SULTRAKINI.COM:ATAMBUA - Konser musik terbukti mampu menjadi magnet mendatangkan wisatawan mancanegara (wisman) cross border dari Timor Leste ke Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah sukses mendatangkan Slank, Jamrud dan Cokelat, kini giliran band genre ska, Tipe-X yang akan menghentak perbatasan pada 27 Oktober 2017.
Giliran Band Tipe X Siap Guncang Festival Crossborder Atambua
Festival Crossborder Atambua 2017

Saat Konser Musik dengan mendatangkan Grup band Slank yang digelar 22 September lalu, mampu membius lebih dari 50 ribu penonton yang berbondong-bondong datang dari segala penjuru kota termasuk wisman Timor Leste. Sebelumnya, pada 27 Agustus, Lapangan Umum Simpang Lima Kabupaten Belu Atambua, juga disesaki lebih dari 30 ribu orang saat konser musik yang mendatangkan Cokelat dan Jamrud.

"Giliran Grup Band Tipe X. Terimakasih Kemenpar yang telah memberikan dukungan. Eksistensi kami untuk terus jadikan Atambua Kota Festival, magnet dan branding daerah kami yang tidak pernah terlupakan bagi rakyat Timor Leste, daerah terus hidup, masyarakat kami terus menggeliat, ini akan meningkatkan perekonomian rakyat kami,” ujar Bupati Belu, Willybrodus Lay," Sabtu (21/10).

Bagi Masyarakat Timor Leste, grup band ini memang tidak asing dan memiliki banyak penggemar di sana. Tipe-X pernah tampil menyapa penggemarnya di negeri suaminya Krisdayanti, Raul Lemos pada tahun 2011 lalu.Tipe X yang saat ini beranggotakan enam orang, yakni Tresno Riadi (vokal), Billy dan Yoss (gitar), Micky (bass), Anto (trombone), dan Arie Hardjo (drum) ini, masih eksis dan sering mengisi acara di berbagai daerah. 

Pada awal 2017, grup musik ini meluncurkan buku biografi berjudul  1999: Ketika Pecundang Menjadi Pemenang. Dalam buku tersebut dibagikan kisah perjalanan Tipe-X selama 22 tahun mengarungi musik Indonesia.

Konser Grup band yang berdiri pada 10 September 1995 ini akan dimulai pukul 18.00 hingga selesai. Selain itu, juga ada penampilan dari Galaxy Band, Kenny Mc Aine, Rai Handoko dan sanggar tari Tirilolok Dirun. Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengatakan, Kabupaten Belu yang secara geografis berbatasan langsung dengan negara Timor Leste dinilai memiliki daya tarik tersendiri dan sangat strategis untuk pengembangan pembangunan pariwisata.

Terlebih masyarakat Atambua memang dikenal sangat ramah, terbuka, mudah akrab, lembut, dan menghindari konflik. ”Budaya negara tetangga Timor Leste dengan Atambua sangat dekat dan sama. Banyak ritual budaya yang mereka lakukan bersama," kata Menpar Arief Yahya. 

Pemilihan konser musik, dikatakan Menpar Arief Yahya, karena musik adalah bahasa universal. Musik memiliki daya magnit yang luar biasa. Buktinya tiap menggelar konser puluhan ribu orang berbondong-bondong menghadiri.

“Konser ini momentum untuk bersama-sama membangun perbatasan. Bagaimana event ini hotel menjadi penuh, restoran padat, pengrajin memamerkan dagangannya, travel agent bergeliat, penyewa kendaraan motor dan mobil laku. Itulah  dampak positif dari event pariwisata. Ini signal positif untuk kemajuan bersama,” tambahnya.

Jarak kota Atambua juga mudah dicapai dari perbatasan Timor Leste dengan hanya menempuh jarak 30 km dari Kabupaten Balibo (Maliana) di Timor Leste, melalui pintu perbatasan Matoain, maupun lewat Desa Haikesak. 

Tahun ini, bagi kemenpar, crossborder area memang menjadi target perolehan wisman. Karena itu, berbagai event digelar untuk menghidupkan wilayah perbatasan dengan berbagai festival. "Belajar dari banyak negara di Eropa yang maju karena crossborder," pungkasnya.


Kemenpar RI

Tanggapan Anda?

Facebook Conversations