Cerita Wartawan Liputan Ditengan Pandemi Covid-19, Gampang Sakit

SULTRAKINI.COM: KENDARI- Indonesia telah dilandan wabah Covid-19 sejak Maret 2020 hingga sekarang dan berdampak pada tatanan kehidupan. Tak terkecuali di dunia jurnalistik.

Sebagai jurnalis atau wartawan, pada kondisi semacam ini sungguh sangat berat dan menantang. Sebab di tengah gencetan Pandemi Covid-19, seorang wartawan tetap dituntut untuk menjalankan tugasnya menyampaikan informasi di garda terdepan.

Seperti yang dialami Mita, salah satu wartawan perempuan yang bekerja dimedia cetak Harian Berita Kota Kendari harus tetap melakukan liputan rutin tiap hari untuk memenuhi kolom koran yang menjadi tanggungjawabnya setiap kali terbit.

“Tetap, kami dituntun untuk selalu memenuhi kolom yang sudah disediakan sesuai penulisan cetak,” ujar Mita, saat diwawancara, Minggu (20/12/2020).

Selalu menjadi kecemasan saat melakukan liputan di lapangan, apalagi berkaitan dengan update Covid-19 karena harus bertemu langsung dengan orang-orang yang terlibat dalam penangan Covid-19.

Mita mengatakan saat di lapangan merasa takut karena ancaman akan tertular Covid-19 sangat tinggi. Kendala lain juga terjadi saat bertemu narasumber di masa pandemi ini sangat terbatas mengakibatkan informasi yang didapatkan juga terbatas.

Kendala lain juga, Ia alami dari kebijakan kantor untuk para jurnalis yaitu tidak di ada lagi rapat reporter setiap jam 4 sore untuk menentukan isu sebagai bekal peliputan besoknya.

“Kondisi bedampak pada kinerja, sebab kami wartawan harus memiliki isu sendiri untuk dikejar, rapat yang biasa dilakukan tiap sore dikantor sejak Covid-19 tidak ada lagi dan laporan berita juga tidak secara langsung lagi, tapi melalui pesan WhatsApp,” ujar Mita.

Kemudian, pencapaian target liputan hingga sekarang masih tetap terpenuhi. Mita katakan, kalau tidak terpenuhi misalnya dalam satu halaman harus 4 berita dan yang ada hanya 2 atau 3, maka untuk mejadikan 4 diambil dari berita nasional.

“Kalau saya minimal 3, paling banyak 5 saat belum Covid-19, tapi karena Covid-19 kami diberi kelonggaran paling banyak 4 dan paling sedikit 2,” ucapnya.

Wanita kelahiran 1996 ini mengaku kondisi kesehatan sejak pandemi Covid-19 beberapa pekan terakhir ini sering drop. Ia katakan mungkin karena faktor kelelahan, dan juga ikut takut dengan berbagai informasi Covid-19.

“Selain itu, jarak rumah ke kantor dan tempet liputan cukup jauh. Saya tinggal bersama orang tua di Desa Wolasi, Kecamatan Wolasi, Kabupaten Konawe Selatan, namun tidak ada kendala, karena saya punya kendaraan sendiri. Kendalanya hanya soal cuaca dan kondisi mewabahnya Covid-19 jadi gampang sakit,” ungkap Mita

Di era normal baru ini, sebagai wartawan ada banyak tantangan yang dialami. Mulai dari profesi wartawan tergolong dalam Orang Dalam Resiko atau ODR. Sebab saat menjalankan tugas mulia ini, untuk mendapatkan data yang faktual dan valid, wartawan sangat rentan tertular virus Covid-19 dari organisasi.

Kemudian, berita hoax yang menjadi momok harus segera diluruskan agar tidak menyesatkan publik. Untuk itu, turun di lapangan secara langsung untuk mendapatkan data dan fakta mutlak harus dilakukan. Sementara itu virus Corona selalu mengancam jiwa.

Ditambah lagi selain mencari, mengolah, dan memberikan kabar kepada halayak, profesi wartawan memiliki tugas memberikan edukasi kepada masyarakat. Oleh sebab itu, berita yang disajikan kepada masyarakat sedapat mungkin memberi pesan positif.

Selain itu, tugas profesi sebagai wartawan di era pandemi adalah jadi agen ubah laku disiplin 3 M (Memakai Masker, Mencuci Tangan, dan Menjaga Jarak). Dengan demikian, edukasi yang tepat diharapkan tersampaikan ke masyarakat.

Laporan: Wa Rifin

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.