SUARA

Dilan Class OJK Hadirkan Staf Khusus Presiden RI

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tenggara mengadakan Kelas Duta Inklusi dan Literasi Keuangan (Dilan Class) dengan tema Keberagaman yang Merayakan Indonesia, sebagai bagian memperingati HUT RI ke-75.

Dilan Class kali ini menghadirkan narasumber yang memiliki panggilan jiwa dan ahli dalam bidang toleransi, yaitu Ayu Kartika Dewi, co-founder gerakan SabangMerauke dan merupakan salah satu staf Khusus Presiden RI dari kalangan milenial.

Kepala OJK Sultra, Mohammad Fredly Nasution, mengatakan Dilan Class dihadiri 140 orang peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, madrasah aliyah, SMA, siswa pesantren, Generasi Baru Indonesia (GenBi) dibawah binaan Kantor BI Sultra, KLC, Gerakan Kendari Mengajar guru sekolah minggu di beberapa gereja, pendakwah dari beberapa masjid, hingga berbagai komunitas pemuda berbasis agama di Sultra, misalnya HMI, Perkantas, GMKI, Ikatan Mahasiswa Hindu, Pemuda NU, Pemuda Muhammadiyah, dengan pendaftar mencapai lebih dari 200 orang.

“Kegiatan ini dikolaborasikan dengan program unggulan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Sultra dan Program Budaya Kerja OJK,” ucap Fredly, Senin (24/8/2020).

OJK Sultra terus berupaya menyelenggarakan Dilan Class untuk memberikan manfaat, khususnya mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui literasi keuangan atau hal-hal lain yang bermanfaat demi kemajuan Indonesia, khususnya di “Bumi Anoa”.

“Komitmen ini terbukti dengan “hattrick” atau sudah tiga kali berhasil menghadirkan narasumber yang merupakan staf khusus presiden Republik Indonesia karena salah satu kebutuhan daerah adalah akses terhadap narasumber dan pembelajaran yang berkualitas,” ujarnya.

Dilan Class tersebut, dipandu oleh Ridhony Marisson H. Hutasoit selaku Kepala Subbagian Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Sultra (moderator) yang bersama dengan narasumber merupakan alumni short term Australia Award Scholarship.

yamaha

Adapun hal penting disampaikan Stafsus Presiden RI, Ayu Kartika Dewi, yakni pemimpin masa depan di publik sektor setidaknya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, empatik, terbuka, dan mampu berkolaborasi.

“Kita tidak bisa klaim diri kita 100 persen toleran, ada implicit bias atau ketidaksengajaan rasis yang perlu ditangani,” ucap Ayu.

Perlu diketahui, kata dia, bias toleransi ada berbagai jenis, seperti affinity bias (bias kesamaan), confirmation bias (bias menarik kesimpulan), attribution bias (bias pengamatan), gender bias (bias karena jenis kelamin), dan conformity bias (bias bertindak serupa). Cara menanggulangi bias tersebut adalah dengan cara rendah hati mengakui implicit bias kita sendiri, dan latih terus otak kita untuk menentang implicit bias.

Ayu juga menyampaikan level toleransi, yaitu level tidak saling mengganggu, menikmati
keberagaman, merayakan keberagaman, dan melindungi keberagaman. Puncak level toleransi adalah melindungi keberagaman.

Selain itu, terkait pengelolaan keuangan, kata Ayu, prinsip mindfulness dapat digunakan saat memilih atau memilah dalam berbagai aktivitas keuangan, misalnya dalam berbelanja.

“Menggunakan kesadaran penuh sebelum membuat keputusan (jeda), misalnya mempertanyakan apakah kita butuh beli barang tersebut, apakah kita sudah punya produk/barang yang sama sebagai bahan pertimbangan, dan sebagainya,” tambahnya.

Hal ini senada dengan pernyataan Viktor Frankl yang menyatakan “di antara stimulus dan respons terdapat sebuah jeda. Di dalam jeda itu, kita punya kekuatan untuk memilih respons”. (C)

Laporan: Wa Rifin
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.