Festival Pesona Budaya Tua Buton

Gerhana Kini vs Dulu, Ini Bedanya

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Terjadinya Gerhana Matahari tahun ini tampak lebih meriah dari peristiwa serupa di tahun-tahun silam. GMT pada Rabu (9/3/2016), warga tampak bergembira ria seolah melupakan kekuasaan Tuhan akan hal ini. Berbeda dengan yang terjadi di masa Rasulullah Muhammad SAW seperti yang tertulis dalam riwayat.Pada masa Rasulullah SAW, umat muslim dipenuhi rasa takut akan kebesaran Allah SWT. Peristiwa tersebut, justru mengajar umat untuk melaksanakan salat berjamaah.Menurut Imam Mesjid Pesantren Ummussabri Kendari, Muhammad Anwar, peristiwa Gerhana Matahari tidak dijelaskan kepastian dalam hadits atau lainnya, tetapi hanya terkait proses siang dan malam hari.\”Agama yang memberikan dasar tentang terjadinya Gerhana Matahari. Tetapi bagaimana model terjadinya itu dengan pendekatan ilmu,\” katanya.Di zaman itu juga, ada ilmu untuk mengkaji fenomena gerhana yang dinamakan ilmu Falaq, yang dilakukan oleh masyarakat Arab kuno. Tetapi belum seilmiah pada masa sekarang.Selain itu, ustad Anwar menambahkan, Rasulullah SAW memiliki kekuatan wahyu untuk mengetahui terjadinya Gerhana Matahari. Wahyu yang disampaikan oleh Allah SWT itu, menjadi petunjuk peristiwa langka tersebut. Bahkan ketika membawakan khutbah Shalat Gerhana Matahari, Rasulullah SAW ketakutan.\”Ketika gerhana itu nabi ketakutan bahkan ketika sedang khutbah suara nabi menggambarkan rasa takutnya. Makanya beliau mengatakan bagaimana jika terjadi hari kiamat,\” tuturnya.Dia juga membandingkan fenomena alam itu pada 11 Juni 1983 lalu. Saat itu, banyak masyarakat yang memilih berlindung di bawah ranjang tempat tidur untuk menghindari terpapar cahaya matahari. Sedangkan di masa Nabi, para sahabat pergi melaksanakan sholat berjamaah di masjid.\”Waktu itu saya kelas II SD, orang-orang bersembunyi di kolong tempat tidur,\” kenang ustad Anwar usai mengimami shalat gerhana di Mesjid Ummussabri Kendari.(C)Editor: Gugus Suryaman

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.