Hadapi UN, Utamakan Kejujuran

SULTRAKINI.COM: BUTON – Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat SMA/sederajat, kurang lebih satu bulan lagi dilasanakan secara serentak di seluruh wilayah Indonesia, tepatnya tanggal 4-7 April 2016.

 

Kepala Bidang SMA Dinas Pendidkan Kabupaten Buton, Drs. La Naji, mengatakan, mengingat saat ini kelulusan siswa ditentukan oleh sekolah, sudah seharusnya setiap sekolah lebih mengedepankan nilai-nilai kejujuran dalam melaksanakan ujian.

 

\”Karena kelulusan sekarang ditentukan sekolah, makanya yang lebih diutamakan itu adalah kejujuran dalam melaksanakan ujian nasional, karena memang di pusat itu ada instrumen dalam melihat kejujuran saat melaksanakan ujian yaitu bisa dilihat di indeks integritas ujian nasional,\” katanya saat dikonfirmasi, Minggu (13/3/2016).

 

Lanjut dia, jawaban peserta ujian itu bisa dilihat polanya, apakah siswa itu menjawab soal-soal ujian dengan jujur atau tidak. Bisa dipantau pada indeks integritas yang langsung dilakukan oleh Kementerian Pendidikan melalui panitia pemeriksaan di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), dalam hal ini Universitas Halu Oleo (UHO) di Kendari.

 

\”Sehingga sekolah tidak ada alasan untuk tidak jujur, karena akan terpantau disitu. Misalnya, nomor 1 jawaban yang benar A, ternyata dalam satu sekolah itu rata-rata menjawab B. Ini kan berarti ada jawaban yang masuk. Karena logikanya, tidak mungkin jawaban salah itu sama salahnya, tapi kalo kunci jawabannya A, dan rata-rata sekolah dia jawab A, itu tidak masalah. Yang perlu dicurigai itu, kalo kunci jawabannya A, tapi dalam satu sekolah itu rata-rata dia jawab B, berarti ada pengarahan jawaban,\” urainya mencotohkan.

 

yamaha

Dia berharap pihak terkait seperti pengawas, kepala sekolah dan siswa, bisa mengerjakan dan memantau serta melaksanakan ujian nasional mengutamakan kejujuran. Sebab, kata La Naji, selain hasil ujian dipantau langsung oleh Kementerian, juga dengan mengerjakan soal ujian secara jujur, akan berimpelmentasi pada proses pembangunan pendidikan kedepan.

 

\”Karena imbasnya kepada sekolah juga, artinya jika itu sekolah terindikasi tidak jujur, kita minta bantuan di Kementerian itu agak sulit. Karena disana nanti tidak melihat rata-rata nilainya, tapi kejujuran tadi yang lebih diprioritaskan,\” jelasnya.

 

Ditambahkan, karena nilai ujian nasional sudah dua tahun ini tidak lagi ditentukan oleh pemerintah pusat, sehingga dalam menentukan nilai kelulusan siswa bisa dilihat pada nilai ujian sekolah (US) dan rata-rata nilai rapornya. Untuk formulasi persentase nilai US dan rapor, juga tergantung masing-masing sekolah sesuai dengan hasil rapat para dewan guru.

 

\”Masing-masing sekolah membuat standar, kalo standar nasional kan 5,5. Jadi tergantung sekolah, itu tidak sama. Karena setiap sekolah itu berbeda-beda, ada jumlah gurunya banyak, sarananya lengkap, dan lain-lainnya,\” pungkasnya.

 

Sekedar diketahui, sebanyak 1.723 siswa tingkat SMA/sederajat di Kabupaten Buton bakal mengikuti ujian nasional pada tanggal 4-7 April 2016. Terdiri dari 1.203 siswa SMA, MA 194, dan SMK 326 siswa dari 28 sekolah se Kabupaten Buton.

 

Editor: Gugus Suryaman

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.