Dampak Kabar Corona, Harga Beras di Wakatobi Melonjak hingga 17 Persen

SULTRAKINI.COM: WAKATOBI – Virus Corona bukan saja mengancam nyawa manusia, namun juga mempengaruhi perekonomian suatu negara bahkan sampai ke daerah. Kini di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara sejumlah harga bahan pokok melonjak, terutama beras yang kenaikkannya hingga 17 persen.

Pantauan Sultrakini.com, harga beras cap Poles 57 mencapai Rp 620 ribu per karung ukuran 50 kilogram, padahal sebelumnya Rp 530 ribu. Sementara harga beras super Poles 577 Rp 530 ribu per karung ukuran 50 kilogram sebelumnya hanya Rp 480 ribu.

Sedangkan beras cap Kelelawar seharga Rp 530 ribu per karung ukuran 50 kilogram dari sebelumnya hanya Rp 490 ribu.

Para pedagang mengaku tingginya harga beras dikarenakan mereka beli dari penjual beras di Kapal Kendari dengan harga yang tinggi.

Kepala Dinas Perindustrian Wakatobi, Safiuddin, mengatakan kavar virus Corona di Indonesia menimbulkan kekhawatiran serta ketakutan berlebihan di lingkungan masyarakat. Mereka akhirnya membeli membeli beras secara berlebihan sebagai stok di rumah masing-masing.

“Adanya ketakutan dari masyarakat sehingga hal ini dimanfaatkan oleh para pedagang untuk menaikkan harga,” jelas Safiuddin, Kamis (19/3/2020).

Fortune

Penyikapi persoalan tersebut, pihaknya turun ke lapangan mengecek harga barang, terutama beras. Namun, hasilnya di beberapa tempat-stok beras masih banyak.

Safiuddin meminta masyarakat tidak ketakutan kehabisan beras. Sebab, hal tersebut menjadi dimanfaatkan oleh sejumlah pedagang sebagai alasan untuk menaikkan harga di pasaran.

“Apalagi beberapa hari ini kita lihat awalnya masyarakat biasa beli literan, sekarang beli beras dengan karung-karungan,” ucapnya.

Sehubungan kapal pengangkut beras akan berlabuh ke Wakatobi dalam waktu dekat, Dinas Perindustrian Wakatobi akan menggelar rapat Tim Perpadu Inflasi Daerah (TPID) yang terdiri dari unsur pemda, TNI, Polri, dan Kejaksaan pada, Jumat (20 Maret 2020). Rapat dimaksudkan untuk mengantisipasi persoalan harga yang tinggi berlarut-larut.

“Nanti dalam rapat ini (dibahas) langkah apa akan kita akan ambil ke depan. Bahkan, kami berencana memanggil pedangan dan kalau bisa batasi orang yang beli, jangan kasih perkarung lagi,” ujarnya.

Hasil penelusuran Disperindag Wakatobi juga beberapa pedagang nakal mengaku stok beras tinggal sedikit ke petugas Disperindag, tetapi ternyata terpantau banyak di lapangan.

Laporan: Amran Mustar Ode
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.