Bangsa Mongol di Kerajaan Kahedupa

Oleh: Ahmad Daulani

Bangsa Mongol adalah masyarakat nomaden yang berasal dari Pegunungan Mongolia yang membentang Asia Tengah sampai Siberia Utara, Tibet Selatan dan Turkistan Timur. Nenek moyang mereka bernama Alanja Khan yang mempunyai dua putra kembar bernama Tartar dan Mongol. Dari kedua inilah yang melahirkan dua suku bangsa besar, yaitu Mongol dan Tar Tar.

Dalam waktu rentan yang sangat lama, kehidupan bangsa Mongol sangat sederhana. Mereka mendirikan kemah-kemah dan berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat yang lain, mengembala, dan hidup dari hasil buruan.

Sebagaimana bangsa Nomad umumnya, orang-orang Mongol mempunyai watak yang kasar, suka berperang, dan berani menghadang maut demi mencapai keinginanya. Bangsa Mongol dikenal sangat patuh kepada pimpinanya.

Agama bangsa Mongol semula adalah Syamanisme (Syamaniah), yaitu keyakinan yang menyembah kepada matahari sedang terbit, bintang-bintang, dan menyembah kepada arwah-arwah terutama kepada roh jahat yang dianggap mampu mendatangkan bencana.

Disamping itu, bangsa Mongol juga sangat memuliakan arwah-arwah nenek moyang mereka yang dianggap masih memiliki kekuasaan untuk mengatur hidup keturunannya. Ritual syamanisme dalam berkomunikasi dengan arwah dengan menggunakan sesajian, dupa dengan mantra dan gerakan yang sangat khas.

Kemajuan besar-besaran bangsa Mongo,l mulai terjadi pada masa kepemimpinan Timujin atau Jenghis Khan yang berhasil menyatukan 13 kelompok suku yang ada pada masa itu. Jenghis Khan memimpin di usia 13 tahun menggantikan ayahnya Yasughei Khan. Selama 30 tahun, ia melatih dan memperkuat pasukan perangnya sehingga menjadi pasukan yang teratur dan tangguh. Dalam aturan ilyasiq yang menjadi undang-undang bangsa Mongol, laki-laki dan perempuan memiliki kewajiban yang sama dalam kemiliteran. Pasukan perang Mongol dibagi dalam kelompok besar dan kecil, tiap-tiap kelompok dipimpin oleh satu orang komandan.

Setelah pasukan perangnya terorganisir dengan baik, Jenghis Khan berusaha memperluas wilayah kekuasan dengan melakukan penaklukan wilayah-wilayah lain. Serangan pertama diarahkan ke kerajaan Cina dan berhasil mendudukinya pada 1215 M.

Di masa kepemimpinan Hulagu Khan, sasaran penyerangan diarahkan ke negeri-negeri Islam yang puncaknya adalah penyerangan Kota Baghdad sebagai pusat peradaban dunia Islam di bawah kepemimpinan Khalifah Al Mutashim II yang merupakan penguasa terakhir dari khalifah Abbasyiah.

Pembantaian kejam ini Kota Baghdad berhasil dikuasai pada 1258 M dan berakhirlah kekuasaan Bani Abbasiyah. Kemudian Mongol memperkuat kekuasaannya di wilayah tersebut selama 2 tahun.

Kemudian mulai bergerak ke wilayah Syria dan Mesir menyeberangi Sungai Eufrat dan berhasil menaklukan wilayah Nablus dan Gaza pada 1260 M. Setelah menguasai Syria, pasukan Mongol terus bergerak ke wilayah Mesir yang merupakan pusat kota Dinasti Mamluk. Namun di Mesir, Mongol mendapat perlawanan yang sangat kuat dari kerajaan Mamluk di bawah pimpinan Sultan Syarifuddin Qutus. Tahun 1260 terjadi perang antara Mongol dengan Mamluk di Ain Jalut, yang pada akhirnya Mongol mengalami kekalahan terbesar sepanjang sejarah Mongol. Sultan Syarifuddin Qutus terus mendesak dan mengusir pasukan Mongol keluar dari wilayah Damaskus dan Syria.

Setelah bangsa Mongol di masa kepeimpinan Monke Khan, bangsa Mongol terus melakukan ekspansi kekuasaan ke wilayah India, Vietnam, Kamboja, Thailand, Rusia, Asia Tengah, Eropa Timur, Burma, Korea, Timur Tengah bahkan sampai ke kerajaan Jepang dan lain-lain.

Setelah di masa Kepemimpinan Khublai Khan, pasukan Mongol terus melakukan invasi hingga sampai ke wilayah nusantara. Pada 1293, Khublai Khai mengirimkan invasi dalam jumlah besar sampai 30.000 pasukan dengan ratusan para perwira. Invasi itu dipimpin oleh tiga orang panglima, yaitu Shi Bi, Ike Mese, dan Gao Xing.

Pasukan Mongol pertama kali mendarat di wilayah Tuban dan mendirikan perkemahan di sana. Kemudian Iki Mese mengirimkan utusan untuk menemui Raden Wijaya agar tunduk dan mengakui kekuasaan Khublai Khan. Tetapi Raden Wijaya memberikan syarat bahwa akan tunduk pada kekuasaan Khublai Khan kalau pasukan Mongol membantunya melawan Jayakatwang dari Gelang-gelang yang membunuh raja Kertanegara dan menghancurkan Singhasari. Mongol menyetujui permintaan Raden Wijaya untuk bergabung melawan Jayakatwang dan berhasil dikalahkan.

Setelah kemenangan itu, Raden Wijaya meminta izin pulang ke Majapahit dengan alasan mengambil upeti yang akan diserahkan kepada Khublai Khan.

Perjalanan Raden Wijaya dikawal oleh dua orang perwira dan 200 pasukan Mongol. Di tengah perjalanan, Raden Wijaya berbalik membunuh pasukan Mongol yang mengiringinya, kemudian menyerang pasukan Mongol di perkemahan yang tengah mengadakan pesta kemenangan mereka. Dalam penyerangan Raden Wijaya terhadap pasukan Mongol berhasil membunuh panglima Shi Bi dan Ike Mese dan ribuan tentara Mongol. Dengan kecerdikannya, Raden Wijaya akhirnya berhasil membuat kocar kacir dan memukul mundur pasukan Mongol, pasukan Majapahit terus mengejar pasukan Mongol sampai keluar ke perairan laut jawa. Sebagian besar pasukan Mongol kembali ke Cina dan beberapa kapal lainnya terpisah jauh karena kejaran pasukan Majapahit.

Kapal Mongol yang lama terombang ambing di lautan karena kejaran Majapahit, sebagian melintasi wilayah kerajaan Kahedupa sekitar 1311 pada masa pemerintahan Raja Syamsa Allamu sebagai ke 2 kerajaan Kahedupa dengan gelar Raja Muhammad Syamsa Allamu.

Kemudian mereka (Pasukan Mongol) berlabuh di Pantai Saru Saru dan membangun perkemahan di sepanjang Pantai Saru Saru. Pasukan Mongol yang sampai ke wilayah Kerajaan Kahedupa dipimpin oleh Komanda La Donda (sebutan dalam dialek masyarakat lokal). Ada sebagian penutur yang mengatakan bahwa Komandan Mongol yang sampai ke Kerajaan Kahedupa itu adalah Laksamana Congha ada juga yang menyebutnya Laksamana Cengho.

Tetapi sebagian besar penutur sejarah, Komandan Mongol itu lebih akrab disebut Komandan La Donda (sudah dalam dialeg Kaledupa) bukanlah Laksamana Cengho yang pernah mendatangi wilayah nusantara.

Komandan La Donda sampai ke kerajaan bersama istrinya yang bernama Kunfi (kemudian menjadi Wa Rumpi dalam dialek lokal Kahedupa) bersama ratusan pasukan terlatih.

Setelah berhasil membangun perkemahan, Komandan La Donda dengan dibekali peralatan perang dan pasukan terlatih ingin menginvasi kerajaan Kahedupa. Penyerangan pertama diarahkan untuk menaklukkan wilayah Saru Saru dan Tampara sebagian. Dalam pemyerangan itu, Komandan La Donda berhasil mengalahkan beberapa Kakado yang ditugaskan oleh Raja Kehedupa untuk menjaga wilayah tersebut.

Setelah mengalahkan para Kakado, Komandan La Donda bukan hanya menguasai wilayah yang diinvasinya untuk ditempati, tetapi Komandan La Donda menyebarkan ajaran Syamanisme di wilayah yang dikuasainya. Sisa-sisa bukti peninggalan ajaran Syamanisme ini pernah masuk di Kerajaan Kahedupa, khususnya di wilayah Saru Saru dengan adanya Paransangia (tempat pemujaan) di dalam Benteng La Donda, juru kunci makam La Donda yang masih melestarikan ritual-ritual khas Syamanisme salah satunya duduk hormat saat berada di depan makam Komandan La Donda, juga adanya beberapa gerakan khas Syamanisme yang diadopsi dalam budaya masyarakat Kaledupa sampai hari ini.

Informasi keberadaan Komandan La Donda di wilayah Kerajaan Kahedupa yang mengasai Pantai Saru Saru dan sebagian wilayah Tampara sampai ke istana di Palea dan mulai meresahkan Raja Syamsa Allamu sebagai raja yang memiliki kekuasaan penuh di seluruh wilayah Kahedupa, termasuk Saru Saru dan Tampara.

Setelah beberapa tahun Pasukan Mongol berada di wilayah Saru Saru, Raja Syamsa Allamu memutuskan untuk memerangi pasukan Mongol di bawah pimpinan Komanda La Donda tersebut. Dalam penyerangan itu, Komandan La Donda melakukan pertahanan dan perlawan yang kuat di wilayah yang dikuasainya dahulu saat diserang tetapi pada akhirnya ia berhasil dikalahkan oleh pasukan Kerajaan Kahedupa.

Setelah penaklukan pasukan Mongol tersebut, Raja Syamsa Allahu mengkhawatirkan pasukan Mongol agar tidak melakukan memberontak sehingga sang raja melakukan negosiasi dengan Komandan La Donda yang merupakan pemimpin pasukan Mongol tersebut.

Negosiasi tersebut bertujuan untuk mengajak Komandan La Donda agar sepenuhnya mengabdi di bawah perintah Kerajaan Kahedupa karena dinilai memiliki kemampuan dan pengalaman cukup banyak. Dalam negosiasi ini juga, Raja Samsa Allamu memerintahkan agar tidak lagi menyebarkan ajaran Syamanisme dan bahkan Komandan La Donda dan pasukan Mongol yang masih hidup dianjurkan untuk memeluk agama Islam.

Negosiasi antara Kerajaan Kahedupa dengan Komandan La Donda diabadikan dengan Tombi La Donda (Tombi Makuri yang menandakan kejayaan Kerajaan Kahedupa pada masa itu).

Tombi Safika atau Tombi La Donda (Bendera La Donda) ini memiliki bentuk yang sama dengan Tombi Pangga yang merupakan bendera perang Kerajaan Kahedupa (Tombi Pangga dominan berwarna merah). Tapi dalam Tombi La Donda, semua berwarna kuning sebagai simbol kejayaan Kerajaan Kahedupa dan terdapat simbol lafal Allah dan di bawahnya terdapat dua simbol Bintang Daud di tiap cabang bendera sebagai penanda bahwa penganut Syamanisme telah memeluk Islam.

Tombi La Donda tersebut hanya boleh dikibarkan di wilayah Saru Saru yang mana merupakan penanda bahwa wilayah itu pernah dikuasai oleh Mongol. Tombi La Donda juga disebut sebagai Tombi Safika (bendera kendaraan) karena menjadi alasan atau simbol kepada Komanda La Donda untuk memasuki keraton Kerajaan Kahedupa di Pale’a. Sejak dikibarkan Tombi La Donda ini, kemudian La Donda bisa masuk ke seluruh wilayah Kerajaan Kahedupa sebagai rakyat Kerajaan Kahedupa.

Komanda La Donda kemudian dibawa ke dalam keraton untuk dikenalkan suasana Kerajaan Kahedupa. Sesampai di keraton, Palea Komandan La Donda pertama kali mendengarkan syair-syair asli Kaledupa (fakera) yang dinyanyikan namun tanpa iringan alat musik.

Saat itu, Kerajaan Kahedupa belumlah mengenal alat musik apapun, sedangkan Komandan La Donda sudah mengenal alat musik karena dalam ritual Syamanisme menggunakan alat musik (ganda) sehingga Komandan La Donda mengusulkan kepada sang Raja agar syair-syair tersebut dinyayikan dengan iringan musik dan kombinasi dengan gerakan-gerakan tertentu sehingga akan menjadi lebih indah.

Usulan La Donda ini mendapatkan respon yang sangat baik dari Raja Syamsa Allamu untuk menambah khazanah budaya kerajaan Kahedupa. Perpaduan syair, musik, dan gerakan ini menjadilah cikal bakal lahirnya tarian asli Kahedupa yang digunakan untuk menyambut tamu-tamu kerjaan. Tarian tersebut kemudian disebut Tarian Lariangi. Dalam Tari Lariangi ini terdapat perpaduan budaya dari dua bangsa yang bersatu yang sangat kental, baik dari gesture, syair, maupun musiknya.

Komandan La Donda kemudian dinobatkan menjadi Pangilia Paraa (Panglima Perang) menggantikan La Sirilawa ketika wafat. Ketika La Donda dinobatkan menjadi panglima perang, dia memperkuat pasukan dan armada laut sehingga jabatan Pangilia Paraa berubah menjadi Kapitalao (Panglima Laut). Kapitalao La Donda memiliki seorang putri dari pernikahannya dengan Wa Rumpi bernama Ekka (Wa Ekka) yang kemudian dipersunting oleh Raja Samsa Allamu untuk menjadi permaisurinya.

Wilayah Saru Saru yang pernah ditaklukkan oleh La Donda kemudian dibangunkan benteng pertahanan oleh Raja Syamsa Allamu pada 1359 M untuk menghalau musuh yang masuk dari wilayah itu. Benteng tersebut kemudian diberi nama Benteng La Donda, untuk menjadi pengingat rakyat Kerajaan Kahedupa bahwa wilayah itu pernah menjadi taklukan Komandan La Donda, juga untuk menghormati jasa-jasa La Donda agar terkenang selamanya.

Ahmad Daulani (Pemerhati Budaya dan Dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Sultra)
Kontak: 085256075576

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.