Bupati Konut Sebut Banjir Kali Ini Terbesar Sejak 42 Tahun

SULTRAKINI.COM: KONAWE UTARA – Jumlah pengungsi banjir di Kabupaten Konawe Utara (Konut) berjumlah 4.089 KK, Sabtu (8/6/2019). Banjir juga merendam sejumlah fasilitas publik, termasuk menyulitkan petugas dalam proses pendistribusian bantuan ke titik bencana.

Informasi dihimpun Sultrakini.com hingga Sabtu (8/6/2019), jumlah pengungsi akibat banjir di Konut berjumlah 4.089 KK. Banjir disebabkan curah hujan cukup tinggi di wilayah itu dalam kurung waktu beberapa hari terakhir. Akibatnya, Sungai Lasolo, Lalindu, dan Sungai Wadambali meluap dan menghanyutkan sejumlah rumah warga di Kecamatan Asera, Langgikima, Andowia, Landawe, Oheo, dan Kecamatan Wiwirano.

Bupati Konut, Ruksamin, menjelaskan ketinggian banjir sempat surut sekitar 50 sentimeter, namun kembali merendam rumah warga lantaran hujan yang terus mengguyur wilayah setempat hingga malam hari.

“Tadi ini kita evakuasi lagi warga di lima/enam kecamatan, di 28 desa/kelurahan, jumlah KK-nya, yaitu 1.054. Sampai hari ini tidak ada korban jiwa,” terang Ruksamin, Sabtu (8/6/2019).

Kepala BNPB, Doni Monardo bersama aprat pemerintah daerah Konawe Utara meninjau lokasi banjir, Sabtu (8/6/2019). (Foto: Arifin Lapotende/SULTRAKINI.COM)

Kata bupati, sejumlah kecamatan sempat sulit dijangkau guna pendistribusian bantuan karena akses jalan nasional tergenang air setinggi tiga meter. Bantuan berangsung tiba di lokasi nanti pada 5 Juni lalu, itupun di satu titik, yakni Desa Landiwo, Kecamatan Landawe. Tetapi, proses distribusi bantuan terus diupayakan pihaknya.

Banjir ini juga merendam empat unit SD, satu unit SMP, lahan sawah 970,3 hektare, lahan jagung 83,5 hektare, lahan lainnya 11 hektare, yaitu palawija, perikanan tambak sekitar 420 hektare yang terendam, satu puskesmas di Desa Uwonua tenggelam, termasuk di Kecamatan Motui.

“Di Kecamatan Motui baru tadi terendam, kami langsung ke sana mengecek,” tambah Ruksamin.

Kepala BNPB, Doni Monardo bersama aprat pemerintah daerah Konawe Utara meninjau lokasi banjir, Sabtu (8/6/2019). (Foto: Arifin Lapotende/SULTRAKINI.COM)
Kepala BNPB, Doni Monardo bersama aprat pemerintah daerah Konawe Utara meninjau lokasi banjir, Sabtu (8/6/2019). (Foto: Arifin Lapotende/SULTRAKINI.COM)

Upaya penanganan banjir dilakukan Pemda sejak 2 Juni lalu, berupa pendataan awal; rapat darurat di Pemda dan langsung mengeluarkan SK penanganan darurat di Konut (3 Juni). Selanjutnya dikeluarkan SK Bupati tentang pembentukan pos komando penanganan darurat bencana di Konut yang dipusatkan di rujab bupati.

Tempat pengungsian juga didirikan di empat titik, sekaligus pendistribusian logistik, misalnya bahan makanan.

Dampak lainnya dari banjir seperti adanya keputusan untuk meliburkan aktivitas sekolah, termasuk mengundur pelaksanaan ujian.

“Sekolah sudah kami putuskan ini hari kami liburkan termasuk ujian kami undur,” jelasnya.

Parahnya dampak banjir ternyata diakui bupati menjadi yang terbesar dibandingkan tahun 1977 yang katanya merupakan banjir terbesar kala itu.

“Banjir terbesar tahun 1977, 42 tahun kemudian terulang tapi lebih besar dari yang ada sekarang,” ucap bupati Konut.

Untuk diketahui, banjir di Konut juga ditinjau Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana RI, Letjen (TNI) Doni Monardo, Sabtu (8/6/2019).

Doni Monardo sempat memberikan pengarahan di posko utama banjir, sebelum meninjau wilayah Konut yang terendam banjir.

Penyerahan bantuan untuk korban banjir di Konawe Utara, Sultra yang diterima Ruksamin selaku bupati, Sabtu (8/6/2019). (Foto: Arifin Lapotende/SULTRAKINI.COM)

Total empat titik banjir ditinjau kepala BNPB di dampingi Bupati Konut Ruksamin kepala BPBD Sultra, Dandim 1417 Kendari Letkol CPN Fajar Lutfi Haris Wijaya, kepala Basarnas Kendari, dan kepala OPD Konut.

Salah satu titik peninjauan, yaitu Jembatan Asera yang nyaris terputus akibat luapan air. Desa Tapuwatu dan Desa Walalinda juga ditargetkan akan ditinjau, namun akses jalan terputus. Akibatnya, tim gagal menjangkau lokasi tersebut. Tim juga meninjau Desa Puuwanggudu dan Desa Labungga.

Laporan: Arifin Lapotende
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.