BI Sultra: April 2020 Inflasi 0,16 Persen

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Sulawesi Tenggara mencatatkan pada April 2020, terjadi inflasi sebesar 0,16 persen (mtm), lebih rendah/tinggi dibandingkan inflasi bulan lalu, demikian pula dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 0,61 persen (mtm).

Kepala KPwBI Sultra, Suharman Tabrani, mengatakan relatif terkendalinya inflasi tersebut disebabkan oleh deflasi yang terjadi di Kota Kendari sebesar 0,05 persen (mtm), sementara tekanan harga di Kota Baubau relatif besar dan mencatatkan inflasi 0,88 persen (mtm).

“Dengan pencapaian inflasi bulanan tersebut, inflasi tahunan Sultra pada April 2020 tercatat 0,54 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi tahunan pada periode yang sama tahun sebelumya yang tercatat sebesar 4,17 persen (yoy). Secara kumulatif inflasi hingga April 2020 sebesar -0,65 persen (ytd),” ujar Suharman, Selasa (5/5/2020).

Tekanan inflasi pada April 2020 disebabkan oleh peningkatan tekanan inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang tercatat mengalami inflasi sebesar 1,08 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya tercatat 0,07 persen (mtm).

Suharman menyampaikan, peningkatan inflasi tersebut sesuai pola historisnya, dimana menjelang Ramadan tekanan inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau cenderung meningkat. Disamping itu musim panen padi yang masih terbatas di beberapa daerah serta gangguan pasokan ikan akibat peralihan angin muson turut berdampak pada peningkatan inflasi pada kelompok tersebut.

“Komoditas pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menjadi penyumbang utama inflasi di April 2020, antara lain beras ikan kembung, dan telur ayam ras. Sebaliknya, komoditas hortikultura yang kerap menjadi momok inflasi seperti cabai rawit dan sawi hijau serta daging ayam ras-kali ini mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi pada kelompok ini,” jelas Suharman.

Sementara tekanan inflasi kelompok transportasi mengalami penurunan sejalan menurunnya permintaan sebagai dampak Covid-19.

“Penurunan aktivitas mobilisasi penumpang mengakibatkan kelompok transportasi mengalami deflasi sebesar 0,74 persen (mtm) terutama disebabkan oleh menurunnya tiket angkutan udara (-3,61 persen mtm) dengan andil -0,13 perse,” katanya.

Selain itu, penurunan terjadi pada kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar -1,71 persen (mtm) disebabkan oleh penurunan biaya pulsa ponsel (-3,98 persen mtm) dengan andil -0,13 persen.

“Penurunan kelompok tersebut akibat adanya kebijakan tarif dari penyedia jasa jaringan seluler untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat di tengah berlangsungnya pembatasan sosial,” terangnya.

Laporan: Wa Rifin
Editor: Sarini Ido

beras pokea

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.