tinggi dan areal pertanamannya lebih luas, demikian juga pengolahan hasilnya supaya diterapkan standar mutu tepung sagu yang berkualitas tinggi hingga bisa dijual tak hanya skala nasional tetapi internasional.

“Saya sebagai Bupati Konawe bersama rakyat Konawe bersyukur dan berterima kasih kepada pemerintah pusat, pihak FAO Indonesia beserta jajarannya, Badan Ketahanan Pangan Pusat Kementerian Pertanian RI, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sultra yang telah memprakarsai kegiatan ini,” pungkasnya.

Laporan: Ulul Azmi

Editor: Habiruddin Daeng

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.