Iklan Clarion

Empat Guru Sultra Terpilih Ikuti Workshop Perlindungan Guru Dikdas se-Indonesia

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Empat guru asal Provinsi Sulawesi Tenggara terpilih menjadi peserta workshop perlindungan pendidikan dasar (Dikdas) angkatan III. Kegiatan yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Bogor itu berlangsung 6-9 November 2018.

Salah seorang peserta asal Sultra, Paruddin, menuturkan peserta workshop sebanyak 121 orang se-Indonesia, empat di antaranya dari Sultra. Mereka adalah Arianto (guru SMPN 5 Kendari), Iis Rosdina (guru SMPN 13 Kendari), Wasree Galuatri (guru SD di Muna), dan dirinya guru SMPN 1 Kendari.

“Syaratnya (menjadi peserta), kami harus mengirimkan artikel asli secara online melalui kesharling dikdas Kemendikbud. Namun dari sekian orang yang mengirim artikel, 121 orang dinyatakan lulus dan menjadi peserta workoskop ini,” terang Paruddin kepada SultraKini.Com, Kamis (08/11/2018).

Dia menjelaskan, untuk pemilihan peserta, 45 persen berdasarkan seleksi penulisan tentang artikel perlindungan guru secara online. Selebihnya finalis inobel 2017, finalis guru prestasi tingkat nasional, serta finalis lomba olimpiade guru nasional.

“Ini merupakan bentuk apresiasi bagi guru-guru berprestasi se-Indonesia atas dedikasinya terhadap pendidikan,” lanjutnya.

Dia berharap, kegiatan tesebut dapat meningkatkan kapasitas tentang perlindungan guru. Artinya, guru dalam melaksanakan tugasnya wajib mendapatkan pembinaan, pengembangan, dan peningkatan kesejahteraan. Kemudian mendapat penghargaan yang layak dan perlindungan kekayaan intelektual sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

“Melalui bimtek atau workshop ini, diharapkan guru menjadi guru yang diandalkan. Karena guru merupakan filter yang mengarah pada perilaku dan budaya negatif generasi muda,” jelasnya.

Guru juga kata dia, harus mampu menghadapi revolusi industri 4.0 yang mengarah pada kemajuan teknologi. Tentu guru bertugas mengarahkan peserta didik bisa memilah dan memilih yang bisa dan boleh diakses, ditiru, dan diambil hikmahnya.

“Pembelajaran sekarang harus berbasis critical thinking (berpikir kritis) atau problem solving (pemecahan masalah) yang mengarah pada penumbuhan kreativitas tinggi. Terpenting lagi, peserta didik harus memiliki kemampuan berkomunikasi. Pembelajaran tidak lagi berbasis kompetisi, tetapi berbasis kerja sama,” sambungnya.

Laporan: Muh Yusuf
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.