SUARA

Cerita Seram Sungai Anggomate Iringi Peristiwa Banjir di Konut

SULTRAKINI.COM: KONUT – Konawe Utara kembali diterjang banjir. Air setinggi satu hingga dua meter menggenangi kawasan penduduk 25 desa di empat Kecamatan, sejak Jumat (15/7/2016). Akibat banjir kali ini, sebanyak 2.871 jiwa dari 925 kepala keluarga mengungsi.

Salah satu wilayah di Konawe Utara yang terpapar bencana banjir yakni Kecamatan Andowia. Warga di wilayah ini, sebenarnya sudah cukup akrab dengan banjir, sebab salah satu sungai terbesar di Konut yang membelah kawasan padat penduduk ini yakni sungai Anggomate, memang kerap meluap dan menyebabkan genangan.

Bagi warga Konawe Utara tentu akrab dengan sungai Anggomate, namun tak hanya dikenal sebagai penyebab banjir, nama sungai Anggomate atau disebut warga sebagai Kali Anggomate ini ternyata juga sudah lekat diingatan warga karena cerita seram yang mengiringi keberadaanya.

Seperti dituturkan seorang warga pada SULTRAKINI.COM, jika dulu kali Anggomate sering menelan korban, oleh karenanya warga setempat menyebutnya dengan nama kali Anggomate, yang berarti kali kematian.

“Sebenarnya Kecamatan Andowia itu namanya dulu distrik Anggomate, namun sering menelan korban karena setiap tahunnya kali ini meluap, sehingga kami menggati dengan Desa Andowia kemudian Kelurahan Andowia, dan Kecamatan Andowia, hingga sekarang,” tuturnya.

yamaha

Untuk banjir kali ini, diduga akibat tingginya curah hujan yang mengguyur Konawe Utara sejak Jumat dinihari (15/7/2016) sehingga membuat sejumlah sungai meluap dan membanjiri kawasan pemukiman penduduk serta jalan raya.

Dijelaskan Camat Andowia, Usman setidaknya ada empat sungai yang diketahui meluap sehingga menyebabkan banjir. Salah satu sungai yang terbesar yakni Anggomate serta tiga sungai kecil lainnya. “Ini kali Anggomate yang meluap sehingga terjadi banjir, selain kali Anggomate ada juga beberapa kali kecil seperti kali Lamondowo, Banggarema, Lambudoni, dan kali Amolame,” ungkapnya.

 

Berdasarkan data SULTRAKINI.COM, banjir yang terjadi di Konut ini, bukan kali pertama. Tiga tahun lalu, tepatnya 25 Juli 2013 banjir dengan ketinggian 4 meter juga merendam wilayah ini di Desa Tapuuwatu dan Desa Longeo, keduanya berada di Kecamatan Asera. Selain itu banjir juga menggenangi Kecamatan Andowia, yakni di Desa Puusuli, Desa Puuwonua, Desa Laronanga dan Desa Labungga.

Saat itu satu orang meninggal dunia dan diperkirakan sebanyak 8.000 warga dari wilayah yang terdampak oleh banjir, mengungsi ke wilayah lain yang tidak terendam.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.