Bom di UHO Meledak Karena Polisi Bercanda?

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Insiden meledaknya bom di kampus Universitas Halu Oleo, beberapa waktu lalu hingga kini masih menjadi misteri. Simpang siur informasi tentang kronologi meledaknya bom jenis Granat Nenas itu masih merebak. Pihak UHO maupun Polda Sultra sampai saat ini belum memberikan keterangan secara resmi.Salah seorang satpam UHO yang ditemui SULTRAKINI.COM, Kamis (14/4/2016) sore di kampus UHO, menceritakan kronologi kejadian sesuai yang disaksikannya saat itu.Satpam berinisial D itu mengaku berada dalam ruangan saat peristiwa terjadi. Dia merupakan salah seorang peserta Diksar, yang juga menjadi korban meski tidak separah rekan-rekannya.Menurut dia, bom yang meledak bukan Granat Nenas melainkan Granat berbentuk buah Manggis. Wujudnya bulat, berbeda dengan Granat Nenas yang tampak lonjong.Saat itu, materi yang dibawakan instruktur dari Tim Gegana Brimob Polda Sultra adalah pengenalan bahan peledak dan penjinakan bom. Di atas meja instruktur, terdapat sejumlah bom baik yang aktif maupun tidak, termasuk serbuk bahan peledak. Diantaranya ada yang berbentuk seperti Botol, Jantung Pisang, Nenas, Manggis dan masih banyak bentuk lainnya.Kala itu, instruktur sedang menerangkan bom berbentuk Nenas atau Granat Nenas. Tiba-tiba, Brigadir Haidir yang saat itu berdiri di pintu, mengambil salah satu bom yang bentuknya menyerupai buah Manggis. Kemudian dia menarik pinnya lalu meletakkan bom tersebut di paha salah seorang peserta pelatihan.Spontan sang Satpam yang diberi bom kaget dan menepis bom tersebut dari pahanya hingga terjatuh di lantai.\”Bom itu tidak langsung meledak. Karena ada salah satu penguncinya yang belum tertekan, nanti pada saat jatuh itu baru dia tertekan di lantai,\” terang Satpam tersebut.Brigadir Haidir lantas memungut bom tersebut, lalu mengantonginya. Tak lama kemudian, bom tersebut meledak dalam saku celananya. Seisi ruangan pun berubah seperti arena tempur.Usai ledakan itu, para satpam berebut keluar menyelamatkan diri karena khawatir bahan peledak yang ada dalam ruangan ikut meledak semua.\”Bahan peledak yang ada diatas meja terbakar,\” kata D.Karena panik, dia sendiri menyelamatkan diri dengan cara memecahkan kaca jendela lalu melompat keluar. Dia sempat melihat seorang ibu dari lantai dua gedung UPTK tempat pelatihan itu, ikut menyelematkan diri melalui jendela yang dilewatinya.Penyelidikan Diambil Alih Mabes Polri, Rektor UHO Siap DipecatCerita yang berkembang di luar bermacam-macam. Pihak kampus maupun kepolisian belum memberikan pernyataan resmi. Saat ini Mabes Polri tengah melakukan penyelidikan terkait insiden tersebut.Kapolda Sultra, Brigjen Pol Agung Sabar Santoso melalui Kabid Humas Polda Sultra, AKBP Sunarto, Kamis (31/3/2016) di ruang kerjanya mengungkapkan pada SULTRAKINI.COM, bahwa penyelidikan kasus ledakan granat di UHO sepenuhnya diambil alih Mabes Polri.“Jadi perkara ini sepenuhnya diambil alih oleh Mabes Polri, dengan adanya tim dari Mabes ini maka proses investigasi dan penyelidikan terkait penyebab ledakan itu sepenuhnya di tangani oleh Mabes,\” katanya.AKBP Sunarto menambahkan, fokus utama Polda saat ini masih kepada penanganan korban, entah itu korban yang meninggal maupun hanya luka-luka. \”Hasil penyelidikan kasus ini sudah menjadi kewenangan Mabes, pokoknya kita tunggu saja,\” terangnya.Sedangkan Rektor UHO Prof. Usman Rianse menyatakan, jika kasus ini sampai di pengadilan maka pihak Universitas Halu Oleo siap bertanggungjawab. \”Saya siap dipecat dari jabatan sebagai rektor, jika itu terbukti,\” terang Usman Rianse, Kamis (31/3/2016).Pelatihan Dianggap BermanfaatPeserta Pendidikan Dasar (Diksar) Gada Pratama Security UHO mengaku merasa ada manfaatnya mengikuti kegiatan itu.

Salah satunya Budiman. Meski mengaku agak trauma dengan kejadian tersebut karena menilai pelatihan menggunakan objek aktif belum perlu dilakukan bagi para satpam, bahkan saat simulasi sekalipun, namu tetap ada gunanya.\”Kalau sekedar ingin tahu tidak apa, supaya kita tahu. Tapi kalau yang aktif nda usah, bukan ranahnya juga kita security,\” kata seorang Satpam UHO, Budiman kepada SULTRAKINI.COM, Sabtu (2/4/2016).
 
Dia mengaku baru sekali menerima materi tentang bom tersebut. Dia mengaku tidak keberatan diberi pelatihan tersebut, namun dengan catatan tidak menggunakan benda aktif.
 
\”Kalau materi tidak ada masalah, simulasi juga tidak masalah, yang penting jangan yang aktif,\” katanya.(B)

yamaha

Satpam bernama Defrian mengaku merasakan langsung efek dari pelatihan tersebut. \”Dengan pelatihan itu, kita bisa mengetahui jenis-jenis bom dengan cara penjinakannya. Seperti bom yang menggunakan kabel itu,\” katanya.Menurut Defrian, pelatihan penjinakan bom sudah layak dilaksanakan di kampus UHO khususnya bagi para satpam. Sebab melihat kondisi negara saat ini yang rawan terorisme dengan sasaran masyarakat sipil, tidak menutup kemungkinan di UHO akan ada teror bom.\”Kita sudah bisa menjinakkan bom kalau menemukan bom seperti yang diperkenalkan,\” akunya.

Editor: Gugus Suryaman

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.