Arsitek itu Bernama La Ulu

Oleh: La Ode Rauda Manarfa

Arsitek itu bernama La Ulu dan namanya di absensi sekolah adalah Abdul Mansyur. Tapi di Bogor saya lebih sering menyapanya Mas Ulu biar sesuai dengan tanah yang sedang kami pijak.

Ya, kami sama-sama menimba ilmu di Institut Pertanian Bogor, dan bulan lalu adalah masa di mana ia diwisuda, memakai toga sebagai tanda sahnya ia menyandang gelar magister.

Ia seorang yang berpendidikan unik. Pelajaran tingkat menengah atasnya dituntaskannya di sekolah pendidikan keperawatan, pendidikan strata satunya dituntaskannya pada program studi ilmu tanah di Unhalu (sekarang UHO) Kendari, sementara pendidikan strata duanya diselesaikannya pada program studi arsitektur lanskap IPB.

Dia lahir, besar, dan tinggal di dalam kawasan Benteng Keraton Buton. Ia seorang pegawai negeri di Kabupaten Buton Utara yang tiba-tiba saja memiliki keinginan untuk kuliah di IPB.

Maka bagaimana bisa keinginannya untuk menuntut ilmu di Bogor terbentuk? Semua bermula dari teguran halus mantan dosennya saat kuliah S1 masa lampau di Kendari. Wakti itu ia mewakil Kabupaten Buton Utara mempresentasekan kajian Tata Ruang Buton Utara di hadapan Gubernur Sulawesi Tenggara. Presentase berjalan baik dan mendapat apresiasi kagum dari Pak Nur Alam, gubernur yang kini telah non aktif.

Namun tidak demikian dengan mantan dosennya, ia hadir sebagai ilmuwan yang diundang oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dalam mengawal jalannya presentase, memberi masukan demi sempurnanya rencana pembangunan di Sultra.

Sebuah teguran halus menghampirinya di sela sesi istrahat,  “.. dokumen tata ruang kamu masih ada kurangnya, butuh pertimbangan lanskap..”.

Lanskap, kata yang kemudian diketikannya pada mesin pencarian google. Hingga memperkenalkannya pada Program Studi Arsitektur Lanskap IPB.

Sadar dirinya berilmu kurang dan tidak ingin jadi bulan-bulanan mantan dosennya dulu semasa kuliah di Unhalu apabila nanti bertemu kembali dalam forum serupa pada masa-masa yang akan datang, maka tekad bulat ditetapkannya untuk kuliah di IPB.

Pengajuannya untuk menutupi biaya pendidikan semester di IPB mendapat penolakan dari Pemerintah Kabupaten Buton Utara dengan balutan ketiadaan respon jawaban yang jelas.

Gadai SK dan sisihan bantuan keluarganyalah yang menjadi andalan utamanya bertahan hidup di Bogor selama 4 tahun.

Rutinitas kuliah, analisis jurnal dan buku, dan presentase makalah menjadi kesehariannya. Hingga harus berhadap-hadapan dengan tingginya resiko penyakit hepatitis A dan B, sebuah penyakit endemik di kampus IPB setiap tahunnya jelang ujian semester genap.

Seringkali ia harus pulang malam dari kampus, setelah mengikuti sesi kelas bersama dosen dan teman-teman sekelasnya. Ia juga mulai mengenal teknik tertidur di depan laptop, yakni cara istrahat khas mahasiswa IPB yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya hingga tidak lagi memiliki waktu yang cukup untuk tidur selama 6 – 8 jam sehari.

Perjuangannya masih berlanjut ketika ia memasuki masa penelitian, sebuah tekanan dari dosen mengharuskannya meneliti sesuatu yang unik dari lokasi yang disodorkannya. 

Usaha yang keras mulai menunjukan hasil, akhirnya ia menemukan sesuatu yang mengagetkan. Ya, arsitek itu menemukan pola nama Muhammad pada batu-batu yang tersusun mengelilingi Benteng Keraton Buton.

Ia membacanya melalui sudut pandang yang ia peroleh sebagai hasil belajar keras di IPB.

Pola nama Muhammad terbentang sepanjang beberapa ratus meter dari kawasan Jara Yijo hingga ke sebuah Lawa dan Bhaluara di sisi Timur Benteng Keraton.

“Ulu, yang kau temukan itu bisa jadi sebuah kaligrafi terbesar di dunia. Ini bisa jadi penemuan paling fenomenal abad ini..,” ucapku ketika ia memaparkan hasil kajiannya padaku.

Ia lalu menjawabku “Bisa jadi Rauda, tapi masalahnya ada yang bilangkan penelitianku merupakan hasil manipulasi, bagaimana ini?”

“Yaa.. tidak usah kau tanggapi kecuali jika dia bisa hadirkan bukti ilmiah kalau penemuanmu ini manipulasi,” jawabku.

Saya melihat penemuannya La Ulu ini sangatlah luar biasa. Bukannya hiperbola, inilah kenyataan. Pandangan yang mendominasi tentang Benteng Keraton Buton adalah Pola Telur dan Pola Kapal / Perahu. Pola nama Muhammad sontak memporak-porandakan pola yang selama ini tersemat erat pada benteng.

Saya lalu teringat tradisi lisan yang dilestarikan oleh warga Buton melalui kata-kata Wolio Siy Amaidhii-Dhii Maka Naile Naepua Abhongka-Bhongka Tdunia yang artinya Wolio (Buton) ini kecil tetapi suatu hari nanti akan mengguncang / menggetarkan dunia, seketika saya terhenyak.

Apakah penemuannya La Ulu merupakan sesuatu telah dinubuatkan oleh Orang-Orang Tua Dulu di tanah Buton-kah ?. Ini akhir zaman, saya kira memang sudah saatnya rahasia demi rahasia kebesaran Tanah Buton terungkap.

Perasaan yang sulit saya gambarkan ketika menyadari kalau saya mengikuti lahirnya penemuannya ini.

Sebagian dari Tesisnya yang mengungkap pola Muhammad di Benteng Keraton Buton tengah digodognya untuk dipublikasikannya di Jurnal Internasional Bereputasi, saya pikir inilah langkah awal Wolio Bhongka-Bhongka Tdunia.

Arsitek itu bernama La Ulu, kini ia telah pulang ke Baubau, hendak membawa hasil kajian lainnya yang ia lakukan bersama seorang doktor yang konsen dengan artefak dan bentang alam yang berciri Islam. “Ada temuan baruku yang tidak kalah hebatnya dengan pola nama Muhammad pada Benteng Keraton Buton,” ungkapnya.

Temuan keduanya masih dalam bentuk naskah jurnal yang juga akan dipublikasikannya di Jurnal Internasional Bereputasi.

Dosen-dosennya di IPB jatuh hati pada analisisnya hingga seorang dosen senior lingkup ilmunya di IPB memintanya untuk pindah ke IPB sebagai Dosen Perguruan Tinggi Terbaik nomor 3 di Negeri ini.

Tapi alasan kecintaan pada kedua orang tuanya yang telah sepuh dan kesahajaan hidup di Buton tanah kelahirannya membuatnya menolak tawaran pekerjaan tersebut.

“Ulu, terima saja tawaran jadi dosen di IPB, kan kamu bisa pulang naik pesawat kalau mau balik ke Baubau !” kataku.

“Tidak Laidha, saya mau abdikan diriku dan ilmuku untuk Tana Wolio” jawabnya. Saya terhenyak idealismenya tinggi.

Teringat tahun lalu kami berdua menyusuri emperan ruang kuliah di Universitas Indonesia. Waktu itu kami mencari seorang Professor di Program Studi Arkeologi. Kami ingin jadi provokator hari itu. Hendak menyebar isu Benteng Keraton Buton sebagai National Heritage layak jadi lokasi penelitian arkeologi UI setelah Candi Borobudur dan situs Gunung Padang.

Ah, kami ditolak. Sang Profesor yang kami temui mengungkapkan kalau ada hambatan dana penelitian yang memisahkan langkah kakinya dari Depok ke Buton. Selain itu pula penelitian arkeologi UI sedang berfokus pada situs purbakala di pulau Sumatera. Provokasi kami menemui kegagalan hingga kami pulang dengan kecewa.

Pada kesempatan lain kami berkunjung ke Museum Nasional yang terletak di depan Monumen Nasional Jakarta. Kami kagum dengan ribuan koleksi artefak di sana, kami juga sedih karena satu-satunya benda dari Buton hanya diwakili oleh secarik kain yang disebut “Kampua“, kelak mempelopori lahirnya mata uang kertas di negeri ini. Kami berdua sepakat kalau maket Benteng Keraton Buton harus hadir mendampingi mata uang Kampua di Museum Nasional. Agar orang-orang tahu kalau di Indonesia, kalau di pulau Buton, kalau di Kota Baubau ada Benteng Terluas Di Dunia Dengan Kaligrafi Nama Muhammad Terbesar Di Dunia.

Selain itu pula kami ingin ada miniatur Istana Sultan Buton yang disebut Malige untuk menemani miniatur-miniatur rumah adat suku-suku lainnya di sana.

Keinginan tinggalah keinginan, entah kapan dapat terwujud. Kini La Ulu telah pulang ke Buton dan akan kembali ke institusi asalnya di Buton Utara.

Gelora, 27 Agustus 2017

*Penulis adalah dosen di Unidayan Baubau, saat ini sedang tugas belajar S3 di IPB. Email: [email protected], Hp: 085656499419

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.