Anto, Si Tukang Ojek Gabah dari Koltim, Bocah Putus Sekolah Demi Rupiah

SULTRAKINI.COM: PR atau lebih akrab disapa Anto memilih menarik gas motor tua hasil modifikasi, dibandingkan melanjutkan pendidikan di bangku sekolah. Bocah 12 tahun ini lebih memilih mencari pundi-pundi rupiah sebagai tukang ojek gabah yang memuat hasil panen petani di Kolaka Timur (Koltim), Sulawesi Tenggara.

Berat gabah lebih dari 100 kilogram tak membuat Anto menyerah menyeberangi sawah menggunakan motor tua modifikasi itu. Tubuh mungilnya nyaris tak terlihat saat ia mulai menarik taksi, sebutan ojek gabah oleh warga setempat.

Warga Desa Tumbudadio, Kecamatan Tirawuta, Kabupaten Kolaka Timur ini mengaku lebih mengukai bekerja membantu orangtuanya dari pada pergi sekolah.

“Saya lebih suka pergi ojek gabah (mataksi) dapat uang buat jajan dan membeli pakaian. Saya malas ke sekolah, saya sering tidak naik kelas dan kurang ajar sama guru dan kepalah sekolah, akhirnya saya takut ke sekolah,” ucap Anto, Selasa (15/102019).

Uang yang dihasilkan dari kerja kerasnya itu memang bukanlah jumlah sedikit. Berbekal motor tua modifikasi, Anto bisa menghasilkan Rp 100-200 ribu rupiah perhari. Hal inilah yang membuatnya tergiur untuk bekerja dibandingkan bersekolah.

Hasil keringat bocah yang sempat duduk di kelas empat SD ini ditabungnya, ada juga ia diberikan kepada orangtuanya.

“Saya dapat uang satu hari itu kadang 100 sampai 200 ribu, uangnya saya tabung, dikasih orangtua,” ujarnya.

Anto merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Ayahnya hanyalah buruh tani sedang ibunya seorang ibu rumah tangga.

Diakuinya, pilihan sebagai buruh taksi gabah tak dilarang orangtuanya. Hal itu atas kemauannya sendiri untuk bekerja. Bahkan dia meminta ke ayahnya diberikan motor untuk bekerja.

“Tidak pernah suruh dia pergi mataksi, itu kemauanya sendiri, disuruh juga pergi sekolah tidak mau,” jelas orangtua Anto, Rudding, Selasa (15/102019).

Laporan: Riswan
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.