Dugaan Penipuan, Anak Lorong Tantang Bupati Koltim

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Perseteruan Bupati Kolaka Timur (Koltim) Tony Herbiansyah dan Ishak Ismail, dalam dugaan kasus penipuan uang senilai miliaran rupiah, kian memanas.

Ditemui SultraKini.com diruang kerjanya, Ishak Ismail atau yang akrab disapa ‘Anak Lorong’, blak-blakan menantang orang nomor satu di Koltim itu untuk mengakui kesalahannya.

“Sekalipun Tony mengakui dan meminta maaf atas perbuatannya tentang uang miliaran itu, saya tidak akan pernah mencabut laporan saya di kantor Polisi,” ujar Ishak dihadapan sejumlah awak media, Senin (30/7/2018).

Dalam kasus tersebut, mantan bakal calon Walikota Kendari ini berjanji akan terus mengawal laporannya yang sedang berproses di Polda Sultra.

“Target saya minimal Tony sesegera mungkin untuk mengakui bahwa telah mengambil uang saya. Adapun setelah itu, rasanya juga tidak mungkin adanya jalan damai dalam kasus ini. Bahkan, saya berencana akan menyerahkan kasus ini kepada kuasa hukum saya untuk mengawal kasus ini agar lebih terarah ujungnya seperti apa,” tuturnya.

Kekesalan Ishak semakin memuncak, pasalnya sejak kasus ini dilaporkan ke Polda Sultra, Tony selalu mengelak dan tidak pernah mengakui persoalan tersebut.

“Hubungan kami sebenarnya awalnya baik-baik saja dan harmonis. Namun karena saya merasa di zolimi saat pemilihan bupati di Koltim, ditambah lagi uang saya sudah mencapai miliaran ruliah habis untuk dia. Tapi dalam kasus ini saya tegaskan, tidak kaitannya dengan hubungan partai politik, ini murni persoalan personal,” tegas Ishak.

Ishak mengaku, total keseluruhan uang yang telah dipakai oleh Tony mencapai Rp1 miliar. Uang senilai miliaran rupiah itu digunakan oleh Tony pada keperluan kampanye saat maju mencalonkan sebagai Bupati Koltim.

“Sebelum pak Tony maju Pilkada, uang saya yang digunakan Rp1 miliar. Uang itu digunakan untuk anggaran kampanye, atribut dan pergerakan saat itu. Setelah terpilih sebagai Bupati, pak Tony kembali mendatangi saya minta untuk dibiayai dalam pengurusan sebagai ketua Nasdem. Maka berangkatlah saya dengan beliau ke Jakarta dan uang itu senilai Rp100 juta, saya berikan disalah satu kamar hotel dan disaksikan oleh beberapa pengurus Nasdem. Tidak hanya itu, pak Tony minta untuk diuruskan kantor DPW Nasdem di Kendari, maka saya sewakanlah lagi dengan menghabiskan uang Rp75 juta,” jelasnya.

Pasca itu, lanjut Ishak, Tony tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Tony seolah menarik diri dan tidak putus komunikasi terhadap Ishak.

“Setelah semua yang sudah saya lakukan untuk beliau, jangankan mau bantu saya untuk pengurusan SK calon Walikota saat itu, telepon dan chat WA saya saja sudah tidak pernah lagi mau diangkat. Oleh dasar itulah, saya langsung melaporkan Tony ke Polda Sultra dalam dugaan kasus penipuan,” ungkapnya.

Laporan: Wayan Sukanta
Editor: Habiruddin Daeng

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.