Iklan Clarion

Bencana Menyapa, Mitigasi Siaga

SULTRAKINI.COM: Indonesia merupakan suatu negara yang sudah akrab dengan bencana alam. Salah satunya adalah gempa dan tsunami, di mana bencana itu kembali menimpah negara kita yang itu Indonesia.

Belum pulih penangan gempa dan tsunami di wilayah Palu dan Sigi, kini kita kembali di kejudkan dengan terjadinya tsunami yang disebabkan oleh erupsi anak gunung krakatao yang menimpah wilayah Banten dan Lampung.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG Daryono, Diketahui tsunami Banten dan tsunami Lampung karena disebabkan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Tak hanya itu, adanya fenomena bulan purnama juga menambah gelombang laut semakin tinggi (Banjarmasinpost.co.id, 27/12/2018).

Tidak hanya itu, Tsunami menerjang beberapa wilayah pantai di Selat Sunda, di antaranya di pantai di Kabupaten Pandeglang, Serang dan Lampung Selatan. Menurut Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Wawan Irawan, mengatakan sementara ini pihaknya tak bisa menyimpulkan dulu tsunami tersebut terjadi akibat Krakatau atau bukan (Republika.co.id/ 23/12/2018).

Mengurai Sebab

Yang menjadi penyebab utamanya adalah karena wilayah Indonesia merupakan wilayah yang dilalui jalur ring of fire, dimana wilayah Indonesia memiliki 129 gunung berapi yang masih aktif. Wilayah Indonesia pun terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik aktif dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.

Sehingga Indonesia berpotensi terjadi bencana alam seperti gempa, tsunami, dan gunung meletus. Wilayah Indonesia yang tropis juga berpotensi terjadi bencana alam lainnya seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung, hujan ekstrem, dan kekeringan.
N
amun, apakah usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk menangani, menimalisir akibat dari bencana alam itu? Usaha yang semestinya di lakukan pemerintah adalah dengan mempertimbangkan kondisi wilayah indonesia seharusnya pemerintah memiliki tindakan yang nyata dalam memaksimalkan informasi dan alat pendeteksi sedini mungkin guna meminimalis jumlah korban yang banyak berguguran akibat bencana alam tersebut.

Inilah yang melanda masyarakat saat ini dalam menanggapi banyaknya bencana yang terjadi di negeri. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Deputi Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT, Wahyu Widodo Pandoe menyebut ada 12 buoy yang tersebar di Laut Sumatera, Jawa, Flores, Maluku dan Banda. Dari 12 buoy, ada 9 buoy yang terbuat dari Indonesia, 2 buoy terbuat Amerika dan 1 buoy terbuat dari Malaysia.

“22 buoy sebenarnya tidak pernah ada, ini cuma misleading, yang kita pasang hanya 12 buoy tersebar di Sumatera, Jawa, laut Flores, Maluku, laut Banda, ini yang buatan Indonesia hanya 9 buoy dan tiga buoy buat Amerika dan Malaysia,” kata Wahyu saat dihubungi terpisah.

“Karena program (buoy) itu dihentikan karena tidak ada anggaran, 1 buoy tidak mahal, yang mahal sensor ratusan juta. Sensor tsunami sekitar Rp 200 juta. Instalasi mahal harus gunakan kapal riset, sehari Rp 120 juta kalau kita pasang ujung Sumatera sudah pulang pergi 10 hari, biaya pasang saja pun mahal, sayang sampai dirusak,” jelas Wahyu. (Detiknews.com, 27/12/2018).

Seharusnya pemerintah dalam hal ini sebagai penjaga dan pemimpin rakyat harus memiliki alternatif cepat dalam menangani bencana yang akan dihadapi yang berkualitas namun tidak menggunakan anggaran dana pemerintah yang besar. Sebagaimana yang kita tau bahwa Indonesia sebenarnya mempunyai alat yang canggih tapi tidak dirawat dengan baik selama bertahun tahun jadi wajar kalau alatnya itu tidak bertahan lama atau rusak.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Kepala Pusat Data dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebut 22 Buoy tsunami di perairan Indonesia sudah lama tak beroperasi sejak tahun 2012.

Jika negara dalam sistem kapitalis ini betul-betul memperhatikan itu semua maka kerugian yang disebabkan bencana bisa dikurangi, namun pemerintah saat ini tidak mempedulikan kepentingan umum ini dan menganggap hal itu tidak penting atau sepele. Sehingga wajar saja hingga saat ini udah banyak kerusakan yang terjadi akibat bencana alam tapi pemerintah tidak fokus menyelesaikan permasalahan itu. Masihkan kita berharap pada sistem ini?, Lantas bagaimanakah Islam menyelesaikannya?

Solusi Islam

Sebagaimana kaum muslim yang yakin bahwa turunnya bencana alam merupakan qadha’ atau ketetapan dari Allah. Sehingga kita tidak dapat menolak atau menghindari terjadinya bencana seperti tsunami yang menimpah saudara kita di banten dan lampung. Namun, demikian beberapa usaha yang dapat kita lakukan dalam menanggulangi bencana alam. Menyelamatkan diri sendiri atau orang lain dari bencana adalah hal yang wajib dilakukan karena termasuk dalam kategori ikhtiar.

Berbicara mengenai ikhtiar yang dilakukan ketika bencana alam terjadi, maka sepatutnya kita melihat teladan dari para penguasa Muslim yang membangun bendungan, terusan dan alat peringatan dini. Insinyur Al-Farghani (abad 9 M) telah membangun alat yang disebut Nilometer untuk mengukur dan mencatat tinggi air sungai Nil secara otomatis di berbagai tempat.

Setelah bertahun-tahun mengukur, al-Farghani berhasil memberikan prediksi banjir sungai Nil baik jangka pendek maupun jangka panjang, namun seorang Sultan di Mesir pada abad 10 M tidak cukup puas dengan early warning system ala al-Farghani. Dia ingin sungai Nil dapat dikendalikan sepenuhnya dengan bendungan. Dia umumkan sayembara untuk insinyur yang siap membangun bendungan itu. Adalah Ibn al-Haitsam yang akhirnya memenangkan kontrak pembangunannya.

Namun tatkala dia berjalan ke arah hulu sungai Nil guna menentukan lokasi untuk bendungan, dia tertegun menyaksikan piramid-piramid raksasa yang dibangun Fir’aun. Dia berpikir, “Fir’aun yang sanggup membangun piramid saja tak mampu membendung sungai Nil, apalah artinya aku?” Karena malu dan takut menanggung konsekuensi karena membatalkan kontrak, Ibn al-Haitsam kemudian pura-pura gila, sehingga oleh penguasa Mesir dia dikurung di rumah dan hartanya diawasi negara.

Dalam tahanan rumahnya itulah Ibn al-Haitsam mendapat waktu untuk melakukan berbagai eksperimen optika, sehingga akhirnya menjadi Bapak Optika. Dia baru dilepas beberapa tahun setelah penguasa Mesir ganti dan orang sudah mulai lupa kasusnya. Meski Ibn al-Haitsam tak berhasil membangun bendungan di masanya, namun fisika optikanya adalah dasar bagi Galileo dan Newton dalam mengembangkan mekanika. Dengan fisika Newton inilah pada abad-20 orang berhasil membendung sungai Nil dengan bendungan Aswan.

Di Turki, untuk menangkal gempa, orang membangun gedung-gedung tahan gempa. Sinan, arsitek Sultan Ahmet yang fenomenal, membangun masjidnya itu dengan konstruksi beton bertulang yang sangat kokoh serta pola-pola lengkung berjenjang yang dapat membagi dan menyalurkan beban secara merata. Semua masjid yang dibangunnya juga diletakkan pada tanah-tanah yang menurut penelitiannya saat itu cukup stabil. Gempa-gempa besar di atas 8 Skala Richter yang terjadi di kemudian hari terbukti tak membuat dampak sedikitpun pada masjid itu, sekalipun banyak gedung modern di Istanbul yang justru roboh.

Kisah lain yaitu Khalifah Umar yang memberikan segalanya hingga tidak ada yang dapat diberikan. Umar mengirim surat kepada Abu Musa di Bashrah dan Amru bin Ash di Mesir yang berisi, “Bantulah umat Muhammad, mereka hampir binasa”.

Kemudian kedua gubernur mengirimkan bantuan ke Madinah dalam jumlah besar hingga mencukupi kebutuhan pangan rakyat yang mengalami musibah kekeringan. Selain itu, Khalifah Umar pun senantiasa bermunajat kepada Allah melalui doa meminta turun hujan bersama paman Nabi, Abbas.

Sungguh sangatlah agung dan mulia sikap Khalifah Umar bin Khattab dalam mengayomi rakyatnya. Ia tak malu untuk terjun langsung menjadi pelayan bagi rakyatnya yang membutuhkan bantuannya. Ia pun tidak mempermasalahkan tubuhnya kurus dan kulitnya menghitam ketika ia dan rakyatnya dilanda musim paceklik.

Penguasa Khilafah Islam menaruh perhatian yang besar agar tersedia fasilitas umum yang mampu melindungi rakyat dari berbagai bencana. Tidak hanya itu, mereka membayar para insinyur untuk membuat alat dan metode peringatan dini, mendirikan bangunan tahan bencana, membangun bunker cadangan logistik, hingga melatih masyarakat untuk selalu tanggap darurat. Mereka tahu bagaimana harus mengevakuasi diri dengan cepat, bagaimana menyiapkan barang-barang yang vital selama evakuasi, bagaimana mengurus jenazah yang bertebaran, dan bagaimana merehabilitasi diri pasca kedaruratan Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Oleh: Susiyanti, S. E (Muslimah Media Konawe)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.