Iklan Clarion

Catatan (2): Menulis Kisah Bertemu Presiden untuk Inspirasi Anak Didik

Banyak yang tak percaya kalau ini foto saya dengan Pak Jokowi disebuah kegiatan di Bogor beberapa hari yang lalu.Saya memaklumi jika mereka sebagian tak percaya bahkan menilai foto editan.Saya hanya tersenyum dalam hati saja,sekaligus menikmati beragam komentar dari teman-teman di media sosial.

Ketidakpercayaannya itu boleh jadi karena saya memang bukan siapa-siapa di Kolaka,Sulawesi Tenggara.Saya bukan orang penting dengan status pengusaha kaya,tokoh politik di sebuah partai bahkan pejabat sekelas bupati dll.Saya hanya seorang rakyat biasa dengan pekerjaan sebagai guru bahasa di sebuah sekolah yang jauh dari pusat kekuasaan.

Yang pasti di hari Rabu 10/10/2018 saya berdua berdiri berdampingan dengan orang nomor satu di negeri ini, lalu difoto oleh anggota Paspampres.Setelah berfoto saya berjabat tangan erat.Tentu banyak kesan yang saya rasakan setelah bertemu kemudian difoto bukan berswafoto seperti kebanyakan orang kalau bertemu pejabat negara apalagi sekelas presiden yang dijaga dengan pengamanan berlapis-lapis.Jika selama ini saya hanya bisa menangkap kesan sederhana dan merakyat lewat tayangan di televisi,maka saat itu saya merasakan dan melihat sendiri kesederhanaan sosok orang nomor satu di negeri ini.

Sebenarnya saya menahan diri untuk tidak.memgunggah foto ini di media sosial.Karena beberapa pertimbangan tapi setelah mencari dan menemukan alasan yang masuk akal,akhirnya foto ini saya unggah di laman facebook saya tadi malam.Meski selalu ada kawan,sahabat yang menilai foto saya bersama Pak Jokowi sebagai cermin sikap politik saya di Pilpres 2019.Jika demikian penilaiannya saya hanya bisa tertawa dalam hati sambil menyampaikan, apa pengaruhnya saya jika berfoto dengan Pak Jokowi yang masih berstatus sebagai Presiden RI dengan jalannya Pilpres ? Saya hanya rakyat jelata yang tak punya pangkat dan jabatan apalagi pengaruh.

Memang ada niat yang saya tidak sadari ketika salah seorang kawan yang bekerja sebagai tenaga ahli madya bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi pada Kantor Staf Presiden Republik Indonesia mengirimkan bukunya yang baru terbit sebulan lalu.Saya kagum dengan kemampuannya meniti karir dari seorang junalis hingga tercatat sebagai staf presiden.Membaca bukunya saya pun jadi paham apa sesungguhnya yang dihadapi bangsa ini ditengah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.Sekaligus saya jadi paham jika sekolah itu memang benar jadi candu bagi kaum intelektual.

Hari ini saya menulis cerita perjalanan dari kediaman saya di Watuliandu, sebuah kelurahan di Kabupaten Kolaka,Sulawesi Tenggara, ke Jakarta dan bertemu Pak Jokowi di Bogor.Saya tak bermaksud mengabarkan kepada warganet bahwa saya merasa sudah jadi orang penting dan harus diperlakukan istimewa.Tidaklah ! Menulis cerita ini tak lebih dari sekedar menjadi media pembelajaran dalam menulis bagi peserta didik saya SMA Negeri 1 Latambaga, sekedar menunjukkan bahwa kegiatan menulis itu semua orang bisa jika ada kesungguhan untuk memulai dengan membaca terlebih dahulu.Menulis akan lebih mudah jika kita jujur dan tanpa beban melontarkan semua pikiran positif dengan kalimat yang bernilai positif.Selanjutnya Anda harus memastikan bahwa menulis itu bukan pekerjaan yang langsung kelar, sebuah tulisan yang enak dibaca itu melalui proses edit tentu dengan ramuan kata-kata yang enak dan mengalir.Seperti itulah saya menjadi guru bahasa yang mengajarkan cara jadi penulis.Tentunya saya juga berharap dari peserta didik saya di SMA Negeri 1 Latambaga akan terlahir generasi yang penerus yang bermanfaat bagi negeri ini. Generasi penerus gerakan literasi nasional sebagai mana pesan Pak Jokowi dalam pertemuan dengan pegiat literasi dan minat baca Se-Indonesia mengharapkan terus bergerak untuk membangun rasa kebangsaan, sekaligus menumbuhkan kreatifitas dan inovasi kepada peserta didik di sekolah dan senatiasa menebar kebaikan di tengah masyarakat.

Penulis: Ridwan Dematadju (guru SMA 1 Latambaga Kolaka)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.