SUARA

Ditolak Sekolah, Seorang Ayah di Kendari Tuai Dukungan Atas Surat Terbukanya ke Anies Baswedan

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Seorang bapak di Kendari dengan akun facebook bernama Putut Tedjo Saksono mengunggah surat terbukanya untuk Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Anies Baswedan.

Dalam surat yang diunggah 14 Juli 2016, pukul 15.31 Wita tersebut, ia menceritakan tentang anaknya yang tidak dapat masuk di SMP hanya karena nilainya tidak memenuhi syarat untuk diterima di sekolah tersebut. Padahal sang anak merupakan salah satu siswa berprestasi di sekolah asalnya dan nilainya tanpa rekayasa dari sekolah karena di bekas sekolah anaknya tersebut tidak merekayasa nilai.

Berikut isi lengkap surat Putut Tedjo Saksono.

MERASAKAN HASIL PENDIDIKAN DENGAN BATIN YANG REMUK
(Surat Terbuka Untuk Bapak Anis Baswedan, Menteri Pendidikan Nasional)

Assalamualaikum, Selamat Pagi dan salam kami bapak Anis Baswedan, Menteri Pendidikan Nasional, Semoga Bapak selalu dalam keadaan sehat lahir dan batin dan selalu diberi Rahmat dan Petunjuk Allah, Tuhan Semesta Alam.

Bapak Menteri yang baik, perkenalkan, Saya seorang ayah yang mempunyai anak permpuan, saat ini telah lulus dari jenjang pendidikan dasar, Sekolah Dasar Islam Terpadu (SD IT) Al- Qalam, di kota Kendari provinsi Sulawesi Tenggara. Yang menurut kami adalah sekolah yang baik, dan termasuk sekolah unggulan di kota Kendari. Dan Alhamdulillah anak perempuan kami yang bernama Sekarlangit Az-Zahra mendapat prestasi yang baik, dan termasuk salah satu siswi yang berprestasi di sekolah tersebut. Dengan nilai rata-rata untuk hasil ujian SHUN 7,2.

Selanjutnya kami mendaftarkan ke jenjang yang lebih tinggi, SMP Negeri 4 Kendari, Sekolah Negeri yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah, dan sekolah yang masih dalam satu rayon dengan sekolah asal anak kami. SD IT Al-Qalam Kendari. Dengan tanda bukti pendaftaran nomor 925. Berharap jika anak kami bisa diterima sekolah di SMPN tersebut. Kami bisa merasakan pendidikan gratis. Hal yang sangat kami idamkan, sehubungan pekerjaan saya yang hanya sebagai pekerja serabutan.

 

Bapak Menteri Pendidikan Nasional yang baik, anak saya tidak bisa diterima di sekolah tersebut karena persyaratan untuk bisa menjadi siswa SMPN 4 Kendari rata-rata nilai SHUN harus diatas 8. Sampai di sini sepertinya tidak ada yang salah, dan sepertinya saya konyol menulis surat untuk Anda.

Baiklah bapak Menteri. Silahkan diminum dulu kopi anda, atau hal yang lainnya. Karena di dalam menulis surat kepada anda, saya selalu membayangkan senyum manis nan bijak yang selalu menghiasi layar kaca, anda adalah menteri idola dan harapan kami untuk pendidikan yang baik di negeri ini.

Kami lanjutkan surat kami, SD IT Al-Qalam Kendari di dalam menerapkan belajar-mengajar menempatkan 2 orang guru di dalam kelas. Wali kelas selalu memberikan pendampingan secara personal, berkeliling dari bangku satu ke bangku lainnya, dan guru yang lain memberikan materi pelajaran. Anak kami belajar dimulai dari pukul 7.15 Wita, berakhir hingga pukul 16.00 Wita. Dari hari Senin hingga hari Jum’at. Untuk hari Sabtu dan Minggu bisanya libur. Namun kadang hari Sabtu di isi materi lain yang bermanfaat.

Setelah anak kami kelas 6, sekolah tersebut mengadakan bimbingan khusus di hari Sabtu untuk persiapan ujian akhir. Biaya diambil dari dana BOS dan iuran orang tua siswa. Saya merasa sangat beruntung, karena seorang guru di sekolah tersebut, juga merupakan teman kami sesama penggiat Literasi dan Sastra di kota Kendari. Meluangkan waktu 2 kali di dalam satu minggu, datang ke rumah kami, memberikan bimbingan dalam mempersiapkan Ujian Akhir Nasional.

Dari semua upaya yang dilakukan sekolah tersebut, rupanya anak muridnya tidak mampu menembus sekolah negeri, seperti apapun sekolah itu. Karena persaratan hasil nilai ujian yang sangat tinggi di kota kami tercinta, Kota Kendari. Kemudian apa yang salah di SD IT Al-Qalam Kendari. Rupanya yang salah adalah KEJUJURAN. Sekolah ini tidak mau mendongkrak nilai anak muridnya, di kala kesempatan terbuka sangat lebar. Ada waktu panjang sebelum hasil ujian diserahkan kepada Dinas Pendidikan Kota. Ada banyak kesempatan yang bisa dibuat. Tidak elok menuduh sekolah mana yang melakukan tindakan. Justru itu menjadi pertanyaan kami dan kewajiban dinaslah yang bisa menerangkan kepada kami, serta melakukan pembenahan demi yang katanya “tercapainya pendidikan yang baik”.

Hasil Ujian Nasional SD IT Al-Qalam berada jauh di bawah sekolah negeri lain yang seperti apapun sekolah itu, yg tentu ………………………………… (maaf saya tidak bisa memberikan deskripsi)

yamaha

Saya tidak berharap dalam hal ini, banyak pihak saling menyalahkan, dengan bijak kita bisa sama-sama berbenah memperbaiki keadaan, semuanya ini bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk anak-anak kita yang manis, harapan kita semua. Bangsa ini.

Sampai surat ini saya buat, bapak Menteri, saya belum tahu harus ke mana anak saya sekolah. Beberapa temannya tadi melambaikan tangan ke arahnya, hari ini mulai pada mendatangi sekolah barunya, esok mereka sudah berganti seragam. Bergembira menyongsong keremajaan mereka, anak saya, Sekarlangit hanya terdiam, dan selalu bertanya,”Ayah saya sekolah di mana?”

Sebagai orang tua, seperti halnya anda bapak, tentu batin kita porak-poranda, hasil jerih payahnya selama ini tidak ada pengharapan. Dengan segala keterbatasan usaha saya dan anak saya, menuai hasil pendidikan yang seperti ini. Kami bukan orang yang beruntung dengan harta yang banyak, sehingga mampu membeli sekolah yang dikehendaki, atau lewat jalur lain, dengan cara ikut undangan rapat komite sekolah, dengan kompensasi memberikan biaya tertentu, demi pembangunan sekolah….ya ….DEMI PEMBANGUNAN SEKOLAH. Istilah kami di Kendari “Lewat Jendela (Letjen)”. Kami hanyalah orang yang merasa bersyukur dengan segela keterbatasan biaya kehidupan, berharap mendapatkan pendidikan gratis. Apa kami salah?

Selain kepada Allah, Tuhan menurut kepercayaan kami, kepada anda bapak Menteri, dan jajaran pendidikan yang anda pimpin kami berharap, anak-anak kami bisa memperoleh pendidikan yang layak. Walau kami sadar sepenuhnya di daerah seperti Kendari pendidikan yang layak masih beda dibandingkan di kota maju seperti di Jawa, maupun di kota Makassar, kota terdekat. Namun kami sadar tantangan untuk maju memang terasa sulit jika ukuran hasil ujian nasional dijadikan barometer pendidikan, masing-masing sekolah berusaha mencari cara untuk bisa mendapatkan hasil yang memuaskan, demi nama sekolahnya dan demi anak didiknya bisa sekolah di sekolah negeri yang baik. Tentu hal ini benar jika dilakukan dengan baik dan penuh dengan kejujuran. Namun jika sebaliknya, dengan alasan takut dimarahi atasan dan ketakutan yg lainnya, pasti dampaknya tidak baik, dan siswa seperti anak kami yang akan dikorbankan.

Terimakasih bapak Anis Baswedan, jika sempat meluangkan sejenak waktu anda untuk membaca surat ini dan berharap ada pembenahan yang memadai setelahnya. Sebab kami yakin di sekitar kami banyak pendidik yang baik, hanya kadang keadaan yang tidak berpihak.

Kendari, 14 Juli 2016
Hormat Kami

P. Tedjo Saksono
(Pekerja serabutan yang tinggal di Kendari)

Surat terbuka yang ditulis Putut Tedjo Saksono, mendapat banyak dukungan dari nitizen di jejaring sosial tersebut. Berbagai komentar positif menanggapi postingan yang menggambarkan potret pendidikan masa kini. Salah satunya yakni Wakil Walikota Kendari, Musadar Mappasomba.

“Mungkin kata maaf tidak lagi relevan sy ucapkan pada Saudaraku, tapi sungguh…betapa rindu hati ini melihat KEJUJURAN di dunia pendidikan. Itulah sebabnya beberapa tahun yg lalu di peringatan HARDIKNAS, kami mencanangkan GAM KOTA KENDARI. ( Gerakan Anti Menyontek ) Di kota Kendari. Tapi TANGAN SY tidak terlalu panjang untuk untuk bisa “Mengelus” hingga gerakan ini menjadi gerakan MORAL YG BERGELOMBANG. yg diharapkan bisa membentuk karakter pendidik dan peserta didik. Walau begitu, dengan perasaan “RENDAH DIRI” sy haturkan BERLAKSA PERMOHONAN MAAF yg kuketik dgn mata kabur dan hidung yg berair,” tulis Wakil Walikota dua periode ini di kolom komentar akun Putut.

Salah seorang dosen Universitas Halu Oleo, Patta Nasrah juga turut mengomentarinya dengan menuliskan “Kasus yang hampir sama sehingga anak saya sekolah ke Jawa.”

Selain itu, ada juga beberapa komentar dengan nada kritik pada dunia pendidikan selaras dengan postingan tersebut, misalnya komentar dari Yandri Salim yang menanggapinya dengan tulisan, “Sdh rahasia umum yang begini, Pak. Anak kakak saya juga begitu kasusnya.”.

Sementara itu, nitizen lainnya, Janitra Lituhayu memberikan saran melalui kolom komentar, agar tulisan langsung dikirim ke Mentri Pendidikan, Anis Baswedan, “Langsung saja dikirim ke Pak Anis. Saya rasa beliau tidak akan baca kalau di Facebook begini.” tulisnya

Akun Tina Platina mengomentari dengan “Sekolah negeri apa hanya satu sekolahan saja to pak.. Biasanya ada beberapa skul negeri..” dan nitizen lainnya, Reza Mahardika berkomentar, “sabar pak..kejujuran di atas segalanya.itu jauh lebih membanggakan drpd sekolah favorit yg mentereng.kbtulan anak sy bersekolah yg di tempat yg sama(skrg br naik kls 5).”

Dukungan lainnya dituliskan Dewi Murni yang mengomentari dengan, “Kejujuran begitu mahal di Indonesia, bahkan berawal dari lembaga yang namanya pendidikan…tapi saya pegang keyakinan bahwa siapa yang jujur, keberhasilan dan kesuksesan akan bisa diaruhnya, yakin dan tetap semangat, sekolah hanya kecil perannya dalam meraih kesuksesan seseorang, kesuksesan akan ditentukan oleh dirinya sendiri, sebagai teladan adalah kisah Andri Rizky Putra…saking muaknya dengan sekolah2 yang tidak jujur, justru memberi motivasi kepadanya untuk maju dan sukses tanpa sekolah.”

Siti Syamsiyah menaggapinya dengan “Masih perlu digiatkan revolusi mental demi kejujuran dlm hal sekecil apapun di ruang lingkup manapun…dan mencegah retardasi mental agar junior kita terbiasa dengan kejujuran sejak dini…sebelum mereka menjadi senior yg unggul.”

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.