Cegah Covid-19, KSOP Kendari Periksa Suhu Tubuh Penumpang, Tidak ada Pemberhentian Akses

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Upaya mengantisipasi penularan virus corona, Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Kendari, telah melakukan langkah-langkah antisipatif seperti pembentukan tim terpadu di pelabuhan, pemeriksaan suhu tubuh setiap penumpang, termasuk memberikan perhatian lebih terhadap masuknya kapal-kapal asing di Kendari.

Kepala KSOP Kelas II Kendari, Letkol Marinir Benyamin Ginting, menjelaskan terkait dengan informasi simpang siur di masyarakat bahwa akan ada pemberhentian sementara penyeberangan kapal penumpang, itu tidak benar.

“Pelabuhan mana yang akan ditutup, penyeberangan mana, logikanya saja bayangkan kalau pelabuhan ditutup atau tidak aktif, dampaknya yang ada malah lebih berbahaya ini dari pada virus. Kapal pertamina sudah tidak masuk, BBM di Kendari dapat dari mana nantinya, pasti kosong semua,” jelas Letkol Marinir Benyamin Ginting, Selasa (24/3/2020).

Letkol Marinir Benyamin Ginting mengungkapkan, pedoman kerja KSOP tetap mengacu pada instruksi pemerintah pusat, dalam hal ini kementerian kesehatan, Kementerian Luar Negeri tentang keluar masuknya orang Indonesia dan asing, kementerian perhubungan, Dirjen Perhubungan Laut, juga termasuk petunjuk pemerintah daerah.

“Dari sumber-sumber ini tidak ada yang menyatakan bahwa untuk melakukan penutupan atau pemberhentian sementara, terkecuali sudah ada pernyataan dari pemerintah daerah bahwa harus lockdown, tidak ada lagi pergerakan, inikan belum ada, jadi tidak mungkin ditutup pelabuhan,” katanya.

Dia juga menambahkan, dalam hal mengantisipasi terjadinya penyebaran virus, KSOP sudah mengambil sikap sesuai dengan intruksi pemerintah pusat untuk membentuk tim terpadu penanganan wabah virus corona atau covid-19 di pelabuhan. Hal tersebut sudah dibentuk tim dimasing-masing pelabuhan di Kendari. Namun yang lebih diutamakan pada tim terpadu ini adalah kantor kesehatan pelabuhan (KKP), tapi tetap dibawah koordinator KSOP.

“Jadi langkah-langkah yang sudah kita lakukan itu dalam penanganan virus ini adalah setiap kapal yang turun dan naik dilakukan pengukuran suhu tubuh, lewat alat pengukur suhu tubuh. Ketika misalnya, ditemukan suhu tubuh penumpang diatas 38 derajat, maka sudah disepakati akan dihentikan perjalanannya, dan langsung ditangani oleh KKP, tapi jika tidak, maka normal-normal aja,” terang Letkol Marinir Benyamin, di kantornya.

Fortune

Dalam standar operasional prosedur (SOP) terhadap penanganan kapal-kapal asing yang datang di Kendari, KSOP Kendari juga sudah menyiapkan standar operasional khusus. Misalnya, kapal penumpang dan termasuk kapal barang yang datang di Kendari, prosedurnya sudah disusun. Kalau ada kapal asing datang tidak boleh langsung sandar, tapi harus melalui zona karantina, lalu kemudian menaikkan bendera kuning, artinya sebagai tanda harus dilakukan pemeriksaan.

“Kalau sudah dilakukan pemeriksaan oleh KKP dan sudah dinyatakan clear, maka baru bisa menurunkan bendera kuningnya, setelah itu berarti boleh dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh Imigrasi, Bea Cukai, dan Karantina, jika itu sudah selesai baru bisa sandar,” bebernya

Lanjut Letkol Marinir Benyamin, kalaupun sudah dibolehkan sandar, masih banyak lagi beberapa standar operasional yang harus dipenuhi, misalnya ketika ada crew kapal yang punya keperluan harus ada izin dan koordinasi dengan pengelola pelabuhan, termasuk kegiatan bongkar -muat barang oleh tenaga kerja buruh harus dibatasi apalagi sampai kumpul dan makan bersama.

“SOP itu sudah kita buat, dan itu sudah sesuai standar sekali, jadi kapal asing itu tidak bisa main menyelonong begitu saja, harus diam dulu ditengah laut sana. Tapi sejauh ini, mulai dari Januari hingga Februari 2020 sudah tidak ada lagi kapal asing yang masuk di Kendari,

Bahkan rencana kapal asing yang berencana masuk di Sultra seperti di Wakatobi beberapa waktu lalu sudah tidak dapat izin masuk, sejak adanya wabah virus corona ini.

Olehnya itu, dia mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak perlu panik dan khawatir akan adanya penghentian penyebarangan karena hal itu tidak mungkin. Justru, imbauan langsung dari pusat untuk pusat-pusat penyeberangan akan menjadi prioritas tidak boleh ada akses penutupan, karena bisa berdampak pada semua aspek kebutuhan.

“Sekali lagi, secara umum tidak ada penutupan akses, hanya yang menjadi perhatian lebih itu kedatangan kapal-kapal asing, jangan sampai membawa virus lagi,” tutupnya.

Laporan: Hasrul Tamrin
Editor: Habiruddin Daeng

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.