Awal Tahun 2021 Nilai Tukar Petani di Sultra Menurun, Berikut Komoditi Pemicunya

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan pemantauan harga-harga di perdesaan Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Januari 2021, dan tercatat Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami penurunan sebesar 0,29 persen dibanding bulan Desember 2020 yaitu dari 97,28 menjadi 97,00.

Kepala BPS Sultra, Agnes Widiastuti, mengatakan NTP Januari 2021 mengalami penurunan disebabkan dua dari dari lima subsektor yang membangun NTP Sultra mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu subsektor tanaman pangan sebesar 0,66 persen, dan subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,69 persen. 

“Sedangkan tiga subsektor lainnya mengalami kenaikan yaitu subsektor hortikultura sebesar 0,24 persen, subsketor peternakan sebesar -1,19 (m-to-m) persen, dan subsektor perikanan sebesar 0,09 persen,” ujar Agnes, Kamis (4/2/2021).

“NTP dipedesaan menurun 0,29 persen dan pada Januari 2021 Sultra juga tercatat mengalami deflasi perdesaan sebesar 0,26 persen,” sambungnya.

Agnes menjelaskan terjadinya deflasi pedesaan disebabkan karena adanya penurunan indeks harga pada subkelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,44 persen; subkelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,05 persen.

“Disusul turunnya indeks harga pada subkelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,12 persen; subkelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,05 persen; subkelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,14 persen,” urainya.

Kantor Bulog Raha

Kemudian, Agnes juga menyebutkan NTP menurut subsektor yang mengalami penurunan diantaranya;

1. NTP Subsektor Tanaman Pangan (NTPP), tercatat pada Januari 2021 dibandingkan Desember 2020, mengalami penurunan sebesar 0,66 persen. Indeks harga yang diterima petani turun sebesar 0,57 persen sedangkan pada indeks harga yang dibayar petani naik sebesar 0,09 persen. Hal ini yang menyebabkan turunnya NTP subsektor tanaman pangan.

“Penurunan Indeks harga yang diterima petani disebabkan turunnya indeks harga subkelompok padi sebesar 0,04 persen pada harga komoditas gabah sebesar 0,04 persen dan subkelompok palawija sebesar 2,13 persen pada harga komoditas kacang sebesar 0,36 persen, komoditas ketela pohon sebesar 5,12 persen, dan ketela rambat sebesar 2,15 persen,” ungkapnya 

2. NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) pada Januari 2021 mengalami penurunan sebesar 0,69 persen. Hal ini disebabkan indeks harga yang diterima petani mengalami penurunan sebesar 0,87 persen dan kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,18 persen. 

Turunnya indeks harga yang diterima petani disebabkan oleh turunnya indeks harga subkelompok tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,87 persen akibat turunnya harga beberapa komoditas diantaranya adalah kopi sebesar 0,53 persen; pala biji 14,50 persen; biji jambu mete 6,65 persen; kemiri 1,75 persen; pinang 3,28 persen; dan nilam 0,74 persen. 

“Sedangkan naiknya indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh turunnya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,26 persen,” pungkasnya. (C)

Laporan: Wa Rifin
Editor: Hasrul Tamrin

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.