BALADA CINTA PRAJURIT

Cerpen oleh FRISA SEHAR

PAGI itu, cuaca Kota Baubau, tempat Odes menempuh pendidikan SMA, cukup cerah. Suasana kota tidak banyak berubah dengan saat ia tinggalkan tiga tahun lalu. Saat tamat dari kelas III A.2.2. Patung Murhum di depan pelabuhan masih berdiri kokoh di atas landasan bak kue tulban.

Pagi itu, ia datang ke tempat sekolahnya dulu. Di Jalan MH Thamrin. Jantung Kota Baubau. Tujuannya untuk bersilaturahmi dengan mantan guru-gurunya di sana. Ketika Odes memasuki pintu gerbang sekolah, pikirannya bercamuk, menerawang pada kisah-kasih saat masih memakai baju putih abu-abu.

Bayangan Dhare, gadis rambut panjang yang setia menemaninya berjalan kaki setiap pulang sekolah kembali muncul, melintas dipikirannya

Tiga tahun lalu, perasaan Odes senantiasa berbunga-bunga, setiap pulang sekolah. Ia dan Dhare, kadang juga ditemani Najid dan Roma (Ruhamah –maksudnya) selalu berberangan.

Di situ, tanpa sepengetahuan Dhare, Odes selalu curi pandang. Sambil bertekad dalam hatinya “Tunggu, suatu saat aku akan melamarmu. Tapi saya harus jadi tentara dulu,” begitulah selalu Odes berjanji di dalam hatinya.

Tanpa ia sadari, sebenarnya Dhare juga ikut memperhatikan segala gerak-gerik Odes. Buktinya semua property Odes di hafal mati oleh Dhares. Mulai dari dompet lipat bermotif loreng, sepatu hitam ala ala militer, hingga sampul buku Odes yang bergambar bintang film Rano Karno bertuliskan “Ranjau-ranjau Cinta” hingga kini masih melekat di ingatan Dhare.

Hanya memang pada saat itu keduanya masih lugu. Akhirnya perasaan cinta mereka hanya disimpan di ruang rindu hati masing-masing. Tanpa ada yang berani mengungkapkan. Terutama Odes sebagai pejantan.

***

“Selamat siang pak,” sapa seseorang membuyarkan lamuman  Odes. Suara menyapa itu masih melekat di telinga Odes, kendati sudah tiga tahun tidak pernah lagi didengarnya. Dia adalah salah seorang mantan gurunya di sekolah ini.

“Siang juga pak,” jawab Odes singkat.

“Oh ya, mau cari siapa pak tentara,” sambung sang guru.

“Maaf pak. Saya Odes. Mantan murid bapak yang tamat tiga tahun lalu. Saya ke sini sekadar menyambung silaturahmi dengan bapak dan ibu guru saya,” ujar Odes sambil menjulurkan jabat tangannya.

Sang guru kemudian, menyambutnya sambil menatap Odes. Sekejap antara guru dan Odes sudah akrab.

“Hayoo ikut saya ke kantor dewan guru,” sambung guru itu.

Odes dengan langkah tegap, mengikuti arah kaki sang guru. Dalam perjalanan itu, dia pun sempat melirik-lirik siswa-siswi yang lagi istrahat.

Di ruang dewan guru, Odes bertemu dengan sejumlah guru lainnya, seperti Pak Yusuf dan ibu Sartini. Ibu guru biologi yang saat itu suka dicandai oleh siswa laki-laki, teman-teman Odes. Soalnya dia guru baru dan masih gadis. Kulitnya putih, roknya pun agak pendek. Busana kebanyakan tahun 80-an.

Guru dan kepala sekolah ikut bangga melihat Odes yang sudah menjadi tentara.  Odes pun diminta untuk ikut berpidato pada apel pulang sekolah. “Agar adik-adik kelas Pak Odes ikut termotivasi belajarnya, supaya bisa juga menjadi tentara,” pinta kepala sekolah.

Odes menyanggupi. Di hadapan ratusan siswa-siswi itu Odes pidato dengan retorika dan semangat juang 45. Masih panas-panasnya menjadi tentara. Baju loreng yang dikenakan pun belum lama dipakai. Garis-garis lorengnya masih sangat kuat. Baru sekali dicuci. Sepatunya pun begitu. Belum ada debunya. Apalagi habis dismir.

Odes memotivasi. Di hadapan siswa-siswi, ia bercerita bahwa sesuatu yang menjadi harapan harus dikejar dengan serius. “Saya sejak di bangku SMA seperti adik-adik, tiga tahun lalu sudah membayangkan untuk menjadi seorang prajurit,” kata Odes.

“Harapan itu kemudian saya kejar. Saya pergi merantau ke Ambon untuk mendaftar menjadi tentara. Dan Alhamdulillah, berkat doa dan bimbingan guru-guru kita di sini juga semua cita-cita itu dikabulkan oleh Allah SWT,” ujar Odes disambut riuh tepuk tangan guru dan siswa peserta apel.

Seperti biasa. Di SMA 1 ini banyak siswi cantik. Tetapi Odes tak bergeming. Ia hanya terobsesi dengan Dhare, si rambut panjang yang banyak menemani langkahnya tiga tahun lalu.

Usai apel sekolah. Odes kemudian minta izin pada kepala sekolah untuk melihat-lihat ruang belajar. Terutama beberapa kelas yang ditempatinya saat masih sekolah di situ.

Pertama, ia melihat kelas ujung yang menyatu dengan bangunan ruang kepala sekolah dan ruang guru. Di samping kelas itu ada ruang guru BP.

Di kelas ini. Odes kembali menghayalkan ulah teman-temannya semasa kelas dua. Berarti empat tahun yang lalu. Di sana ada “kepala suku”. Namanya Jumin. Biasa memimpin “pergerakan” anak laki-laki, terutama lompat pagar dan sembunyi bersama di balik tembok ketika tidak ikut upacara bendera setiap Senin pagi.

Suatu ketika Jumin mengunci pintu kelas, yang masih ada beberapa siswi di dalamnya. Saat itu di luar kelas, Jumin ditemani Rio dan Anto. Dua siswa binaan khusus kepala suku, tentunya.

Lalu, muncul ide Rio, untuk “menolong”. Ia ke jendela belakang kelas, lalu meminta salah satu siswi yang terkunci untuk keluar lewat jendela. Rita, siswi yang rambutnya agak ibo dengan tahi lalat menghiasi dagu, menyanggupi. Ia menginjak bangku lalu naik ke jendela. Di luar jendela Rio sudah siap menyambut. Terjadilah adegan seperti di film-film India, tapi tidak ada bunganya. Rio menggendong Rita menurunkannya dari jendela.

Rupanya adegan ini, menjadi petaka bagi Rio. Adegannya sempat sampai ke telinga guru BP. Besoknya, orang tua Rio dipanggil menghadap sekolah guna mempertanggungjawabkan adegan anaknya.

Odes senyum-senyum membayangkan itu semua.

Langkahnya kemudian menuju gedung lain yang berada di depan kelas itu.  Ruangan saat dia duduk di kelas tiga. Tiba di ruangan ini, senyum Odes makin lebar. Ia membayangkan lagi adegan per adegan “kenakalan” anak-anak lelaki selanjutnya.

Di ruangan itu, ia pernah dilempar buku oleh ketua kelas, gara-gara “menolong” Acang yang naksir berat sama Tia, sang ketua kelas yang berkacamata minus. Ceritanya, Acang tidak berani menyampaikan isi hati cintanya kepada Tia. Melalui “kepala suku” Acang meminta tolong, apa yg harus dilakukan agar perasaannya bisa sampai ke sang ketua kelas.

“Kepala suku” kemudian punya ide. Ia menyuruh dan mengancam Odes utk menyampaikan misi rahasia Acang, jika tidak pergi menyampaikan kepada Tia, maka Odes akan dikeluarkan dari Group Bios. Nama group anak laki-laki yang suka bikin ulah.

Odes pun mengumpulkan keberaniannya. Dengan percaya diri ia menghampiri Tia yang sedang menyalin di mejanya. Odes belum juga berani mengatakannya. Namun di balik kaca jendela, ia sudah melihat kepalan tangan “kepala suku” dan juga Acang. Artinya, dia akan ditabok kalau tidak segera menyampaikan misi.

“Bismillahirahmanirahim,” Odes berdoa sebelum mengeluarkan kata-kata yang sudah disusun dari luar kelas.

“Hmmm….. ma…..maa… ,” aha belum berani.

Matanya kembali mengarah ke jendela. Dua sosok itu masih kembali mengepal. Sementara Tia, di depannya tidak menghiraukan.

Odes kemudian nekad.

“Maaf, Tia ditunggu sama Acang di kantin,” kata Ode lancar dan cepat.

gemilang simpeda bank sultra

Cewek manis di hadapannya itu kaget dan bingung. Spontan ia berkata “Apa…………….?????” Tia melotot dengan nada minor sedikit keras.

Odes makin gugup. Segera membelakangi, setengah berlari meninggalkan Tia. Tiba-tiba punggungnya disambar sesuatu. Ternyata Tia melemparinya dengan sebuah buku.

Sementara “kepala suku” dan Acang sudah menghilang dari balik jendela. Rupanya mereka sudah terbahak-bahak di balik pohon kelapa yang ada di depan kelas itu.

Kenangan yg tak akan pernah terlupakan, gumam Odes sambil senyum sendiri.

***

Setelah merasa puas melihat-lihat di sekolah, Odes pun segera pamitan. Masih ada misi negara yang harus diselesaikan. Mengejar Dhare.

Ia kembali menelusuri pinggir jalan, arah utara dari bekas sekolahnya. Tempat yang selalu dilaluinya ketika mereka pulang sekolah bersama. Rupanya, cuaca panas tiba-tiba berubah menjadi mendung dan gelap.

Hujan deras pun seperti disiram dari dalam bosu-bosu made in Katobengke. Pakaian loreng Odes gak boleh basah. Ia kemudian mampir berteduh di sebuah gedung bioskop. Namanya bioskop Anda. Tak ada orang Baubau yang tidak mengenal gedung ini. Di sinilah juga Odes pernah nonton film “Cubit-cubitan” yang dibintangi Elvi Sukaesi. Artis sekaligus penyanyi dangdut favoritnya.

Belum ada tanda-tanda hujan akan reda. Sementara Odes juga ada misi lain. Artinya kalau Odes melanjutkan untuk mengejar Dhare maka ia akan ketinggalan kapal untuk pulang kampung.

Padahal di kampung sesajian sudah siap. Belasan ekor ayam sudah terbanting untuk lauk “Haroa” syukuran karena Odes sudah berhasil menjadi tentara.

Akhirnya, sesuai doktrin tentara. Ia harus memilih satu diantara dua planning. Ia gagalkan sendiri misinya untuk mengejar Dhare. Dia lebih memilih aroma lapa-lapa dan ayam gule kaluku yang disertai penyambutan orang-orang di kampungnya.

Di tengah hujan deras itu. Odes berkeputusan. Naik becak menuju jembatan batu. Jembatan kenangan, tempat menjemput kiriman saat masih sekolah dulu. Di sana, sebuah kapal sudah menunggunya untuk mengantarkannya ke kampung halaman. Pulau Kadatua.

Banyangan Dhare terus menari-nari di pelupuk matanya. Dalam perjalanan menuju jembatan batu, di dalam becak, Odes bergumam mengapa cuaca menjadi penghalang rintang untuk menemui seseorang yang selama ini dikagumi dan dirindukannya.

“Namun Allah berkehendak lain mungkin. Ini yang namanya takdir,” gumam Odes.

Pupuslah harapannya untuk bertemu Dhare, si rambut panjang. Padahal hari itu kalau ada izin Allah, Odes sudah bulat (seperti bakso kesukaan Baya) dan nekad untuk bertemu orang tua Dhare. Langsung melamar boo!

Dalam lamunan itu, tanpa sadar, Ode berucap “Dhare dimanakah dirimu berada kaasi”.

***

Tiga puluh tahun kemudian. Odes masih tetap memilih membujang. Ia tahu bahwa Dhare sudah ada yang memiliki. Sudah berkeluarga. Namun cintanya masih terus berbunga-bunga. Dia yakin bahwa “Cinta Tak Harus Memiliki”.

Melihat chating dari Dhare yang juga tergabung dalam group WA kelas mereka, Odes bahagianya ampun-ampun. Makan lauk mie siram dipadu sebutir telur goreng, tak kalah nikmatnya dengan makanan restoran. Jika membayangkan “Seandainya Dhare yang menyiapkan lauk hari ini di meja makannya. Oh nikmatnya.”

Usai makan karbo itu, Odes mengantuk. Sayup-sayup mendengarkan lirik lagunya Ariel Noa feat BCL, bertajuk “Menghapus Jejakmu”.

Terus melangkah melupakanmu

Belah hati perhatikan sikapmu

Jalan pikiranmu buatku ragu

Tak mungkin ini tetap bertahan

Perlahan mimpi terasa mengganggu

Kucoba untuk terus menjauh

Perlahan hatiku terbelenggu

Kucoba untuk lanjutkan itu

Engkau bukanlah segalaku

Bukan tempat tuk hentikan langkahku

Usai sudah semua berlalu

Biar hujan menghapus jejakmu

…….

Odes terjaga. Ia kembali membuka WA Group. Di sana sudah banyak yang candai.

“Sy msh sedih membaca pengakuan kasih tak sampai yg ini. Dpt dimaklumi begitu dlm rasa cinta itu. Intix cinta pertama susah tuk dilupakan. Tp dgn pengakuan ini semua terasa plong, lega rasax sdh bercerita,” demikian Amor, teman kelas dalam Group berkomentar.

Odes, memang kemudian melepaskan penat pikiran yang menghantui selama ini di dalam group chat WA. Dengan gentleman ia menceritakan semua kepada teman-temannya. Di situ ada juga Dhare tentu.

Namun, Nani, salah satu bintang kelas yang kini sudah “bercadar” tidak bisa menerima alasan Odes yang berhenti mengejar Dhare hanya karena hujan. “Sa blom bisa terima alasan ini nah,” tulis Nani.

Dhare sendiri kemudian membuka kartu. Tahun 1992 itu, ketika Odes mengejarnya di Baubau, dirinya sedang menuntut ilmu di sebuah universitas ternama di Kota Lulo Kendari.

Kisah pengejaran Odes itu kemudian minta dikisahkan menjadi cerpen dengan saran judul dari ketua kelas: “Balada Cinta Prajurit”. Preet !!!

Klik untuk daftar event

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.