Bentrok dengan Polisi, Kepala Mahasiswa Kembali Luka

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Ratusan mahasiswa yang berdemonstrasi di depan Mapolda Sultra, Kamis (17 Oktober 2019) dipukul mundur pihak kepolisian dengan menggunakan tembakan gas air mata. Massa aksi yang tergabung Aliansi Mahasiswa Sulawesi Tenggara (Sultra) tersebut menuntut pengungkapan kasus penembakan dua mahasiswa UHO yakni Randi dan Yusuf yang tewas saat unjuk rasa 26 September 2019 di DPRD Sultra.

Awalnya di depan Mapolda Sultra massa aksi menyampaikan aspirasinya secara damai. Kemudian mereka mencoba menerobos kawat berduri yang dipasang di sepanjang perempatan Mapolda dan Badan Pusat Statistik Sultra, tetapi ditahan oleh anggota Dalmas. Aksi saling dorongpun tak terhindarkan.

Di depan Mapolda Sultra, massa aksi yang tergabung dari beberapa perguruan tinggi, yakni UHO, Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK), STIE 66, Unusra dan Unsultra menuntut pengungkapan kasus penembakan yang menewaskan dua orang mahasiswa UHO.

Seperti diketahui dua mahasiswa UHO yang tewas saat unjuk rasa di Kantor DPRD Sultra pada 26 September 2019, yakni Randi yang meninggal akibat luka tembak di dada dan Yusuf meninggal akibat luka serius di bagian kepalanya.

Ketua Bem Fakultas Tekhnik UHO, Ramli, mengatakan bentrok berawal saat mahasiswa dengan pihak kepolisisan terlibat saling dorong. Namun tiba-tiba saja ada salah satu mahasiswa yang dipukul dengan pentongan anggota polisi yang sedang mengamankan saat aksi.

“Awalnya aksi damai, menurut salah satu teman bahwa ada yang dipukul dengan pentongan. Kemudian saling lempar,” jelasnya, Kamis (17/10/2019).

Ia sampaikan, pihak kepolisian sempat menemui massa aksi, namun dalam pertemuan tersebut tidak ada solusi yang disampaikan oleh pihak kepolisian.

“Diakhir diskusinya tidak melahirkan keputusan dan solusi yang memuaskan bagi tuntutan mahasiswa. Kami lihat pihak kepolisian seakan-akan menyembunyikan pelaku pembunuh dua mahasiswa, sehingga kami tidak terima itu,” tegasnya.

Ramli mengaku kecewa atas tindakan represif yang kembali dilakukan oleh pihak kepolisian. Akibat kericuhan tersebut, tiga orang mahasiswa kembali menjadi korban tindakan represif kepolisian. Satu orang mahasiswa dilarikan ke Puskesmas Lepo-Lepo akibat luka di bagian kepala diduga karena dipukul pentongan polisi.

Sementara dua lainnya, terkena gas air mata yang ditembakan oleh anggota kepolisian yang mengamankan saat unjuk rasa. Keduanya sempat pingsan namun ditangani oleh teman-temannya dengan menyiramkan air kepada kedua mahasiswa tersebut.

Massa aksi di Bundaran Tank (Foto: Istimewa).
Massa aksi di Bundaran Tank (Foto: Istimewa).

“Sebenarnya sangat mengecewakan bagi kami, pertama tujuan kita datang dengan damai. Ingin mempertanyakan sudah sampai dimana prosesnya, apakah keenam orang itu sudah ditetapkan sebagai tersangka atau belum, namun dari jawaban mereka itu tidak menjelaskan apa yang menjadi tuntutan kami,” terangnya.

Massa aksi kemudian mundur sampai di Bundaran Tank Anduonohu. Mahasiswa kemudian memblokade jalan dan membakar beberapa ban bekas di tengah jalan tersebut yang menyebabkan arus laku lintas di Bundaran Tank tersendat.

Masyarakat yang mengambil jalan pintas di Jalan Kendondong menuju Pasar Anduonohu macet. Terlihat sekitar 500 meter antrian kendaraan roda dua dan roda empat. Sementara di jalan poros Jalan Bungasi pun ikut macet. Beberapa masyarakat sekitar mencoba mengatur kendaraan yang lewat untuk mengurai kemacetan.

Setelah memblokade jalan di Bundaran Tank, ratusan massa aksi kemudian membubarkan diri sekitar pukul 17:51 WITA dengan tertib. Arus lalu lintas di jalan itu kembali lancar.

Laporan: La Niati
Editor: Habiruddin Daeng

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.