Apa Itu Iron Dome Milik Israel Penangkis Roket Hamas?

SULTRAKINI.COM: Iron Dome menjadi kunci Israel dalam menangkis serangan ribuan roket yang gencar dilakukan Hamas dari kawasan Gaza. Iron Dome atau kubah besi merupakan sistem pertahanan udara berbasis di darat dan berfungsi mengintervensi roket dan artileri jarak dekat. Seperti apakah Iron Dome?

Dilansir dari Eurasian Times, Iron Dome adalah salah satu sistem pertahanan udara tersukses di dunia dengan tingkat keberhasilan lebih dari 90 persen. The Jerusalem Post melaporkan bahwa sistem tersebut menembak jatuh 90 persen roket yang diluncurkan dari Gaza yang akan mendarat di daerah berpenduduk Israel.

Antirudal. (Jack GUEZ/AFP)

Cara Kerja Iron Dome Israel

Sistem pertahanan ini bekerja dengan menggunakan rudal dan teknologi radar. Di mana radar akan membaca objek yang masuk, dalam hal ini adalah roket, informasi diproses. Kemudian, sistem akan mengetahui berbagai informasi mengenai objek, terutama soal kecepatan dan lintasan. Setelah itu rudal penangkal akan dikirim untuk mencegatnya dengan meledakkan muatan di dekat objek, sehingga menghancurkan rudal di udara.

Variabel lain, seperti kondisi atmosfer dan pola cuaca juga diperhitungkan sebelum rudal penangkal diluncurkan.

Menurut Middle East Eye, Iron Dome milik Israel dikhususkan untuk ancaman jarak pendek di darat dan laut. Sebab Iron Dome hanya dapat mendeteksi ancaman yang masuk antara empat dan 70 kilometer jauhnya.

Keunggulan

Dikutip dari Missile Threat, sistem ini berisi tiga elemen utama, yakni ELM 2084 Multmission Radar (MMR), battle management and weapon control system (BMC), dan unit penembakan yang dilengkapi senjata roket pencegat Tamir.

Iron Dome yang memiliki roda dan dapat berpindah tempat mampu mendeteksi serangan roket dari jarak 4 hingga 70 kilometer, kemudian meluncurkan roket pencegat Tamir yang akan menghancurkan roket penyerang di udara. Serta dapat membedakan antara roket yang mengancam wilayah populasi dan yang akan jatuh tanpa berpotensi terlalu membahayakan.

Iron Dome mampu mendeteksi, menilai, dan mencegat berbagai target jarak pendek seperti roket, artileri, dan mortir. Iron Dome juga mampu beroperasi secara efektif pada siang atau malam, serta dalam semua kondisi cuaca ekstrem.

Iron Dome telah menghalau lebih dari 1.500 target antara 2011 hingga April 2016. Selama konflik dengan Hamas, pejabat Israel mengklaim bahwa Iron Dome mencegah 85 persen dari 400 roket yang ditembakkan dari Jalur Gaza yang diprediksi ditargetkan ke populasi sipil.

Kelemahan

Sistem pertahanan udara Iron Dome milik Israel merupakan salah satu sistem pertahanan tercanggih di dunia saat ini. Walaupun demikian, Iron Dome bukan tanpa kelemahan.

Terbaru misalnya, Iron Dome sempat kewalahan menghalau serbuan banyak roket yang diluncurkan oleh Hamas. Beberapa roket Hamas bahkan menembus sistem persenjataan itu dan akhirnya masuk dan merusak sejumlah bangunan di Israel, serta menyebabkan korban.

Melansir Forbes, Iron Dome hanya mampu mengatasi roket dalam jumlah tertentu. Jika jumlah ini terlampaui, maka roket yang lain akan masuk.

Selain itu, pasokan rudal Tamir terbatas dan harganya mahal. Sedangkan Hamas dilaporkan telah menimbun ribuan rudal Qassam dan senjata lainnya. Terkadang Iron Dome meluncurkan dua rudal melawan satu roket untuk memastikan intersepsi.

Tamir adalah rudal seberat 200 pon yang memiliki jangkauan hingga 40 kilometer. Satu buah rudal Tamir diperkirakan US$20 ribu atau sekitar Rp 285 juta hingga US$100 ribu atau Rp 1,4 miliar (kurs Rp14.284).

Sedangkan Qassam adalah roket buatan Hamas. Roket itu diproduksi secara lokal, komponen utamanya adalah bodi, yang merupakan pipa panjang baja atau aluminium dengan sirip dilas di atasnya.

Qassam hanya memiliki jangkauan dua mil dan harganya hanya beberapa ratus dolar. Qassam umumnya ditembakkan dalam salvos. Mereka sangat tidak akurat dan hanya dapat ditembakkan ke arah target secara umum.

Pada 2014, Iron Dome juga kewalahan ketika Hamas berusaha untuk membanjiri Iron Dome dengan peluncuran rudal yang terkoordinasi, dan meminta sekutu untuk menembakkan roket dari Lebanon, Suriah, dan Sinai, memaksa Iron Dome untuk menutupi area yang lebih luas.

Baru-baru ini misalnya, Hamas tampak sengaja membanjiri sistem dengan lebih banyak roket daripada sebelumnya. Pada 12 Mei 2020, IDF mengklaim bahwa 850 roket Hamas telah ditembakkan sejak dimulainya eskalasi terbaru.

Berbahaya Buat Operator yang Mengoperasikannya

Di balik ketangguhan Iron Dome, sistem ini ternyata berbahaya bagi operator yang mengoperasikannya.

Misalnya mantan tentara Israel yang pernah mengajukan gugatan class action terhadap Kementerian Pertahanan Israel pada April 2021. Mereka menyebut dirinya sebagai korban dan menderita kanker karena waktu yang dihabiskan untuk mengoperasikan Iron Dome.

Pasukan Israel menyebut sistem itu dengan julukan ‘pemanggang roti’ dan membandingkan paparan radar sistem dengan paparan radiasi yang ditemukan di dalam microwave.

Mantan operator Iron Dome Jonathan Haimovich menjelaskan ketika Anda berada di dekat radar, kita akan benar merasakan tubuh mendidih dari dalam.

“Jika Anda mencoba membayangkan apa yang terjadi pada makanan ketika berada di microwave, itu seperti itu. Anda merasakan panas datang dalam gelombang,” ucapnya, Kamis (20/5/2021), di lansir dari cnnindonesia.

Setidaknya 10 tentara berusia 20an dan 30-an tahun menyalahkan diagnosis kanker sebab telah mengoperasikan sistem Iron Dome.

Namun para pejabat Israel menolak klaim itu lantaran tidak sependapat dan tidak ada hubungan antara sistem Iron Dome dan penyebab kanker.

Saat ini, Israel memiliki 10 unit Iron Dome, setiap Iron Dome terdiri dari tiga hingga empat peluncur stasioner, 20 rudal Tamir, dan radar medan perang. Harga satu unit Iron Dome diperkirakan mencapai US$100 juta atau Rp1,4 triliun.

Sumber: CNNIndonesia
Laporan: Al iksan
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.