SULTRAKINI.COM: KENDARI - Trend deflasi yang terjadi sejak bulan Agustus terus berlanjut pada bulan Oktober 2017, dimana Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat deflasi sebesar 0,88 persen (mtm) atau lebih tinggi dari deflasi pada bulan September yang tercatat 0,51 persen (mtm).

BI, Ketersediaan Bahan Makanan Dorong Deflasi
Ketersediaan pasokan bahan makanan menahan terjadinya inflasi. (Foto: Google)

Secara spasial, deflasi terjadi di Kota Kendari maupun Kota Baubau dengan besaran deflasi masing-masing sebesar 0,81 persen (mtm) dan1,08 persen (mtm). Deflasi yang terjadi pada bulan Oktober 2017 terutama didorong oleh penurunan harga bahan makanan khususnya komoditas sayur-sayuran, ikan segar dan cabai rawit. Laju deflasi Sultra tertahan oleh inflasi pada kelompok sandang dan makanan jadi, masing-masing tercatat mengalami inflasi sebesar 0,32 persen dan 0,63 persen(mtm).

"Meski secara bulanan mencatatkan deflasi, terdapat faktor risiko yang perlu diwaspadai yakni terjadinya inflasi pada komoditas beras sebesar 0,85 persen (mtm). Dengan adanya deflasi tersebut, inflasi tahun kalender Sultra pada bulan Oktober 2017 tercatat sebesar 2,40 persen (ytd), dengan inflasi tahunan sebesar 2,06 persen (yoy)," ujar Minot Purwahono selaku Kepala KPwBI Sultra, melalui releasenya.

Pada bulan Oktober 2017 kelompok volatile food di Sultra mencatatkan deflasi sebesar 3,91 persen (mtm). Deflasi pada kelompok volatile food terjadi di 2 (dua) kota yang menjadi basis perhitungan inflasi di Sultra yakni Kota Kendari dan Kota Baubau. Deflasi pada kelompok volatile food tersebut utamanya terjadi pada komoditas sayur-sayuran, ikan segar dan cabai rawit.

Penurunan harga pada komoditas tersebut didorong oleh semakin meningkatnya pasokan di pasar sehingga menekan tingkat harga di pasar. Laju deflasi pada kelompok volatile food tertahan oleh adanya inflasi pada komoditas beras, bayam dan jeruk nipis.

Sementara itu, kelompok administered pricestercatat mengalami inflasi sebesar 0,11 persen (mtm) yang didorong oleh inflasi pada komoditas rokok. Inflasi pada komoditas rokok baik rokok kretek, rokok putih dan rokok kretek filter hanya terjadi di Kota Kendari sementara di Kota Baubau tidak mengalami perubahan. Pemerintah telah menetapkan kebijakan pengenaan tarif cukai rokok baru yang akan berlaku mulai tahun 2018. Inflasi kelompok administered price tertahan oleh komponen angkutan udara yang tercatat mengalami deflasi sebesar 0,25 persen (mtm).

Disisi lain inflasi kelompok inti pada bulan Oktober 2017 tercatat mengalami deflasi sebesar 0,10 persen (mtm) yang disebabkan oleh deflasi komoditas minyak goreng dan air minum kemasan. Deflasi pada kelompok inti tertahan oleh inflasi komoditas emas perhiasan yang tercatat sebesar 0,21 persen (mtm). Deflasi pada kelompok inti terjadi seiring terjaganya stabilitas ekonomi nasional yang berpengaruh terhadap ekspektasi masyarakat.

Mencermati perkembangan inflasi pada bulan Oktober 2017, TPID Provinsi Sulawesi Tenggara akan terus memantau pergerakan harga pangan khususnya beras dan memastikan ketersediaan di pasar dengan berkoordinasi bersama pihak-pihak terkait. TPID bersama Satgas Pangan akan berupaya memastikan agar kebijakan penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk komoditas beras dan gula pasir dapat berjalan dengan baik dan ditaati oleh pelaku pasar. Inflasi Sulawesi Tenggara hingga akhir tahun 2017 diperkirakan masih berada pada sasaran inflasi yang ditetapkan yakni 4 + 1 persen.

Tanggapan Anda?

Facebook Conversations