Bank Sampah Kelurahan Bende Butuh Penanganan Diseriusi

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Kelurahan Bende mengembangkan bank sampah untuk menangani masalah sampah di wilayah setempat. Namun perlu perhatian serius dari pihak kelurahan dalam menjalankan terobosan itu, terlebih menumbuhkan kesadaan masyarakat tentang sampah.

Bank sampah di Kelurahan Bende diresmikan oleh Adriatma Dwi Putra (mantan Wali Kota Kendari) pada November 2017. Sejak saat itu, pengurus bank sampah dibuat dan beroperasi menangani masalah sampah di lingkungan setempat.

Pantauan Sultrakini.com, bangunan bank sampah dihiasi sejumlah lukisan dinding bertuliskan Ayo Menabung Sampah, Bende-Q, dan bank sampah. Sementara dalam bangunan terdapat dua ruangan sebagai ruang depan dan gudang sampah.

Nampak di dinding ruangan depan, manajemen bank sampah Bende-Q. Secara rinci tersirat warga yang membawa sampah anorganik mendatangi bank sampah untuk dilakukan penimbangan, pencatatan, penggudangan, dan penjualan dari para petugas.

Namun itu sedikit arahan bagaimana bank sampah Bende-Q beroperasi. Faktanya, tidak semua anggota pengurus menjalankan fungsinya. Begitu pula masyarakat hanya segelintir yang membawa sendiri sampahnya ke lokasi ini. Selebihnya, pengurus bank sampah sendiri menjemput sampah rumah tangga tersebut.

Direktur Bank Sampah Bende-Q, Haena menunjukkan ruang penampungan di bangunan bank sampah, Senin (6/5/2019). (Foto: Sarini Ido/SULTRAKINI.COM)

Diceritakan Direktur Bank Sampah Bende-Q, Haena, di awal beroperasinya bank sampah antusias masyarakat masih nampak begitu pula aspek lainnya. Seiring waktu, aktivitas itu mulai memudar dan menjadi ‘PR’ pihak kelurahan menumbuhkan kesadaran akan hadirnya bank sampah di lingkungan itu.

Komitmen sebelumnya, sampah diangkut dua kali seminggu oleh kendaraan viar box tiga roda. Kini, kendaraan sedang rusak. Terpaksa Haena mengumpulkan sampah tersebut dari sejumlah rumah warga atau bersumber dari sampahnya sendiri. Warga masih enggan membawa sampahnya ke bank sampah.

“Kesadarannya warga susah sekali. Butuh sekali kesadaran. Kendaraan (juga) ditambah,” ujar Haena yang juga cleaning service di salah satu sekolah dasar, Senin (6/5/2019).

yamaha

Sampah yang ditampung Haena nantinya dijual ke penampung. Tidak menentu harga penjualan dari sampah itu. Terkadang hasilnya didapatkann paling banyak lebih sejuta atau terendah 700an ribu. Aktivitasnya itu dibantu lima rekan kerjanya.

“Kalau sudah full saya datangkan pembeli,” tambahnya.

Bank sampah Bende menampung sampah anorganik berbahan besi, tembaga, kuningan, plastik, kertas, dan oli.

Sampah terbanyak terkumpul, yakni botol dan gelas plastik, kertas, dan karton.

Di aspek lain, Lurah Bende, Amir Yusuf, menerangkan salah satu kendala penanganan program itu, yakni sedikitnya orang yang memahami manajemen bank sampah. Kedepannya, pihak lurah membutuhkan orang-orang yang bisa mengelola bank sampah, seiring dengan pembuatan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat dan membuat komitmen dalam upaya mengumpulkan sampah-sampah tersebut. Hal ini juga bagian dari target pihak kelurahan.

“Sedikit orang paham tentang manajemen bank sampah karena melihatnya bank itu seperti bank-bank yang lain, tapi ini bank sampah,” jelas Amir kepada Sultrakini.com.

“Kita butuh skill masyarakat yang paham tentang bank sampah, diiringi pelatihan-pelatiahn dan pengembangan-pengembangan kepada masyarakat termasuk membangun komitmen antar pihak pelaku usaha, minimal pelaku usaha menengah, sehingga sampah mereka masuk ke bank sampah kita,” sambungnya.

Kelurahan Bende memiliki 40 RT dan sembilan RW. Hasil penilaian Pemkot Kendari, Kelurahan Bende berhasil menjadi yang terbaik dalam lomba kelurahan tingkat kota. Selanjutnya, mewakili kota ke tingkat provinsi. (Adv)

(Baca: Berkaca dari Kelurahan Bende, si Juara Lomba yang Katanya Inovatif-Kreatif)

Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.