Deflasi Lagi, Kendari Harus Hati-hati

Oleh: Arif Rahman, S.Tr.Stat.

Setiap bulannya BPS merilis angka inflasi di sejumlah kota di Indonesia. Pada awal Desember lalu,  BPS kembali merilis angka inflasi di 82 kota seluruh Indonesia. Menurut BPS, inflasi pada tingkat nasional sebesar 0,14 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 138,60. Kemudian, dari 82 kota tersebut, 57 kota mengalami inflasi dan 25 kota mengalami deflasi.

Jika dibandingkan dengan kota lain, maka Kota Kendari adalah satu-satunya Kota yang mengalami deflasi di Pulau Sulawesi pada bulan November, yaitu sebesar 0,36 persen. Dan pada bulan lalu (red: Oktober), Kota Kendari juga mengalami deflasi sebesar 0,59 persen. Lalu, apa dampaknya jika terjadi deflasi? Sebelum membahas lebih lanjut, sebenarnya apa itu deflasi?

Konsep Deflasi

Berbicara tentang deflasi, maka sangat erat kaitannya dengan inflasi.  Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi merupakan kecenderungan naiknya harga barang dan jasa pada umumnya yang berlangsung secara terus menerus. Selanjutnya, deflasi adalah kebalikannya dari inflasi. Jadi, deflasi bisa juga diartikan kecenderungan turunnya harga barang dan jasa pada umumnya yang berlangsung secara terus menerus.

Kemudian, untuk menghitung inflasi/deflasi, BPS menggunakan indikator Indeks Harga Konsumen (IHK). IHK adalah suatu indeks yang menghitung rata-rata perubahan harga dari suatu kelompok barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga dalam kurun waktu tertentu.  Perubahan IHK dari waktu  ke waktu menggambarkan tingkat kenaikan harga (inflasi) atau tingkat penurunan harga (deflasi) dari barang dan jasa.

Penyebab Deflasi di Kendari

Deflasi yang terjadi bukan tanpa sebab. Secara umum, deflasi terjadi karena turunnya permintaan konsumen. Lalu, turunnya permintaan konsumen salah satunya disebabkan oleh terlalu banyak hasil produksi yang sama. Alhasil, produsen akan meningkatkan persaingan untuk bisa mendapatkan konsumen melalui penekanan harga agar barang mereka laku terjual.

Sementara itu, menurut BPS, deflasi yang terjadi di Kota Kendari disebabkan oleh turunnya indeks harga pada kelompok bahan makanan yaitu sebesar 1,67 persen. Komoditas yang mengalami penurunan harga pada November 2019 adalah sayur-sayuran dan ikan segar dengan rincian antara lain wortel, kembung/gembung/banyar/gembolo/aso-aso, daun paku/pakis, pepaya, daun singkong, cabai merah, bawal, tembang, layang/benggol dan labu parang/manis, rambe, cumi-cumi, kacang panjang, ekor kuning, dan katamba.

Dampak Deflasi

Tingkat inflasi/deflasi berkaitan erat dengan kondisi perekonomian suatu daerah. Kelompok yang paling dirugikan akibat adanya deflasi yaitu para pelaku bisnis. Kondisi deflasi pada suatu daerah menyebabkan banyak pelaku bisnis berlomba-lomba untuk dapat menekan harga jual demi menarik minat konsumen. Hal tersebut berakibat pada pemerosotan keuntungan bisnis serta apabila kondisi tersebut terus dibiarkan maka akan memaksa pelaku bisnis untuk menghentikan aktivitas atau kegiatannya sebab tidak mempunyai biaya produksi.

Selanjutnya, perusahaan yang merugi akibat keuntungan yang rendah kemudian akan memutuskan untuk melakukan PHK besar-besaran terhadap karyawannya agar bisa mengurangi pengeluaran gaji tenaga kerja. Kondisi tersebut tentu saja berdampak pada peningkatan jumlah pengangguran di daerah tersebut. Hal tersebut sejalan dengan data BPS bahwa tingkat pengangguran di Kota Kendari tahun 2019 naik 0,11 poin dibanding tahun 2018 yaitu menjadi 6,15 persen. Dan, tingkat pengangguran Kota Kendari adalah yang paling tinggi di Provinsi Sultra.

Upaya Pengendalian Deflasi

Sebagaimana yang dilaporkan oleh BPS, deflasi di Kota Kendari disebabkan oleh turunnya harga pada komoditas sayur-sayuran dan ikan segar. Apabila harga sayur-sayuran dan ikan segar dibiarkan turun terus, maka petani dan nelayan tentu akan mengalami kerugian karena harga jual sayur-sayuran dan ikan segar tidak dapat menutupi ongkos produksi yang sudah dikeluarkan. Hal ini berakibat pada turunnya kesejahteraan petani dan nelayan.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah melalui operasi pasar untuk mengendalikan harga sayur-sayuran dan ikan segar agar tetap stabil di pasaran. Operasi pasar tersebut tidak mustahil untuk diterapkan pada komoditas sayur-sayuran dan ikan segar.

Selain itu, pemasaran sayur-sayuran dan ikan segar juga perlu diperluas hingga ke Provinsi lain di Pulau Sulawesi. Apabila produksi sayur-sayuran dan ikan segar dapat terdistribusi ke daerah lain, maka sayur-sayuran dan ikan segar tidak akan menumpuk di Kota Kendari saja, sehingga harga sayur-sayuran dan ikan segar akan tetap stabil dan berdampak pada terjaganya kesejahteraan petani dan nelayan di Kota Kendari.

Penulis: Statistisi Ahli Pertama di BPS Sekadau

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.