Anak-anak di Binongko Dilatih Tanggap Bencana

SULTRAKINI.COM: WAKATOBI – Sejumlah anak-anak di Pulau Binongko, Kabupaten Wakatobi mendapatkan pendidikan mitigasi bencana dari Komunitas Remaja Sadar Bencana, yang dibentuk tim Aksi FIK Universitas Indonesia bekerja sama dengan komunitas anak pulau.

Siswa SDN 1 Rukuwa Kecamatan Binongko mendapatkan pendidikan mitigasi bencana dari Komunitas Remaja Sadar Bencana yang beranggotakan siswa SMA di pulau tersebut pada Sabtu, 27 Juli 2019. Komunitas ini berada di bawah naungan komunitas anak pulau, sehingga semua kegiatannya terpantau oleh komunitas anak pulau.

Ketua Komunitas Remaja Sadar Bencana, Hikmal Akbar, mengatakan pendidikan mitigasi bencana diberikan agar anak-anak mengenalkan gerakan sadar bencana dan tanggap ketika terjadi bencana. Anak-anak juga dilatih kemampuannya menghadapi gempa bumi dan penggunakan jalur evakuasi saat bencana.

“Kita harapkan dapat memperkenalkan mitigasi bencana agar lebih sadar dan tanggap sedini mungkin dengan bahaya bencana yang sewaktu-waktu terjadi,” terang Hikmal Akbar dalam keterangan tertulisnya, Minggu (28/7/2019).

Pendidikan ini dinilai penting, lanjutnya karena Binongko merupakan salah satu kepulauan di Kabupaten Wakatobi dengan letak geografis paling tenggara pulau Sulawesi, tepatnya di laut banda yang merupakan wilayah berpotensi bencana alam.

“Kadang masyarakat merasakan terjadinya gempa bumi namun dengan kekuatan yang lemah. Oleh karena itu peran dari Komunitas Remaja Sadar Bencana ini sangat diperlukan, terutama meminimalisir jumlah korban jiwa,” terangnya.

Komunitas Remaja Sadar Bencana masih fokus pada pengenalan mitigasi bencana di kalangan remaja maupun anak-anak di Pulau Binongko. Ke depan, agenda ini menyasar semua elemen masyarakat hingga kerja sama lintas sektor di kabupaten tersebut dengan tujuan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bahaya bencana.

Terkait pendidikan mitigasi bencana, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI telah meminta pemerintah daerah menggalakkan pendidikan tersebut kepada peserta didik, agar mengurangi dampak dari setiap bencana.

Pendidikan mitigasi bencana bisa diberikan dengan melihat potensi bencana di wilayah masing-masing.

Kemendikbud juga menyatakan, pendidikan ini bisa melibatkan relawan tanggap darurat bencana dari dinas sosial sebagai mentor. Sementara materi pendidikannya tidak harus masuk dalam mata pelajaran, pembelajaran di luar dari mata pelajaran sekolah bisa diberikan kepada peserta didik dengan metode yang menyenangkan agar mudah dipahami dan diterapkan.

Laporan: Amran Mustar Ode
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.