SUARA

Abdul Majid Ege: Kades Tangkeno yang Dirindu, Warga Puasa Berjamaah saat Terpilih

Pemilihan Kepala Desa serentak di Kabupaten Bombana, 19 November 2015 lalu, menempatkan Abdul Majid Ege sebagai sosok Kepala Desa yang terpilih secara fantastik. Warga pun menyambutnya dengan puasa berjamaah, sebagai nazar pencalonannya di Desa Tangkeno Kecamatan Kabaena Tengah, Kabupaten Bombana.SULTRAKINI.COM: BOMBANA – Sosok Abdul Majid Ege tidak asing bagi masyarakat se-pulau Kabaena. Bukan sekedar keramahan atau sahajanya yang lekati kepribadiannya, namun pria kelahiran Tangkeno, 6 Agustus 1945 ini dikenal lugas dan adil dalam menata urusan kemaslahatan atau kepentingan publik.Satu hal yang lekang diingatan warga, adalah penerapan prinsip keadilan, yang lahir dari paduan antara tatanan adat, aturan Peraturan Daerah hingga hukum positif.Tidak jarang ditiap putusannya, telorkan pukauan atau sanjungan dari berbagi lapisan masyarakat. Dianugrahi budi pekerti, pengalaman, dan sederet kebijakan yang humanis, mengantarkan alumni SPG Baubau 1970 ini, jadi ketua pemangku adat Kabaena atau dikenal Lembaga Adat Moronene (LAM) Kabaena, dua periode hingga sekarang.26 Januari 2015 lalu, pensiunan Kepala Sekolah di salah satu SD Kabaena ini, resmi dinobatkan jadi Kepala Desa Tangkeno. Majid Ege terpilih usai melewati sebuah pemilihan kepala desa secara demokratis, 19 November 2015 lalu.Menariknya, ketika menyusuri kesertaannya sebagai bursa calon kepala desa. Majid Ege laksana “dipaksa” oleh warganya untuk tampil. Rasa rindu atas tangan dinginnya dalam memimpin, telah membenam kencintaan yang mendalam bagi warga Tangkeno. Disinilah kisah pembeda itu, bila disandingkan dengan perjalanan para calon kepala desa lainnya di Bombana.Mengapa demikian? Sebab sesepuh tokoh Kabaena ini, terlahir jauh dari hasrat atau ambisi untuk menjabat. Kesediaan untuk mencalonkan tempo hari itu, butuh desakan dan permohonan dari berbagai pihak.  Kenapa Majid Ege begitu didamba memimpin? Seorang penulis dan pemerhati budaya Kabaena, Syarul Gelo menyebutkan, kefigurannya sulit terganti di Kabaena. Masyarakat sudah terlanjur merasakan buah tangan kepemimpinannya.”Beliau orang yang paham tentang Kabaena. Mulai dari sejarah, masyarakatnya hingga tatanan adatnya. Mampu menyelaraskan keutamaan agama dan kokohnya adat istiadat setempat. Bijak dalam bertindak, serta ditopang dengan pengalaman,” puji Syarul.Harapan Syarul dan warga Tangkeno itu, berbuah manjur. 26 Januari lalu, suami Ny. Suryati yang dikaruniai empat anak ini, resmi dilantik sebagai kepala desa. Dilantik secara serentak bersama 104 desa lainnya, oleh Bupati Bombana H. Tafdil di Rumbia Ibukota Kabupaten Bombana.Sebuah pengukuhan, menurut Majid Ege, adalah pengabdian demi adat, daerah dan warga Tangkeno. “Masyarakat disana (warga Desa Tangkeno red) sudah menginginkan ini, saya harus wajib dan ikhlas menjalankannya. Jabatan itu sebenarnya tambatan kepercayaan. Dan ketika diberikan amanah, wajib dijalankan dengan tulus dan sejujur-jujurnya,” ujarnya dengan rendah hati saat disambangi.Jadi pemimpin di Desa Tangkeno punya tantangan tersendiri. Banyak pihak menyebutkan, memimpin Tangkeno laksana menahkodai satu Pulau Kabaena. Meski wilayah terotorialnya, terbilang kecil atau hanya berpenduduk sekitar 230 KK.Namun Tangkeno dikenal sebagai desa tua atau desa leluhur bagi warga pulau Kabaena. Sejumlah peninggalan sejarah berupa benteng dan purbakala kerajaan lainnya, masih bersemayam rapi di wilayah desa itu.Terletak di kaki gunung, ketinggian sekitar 1.500 kaki lepas pantai. Wilayah  puncak yang sejuk ini, dinobatkan sebagai Desa wisata oleh Pemerintahan Tafdil-Mashura tahun 2014 lalu. Bagi khalayak ramai, menyebutnya sebagai Negeri diatas awan.Memimpin di desa wisata adat ini, butuh leader yang multi talenta. Tidak cuma jago dalam urusan kepemerintahan. Tapi pemimpin dituntun, untuk mampu memadukan antara tatanan  istiadat yang dianut masyarakatnya secara turun temurun, sebelum Republik ini lahir.Majid Ege diklaim sosok ideal, untuk membina desa yang kerap disambangi para wisatawan asing tersebut. Bukan cuma dara biru atau turunan Mokole (sebutan raja setempat) yang mengalir di dirinya. Namun tangan dingin dan jiwa kepemiminannya terlanjur disuka masyarakat.Tahun 2006 lalu, mantan pendidik itu dinobatkan sebagai pejabat pelaksana Desa Tangkeno. Sebuah pemukiman lama, yang dimekarkan membentuk satu pemerintahan desa. Dua tahun berikutnya, Majid Ege dikukuhkan menjadi Kepala Desa defenitif di Tangkeno tahun 2008-2014.Setelah berakhir masa jabatan defenitifnya itu, diam-diam dirinya ditunjuk kembali sebagai pelaksana desa Tangkeno tahun 2014-2015. “Pasca menjabat tahun 2014 itu, saya sudah niat untuk tidak mencalonkan lagi. Saya lebih menikmati pensiun saya, bersama keluarga dan cucu. Tapi, secara diam-diam (tanpa sepengetahuannya.red) namaku diusulkan lagi, untuk menjabat sebagai pelaksana desa,” tutur Majid Ege,Dengan lapang dada, amanah itu terpaksa diterimanya kembali. “Mau diapa, surat SK waktu itu sudah diteken. Saya tidak tahu, tiba-tiba saya disodorkan. Jujur, saya sangat kaget. Sebab, kenapa saya lagi,” kenangnya.Tidak ingin mengecewakan amanah Pemkab, penyematan itu terpaksa dilakoninya. Dengan asumsi, masa pejabat desa tidaklah lama. “Biarlah, pejabat pelaksana itu kan, cuma setahun. Paling, saya abdikan diri ini hingga 2015. Itulah hitungan saya waktu itu,” ujar Majid Ege.Namun apa yang terjadi, dipenghujung tahun pengabdiannya itu, oleh warga setempat diminta kembali, agar sudi kiranya pimpin Tangkeno lagi. “Disini dilema itu hadir. Sebab usia saya ini sudah mencapai 70 tahun. Sudah saatnya menikmati masa tua. Namun desakan permintaan itu, datang silih berganti. Saya diminta mati-matian agar mencalonkan lagi,” ujarnya.Bukan cuma warga lokal Tangkeno. Namun diluar desa itupun, punya harapan yang sama. “Katanya demi masa depan Tangkeno. Baru, permintaan itu bukan cuma warga di Pulau Kabaena. Tapi di ranah rantau pun, ikut menitip pesan yang sama,” jelasnya.Lama menimbang, antara keinginan untuk istirahat dengan hasrat warganya. Figur yang selalu rendah hati dan tidak suka mengecewakan orang banyak ini, akhirnya menerima lamaran pencalonan tersebut.Fantastiknya, sekedar nyatakan kesediaan untuk siap calonkan diri, langsung disambut sujud syukur oleh warga Kabaena. Bahkan ada yang puasa berjamaah sebagai nazar keikut sertaan Majid Ege sebagai calon kepala Desa.Tidak cuma itu, pasca terpilih. Wargapun menaburkan beras sebagai rasa syukur. Proses penaburan, merupakan tradisi adat Kabaena secara turun temurun sebagai simbol kebahagiaan atas anugrah dari sang khalik    Kisah kepala desa Tangkeno dalam menapak pucuk pimpinan Desa, layak dijadikan tauladan bagi bangsa ini. Sebab tidak banyak figur di Republik ini, lahir dari tangisan atau desakan rindu oleh konstituennya. Memimpin dengan ikhlas tidak disusupi oleh ego atau hasrat ingin berkuasa. (*)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.