Efek GMT, Warga Sultra Jadi Aneh

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Fenomena langka Gerhana Matahari Total yang terjadi, Rabu (9/3/2016) pagi, menghebohkan masyarakat dunia terutama Indonesia, termasuk di Sulawesi Tenggara. Bahkan fenomena 35 tahun sekali ini membuat warga jadi aneh.Di laman sosial media Facebook, para pemilik akun di Sultra ramai-ramai memposting keanehan tersebut. Yakni saat menyaksikan momen GMT sekitar pukul 08.21 Wita. Sejumlah warga menonton \”Tayangan Tuhan\” itu dengan berbagai cara.Misalnya akun Inna Princesbarbie Xakmhal, dia memposting foto tantenya yang menyaksikan GMT menggunakan helm tentara sambil menulis \”kasian istrix om findat sama om samsir.. efek gak ad kaca mata GMTx helm woroagipun jadi\”.Lain lagi dengan akun Emhyk Bhuccyu, dia memposting foto kawannya yang menonton GMT menggunakan ember hitam. Akun Jumjum Jumiaty menyaksikan GMT dari Kabupaten Kolaka menggunakan gelas. Sedangkan Joko Wakyudi menonton GMT hanya dengan memakai kantong kresek hitam yang ditutupi di kepalanya.Ada juga yang menonton GMT di Raha Kabupaten Muna dengan \”berkacamata\” penutup stoples seperti yang diposting Adin Juga. Sementara Jack Saputra memotret teman-temannya yang menyaksikan GMT hanya dengan memakai helm Boogie berkaca hitam. Dira Fazfazilla Adira memakai klise foto.\”Alhamdulilah liat gerhana matahari separoh, walaupn cuma pke kertas rontgen xixixi,\” tulis akun Novi Saja Kunee sambil memposting fotonya menyaksikan GMT di laman Facebook.Tidak sedikit diantara warga Sulawesi Tenggara yang melihat langsung ke arah matahari dengan mata telanjang alias tanpa filter apapun seperti yang dilakukan Murdiono di Kolaka, termasuk warga Sultra lainnya.Padahal, para ahli menyarankan untuk tidak menatap ke arah matahari secara langsung saat awal terjadinya gerhana dan setelah gerhana penuh berakhir. Wadah atau kaca biasa dinyatakan tidak aman dipakai untuk melihat proses GMT.Alasannya menurut tim dokter Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung, kacamata hitam komersil yang banyak dijual di pasaran tidak memiliki filter sinar ultraviolet dan infrared yang sesuai. Tim dokter menyebutkan, menatap matahari secara langsung termasuk saat gerhana parsial ataupun total, berisiko merusak mata pengamat.Kerusakan mata saat menatap matahari atau proses gerhana secara langsung tanpa alat khusus itu disebut solar eclipse retinopathy. Dampak paling buruk bisa menyebabkan retina rusak berat dan permanen.Ketua tim dokter Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung, Iwan Sovani mengatakan, gejala kerusakan mata itu seperti penglihatan buram, terdapat skotoma atau bayangan hitam yang menutupi pandangan, metamorphopsia atau melihat garis lurus menjadi bengkok, atau melihat benda menjadi lebih besar atau kecil. \”Selain itu terjadi gangguan penglihatan warna, silau, dan sakit kepala,\” katanya seperti dikutip dari Tempo.Menatap matahari kurang dari satu menit sudah cukup merusak mata. Alat yang aman untuk melihat gerhana matahari yaitu kacamata khusus yang dilengkapi filter sinar ultraviolet dan infra merah yang mengandung lapisan tipis aluminium, chromium, atau perak.Meski demikian, ada juga warga Sultra yang melihat GMT dari sudut pandang berbeda. Misalnya Rily \’Azalea\’ Arfah yang melihat GMT dari bayangan yang ditumbulkan. \”Tidak sprt biasax daun2 pun yg trkna sinar mthri hr ini memantul mmbntuk sprt bln sabit,\” tulisnya di Facebook.Sedangkan legislator Sultra Yaudu Salam Ajo berkomentar tentang sikap masyarakat yang menyaksikan GMT dengan cara pandang masing-masing.\”Otak sekuler vs otak muslim dalam menyikapi Gerhana Matahari,\” tulisnya.Apapun yang dilakuan warga Sulawesi Tenggara saat fenomena alam langka ini terjadi, merupakan bentuk euforia dalam menjadi saksi sejarah yang hanya sekali seumur hidup. Namun demikian, kesehatan dan keselamatan jangka panjang mesti lebih diutamakan daripada sekadar euforia belaka. Terpenting, meyakini bahwa Tuhan Maha Kuasa atas apa yang ada di Bumi dan di Langit. Ada-ada saja kelakuan manusia.(B)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.