Iklan Clarion

4 Pasar Tradisional Berkonsep Modern di Kendari

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Sebagai ibu kota provinsi, Kendari benar-benar telah menjadi kota jasa. Perekonomian di wilayah ini semakin hidup dengan bertumbuhnya usaha dari berbagai bidang, termasuk perdagangan. Pemerintah kota sejak zaman Asrun sebagai Wali Kota, memperhatikan para pedagang dengan membuatkan fasilitas yang layak.

Beberapa pasar tradisional yang dulunya kumuh dan semrawut, ditata dengan wajah dan konsep lebih modern. Tujuannya, agar pedagang dan pembeli nyaman berjualan maupun melakukan transaksi.

Beberapa pasar yang telah bertransformasi lebih modern dan kini menjadi salah satu kebanggaan warga kota ada empat.

1. Pasar Sentral Kota Lama
Pasar ini berdiri pada tahun 1964 dengan konsep tradisional hingga tahun 2014. Bangunan baru pasar ini dikerjakan sejak tahun 2011 dan diresmikan pada 2014, dengan menelan anggaran Rp122,3 miliar dari APBD murni Kota Kendari. Terdiri dari bangunan tiga lantai, mampu menampung sampai 2 ribu pedagang, dengan 1.030 kios dan 490 lods. Dilengkapi jalan lingkar, tangga eskalator dan lift.

Kesan dari luar pasar ini tampak mewah, padahal dalam pasar isinya pedagang pakaian, hand phone, beras, sayur, pecah belah, ikan, dan aneka kebutuhan lainnya. Termasuk arena permainan anak di lantai tiga.

Tarif sewa lods ukuran 2,5×3 meter sebesar Rp12,5 juta per tahun atau Rp187,5 juta untuk jangka 15 tahun. Sementara ukuran 2,5 x 6 meter, sewanya Rp25 juta per tahun atau Rp375 juta untuk waktu pemakaian 15 tahun.

2. Pasar Baru Wuawua
Proses pembangunan Pasar Wuawua secara bertahap sejak tahun 2011 dengan total anggaran sebesar Rp67 miliar dari APBN 2011 dan 2013 sebesar Rp22,5 miliar. Dari APBD multiyears 2014-2016 sebesar Rp45 miliar, dan realisasi secara kontrak untuk APBN 2011-2013 sebesar Rp20,6 miliar. Sedangkan APBD 2014 sampai 2016 sebesar Rp44,9 miliar.

Wali Kota saat itu, Asrun, mengatakan, pembangunan pasar ini karena prihatin atas musibah kebakaran yang menimpa pedagang tahun 2010.

Daya tampung Pasar Baru Wuawua mencapai 1.487 pedagang, terdiri dari kios berjumlah 748 unit, di lantai satu 256 kios dan lantai dua 496 kios dengan luas 2,5×3 meter persegi. Lods untuk pedagang campuran sejumlah 241 unit dengan ukuran 2×1,5 meter persegi. Lapak untuk pedagang ikan daging dan sayur sejumlah 250 unit, lods kuliner dan lainnya sejumlah 46 unit dengan luas 2,5×3 meter persegi. Lemari etalase sejumlah 202 unit, sehingga secara keseluruhan menampung 1.487 pedagang.

3. Pasar PKL (Paddy’s Market)
Pembangunan pasar ini terinspirasi dari Paddy’s Market di Australia, para Pedagang Kaki Lima (PKL) dikumpulkan dalam satu kawasan khusus berbentuk pasar berkonsep modern. Letaknya di Kelurahan Tobuuha Kecamatan Puuwatu, Kendari.

Para pedagang di sini merupakan hasil relokasi PKL di Jalan Suropati dan Lawata. Di lokasi ini para pedagang berjualan dengan rapi dan teratur dilengkapi berbagai fasilitas, tentu saja dengan harga kaki lima. Di sini juga tersedia sarana bermain anak, serta tempat pembuangan sampah komunal yang dapat diubah menjadi gas metan untuk memenuhi kebutuhan listrik pedagang.

4. Pasar Nambo
Dibangun sejak tahun 2015 di era pemerintahan Asrun-Musaddar sebagai Wali Kota dan Wakil Walikota di periode ke dua. Pembangunannya menghabiskan anggaran sebesar Rp2,5 miliar dari Dana Alokasi Khusus (DAK). Diresmikan Asrun pada November 2016, saat masih menjabat Wali Kota.

Pasar Nambo terletak di Kelurahan Nambo, Kecamatan Nambo, Kota Kendari. Dengan jumlah lapak untuk pedagang ikan dan sayur mayur sebanyak 48 unit, lods untuk pedagang campuran dan sebagainya sebanyak 44. Pasar ini dapat menampung sekitar 92 pedagang. Pasar ini dibangun sebagai tempat representatif bagi pedagang yang selama ini berjualan di pinggir jalan sekitar Nambo. Selain itu, bertujuan untuk menghidupkan ekonomi di sekitar objek wisata Pantai Nambo. Sayangnya hingga kini belum difungsikan para pedagang.

Editor: Gugus Suryaman

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.