SULTRAKINI.COM: Negeri Venezuela yang kaya akan minyak, bahkan pernah meraup banyak uang dari minyak saat harganya tinggi, kini masuk dalam krisis ekonomi akibat beberapa tahun belakang minyak turun hingga 50 persen lebih.
Cerita Negeri Kaya Minyak Terlilit Utang
(Foto: Gettyimages/BBC)

Pemerintah Venezuela berencana meminta penundaan pembayaran utang kepada krediturnya, lewat refinancing atau restrukturisasi utang-utangnya. Penundaan pembayaran utang ini akan dilakukan, setelah perusahaan minyak milik pemerintah Venezuela, yaitu PDVSA, membayar utangnya US$ 1,2 miliar atau Rp 16,2 triliun Jumat kemarin.

"Setelah pembayaran ini, saya mengumumkan akan melakukan refinancing dan restrukturisasi seluruh utang luar negeri Venezuela," Kata Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dilansir dari AFP, Jumat (3/11/2017).

Jumlah utang Venezuela saat ini adalah US$ 150 miliar, atau sekitar Rp 2.025 triliun. Kondisi Venezuela saat ini memang tengah susah dan sulit untuk membayar utang.

Apalagi negara ini dikenakan sanksi oleh pemerintah Amerika Serikat (AS). Pada Agustus 2017 lalu, Presiden AS Donald Trump, menandatangani sanksi baru ke Venezuela, yaitu melarang warga AS berurusan dengan utang dan saham baru yang dikeluarkan pemerintah Venezuela dan perusahaan minyak negara itu.

Rangkaian sanksi itu merupakan putaran terbaru hukuman yang dikenakan oleh AS terhadap Venezuela karena menyelenggarakan pemilihan untuk menentukan anggota Majelis Konstituen Nasional pada akhir Juli.

Banyak utang Venezuela berasal dari China dan Rusia. Utang-utang tersebut juga dibayar dengan minyak, yang menjadi andalan ekonomi Venezuela. Jumlah cadangan devisa Venezuela cukup rendah, di bawah US$ 10 miliar.

Sejumlah agensi pemeringkat sudah mengingatkan adanya risiko gagal bayar utang Venezuela. Pemerintahan Maduro lebih mengutamakan uang untuk membeli makanan dan obat-obatan yang langka pasokannya.

"Kami tidak akan menyerah, tidak kepada kekuasaan AS atau kekuatan manapun di dunia," kata Maduro.

Dia mengatakan, sejak menjabat sebagai presiden di 2014, pemerintah Venezuela telah membayar utang US$ 71,7 juta beserta bunganya.

"Venezuela selalu memenuhi kewajiban internasionalnya, saat harga minyak tinggi atau rendah," imbuh Maduro.

Menurut data yang ada, dari utang Venezuela US$ 150 miliar, sebesar US$ 45 miliar adalah utang publik, lalu US$ 45 miliar utang milik PDVSA, sebesar US$ 23 miliar adalah utang dari China, dan US$ 8 miliar adalah utang dari Rusia.

Negara tersebut sekarang menderita resesi ekonomi yang dalam serta hiperinflasi. Mereka kekurangan pasokan barang-barang kebutuhan dasar, yang mayoritas diimpor.

Ketergantungan Venezuela terhadap minyak sangat tinggi. Sebanyak 95% ekspor negara ini berasal dari minyak, yang saat ini produksinya menurun karena kondisi PDVSA yang juga menurun.


Sumber: detik.com

Tanggapan Anda?

Facebook Conversations