Harga Jagung di Muna Turun, Dinas TPHP Muna Serukan Petani Tunda Jual

SULTRAKINI.COM: MUNA – Kepala Dinas TPHP Muna, La Ode Anwar Agigi, mengatakan kodisi harga jagung ditingkat petani saat ini mengalami penurunan hingga berada dikisaran Rp 2.400 sampai Rp 2.800 per kilogram ditengah wabah Covid-19.

“Harga jagung di petani dikisaran angka Rp. 2.400 sampai Rp. 2.800 perkilogram, tergantung dari kadar airnya dan jarak lokasi produksi. Sebelumnya harga jagung yang sangat bagus sekali, sampai bulan Maret di kisaran Rp. 4.500 perkilogran, tapi memasuki masa virus Covid-19, sudah mengalami penurunan,” kata Anwar kepada Sultrakini.Com, rabu (7/5/2020).

Dia menjelaskan, ada dua hal yang menyebabkan harga jagung turun, pertama soal mekanisme pasar yang saat ini tengah panen raya sehingga stok melimpah. Kemudian asalan utamanya karena pandemik Covid-19 yang mengurangi aktifitas orang.

“Jagung ini biasanya digunakan untuk industri pakan, sekitar 80 persen, karena ada kebijakan pabrik menutup sebagian usahannya, sehingga kebutuhan bahan baku untuk pengelohan pakan semakin berkurang. Disisi lain juga, pengolahan pakan, terkendalan dalam penyerapan pasar, karena sektor perunggasan, mendapatkan kelesuan pasar ditengah wabah Covid-19, juga diakibatkan rumah makan dan hotel itu banyak yang tutup,” terangnya.

“Persoalan ini saling berkaitan, sehingga harus ada langka dilakukan, salah satu yang sudah dilakukan yaitu medorong petani melakukan tunda jual, yang juga memiliki konsekuensi akibat menunda penerimaan. Setelah petani telah banyak membuang biaya produksi, petani menunda mendapatkan pemasukan kembali, karena bila tidak dilakukan seperti itu, resikonya kita mendapat harga yang tidak baik,” katanya.

Dia menuturkan petani pebisnis (pengunpul) yang membeli kepada petani saat akan mengambil resiko karena perusahan pakan tidak beroperasi. Ketika terjadi tundu jual jagung yang disimpan di dalam gudang harus dilakukan perbaikan mutu jagung dengan mengeringkan kadar air 11 sampai 12 persen hinga harga kembali normal untuk dijual kembali

“Kami berpandangan, harga jagung akan mulai stabil diakhir bulan Juni,” ujarnya.

Menurutnya penurunan harga jagung diakibatkan karena Covid yang berbarengan dengan panen raya pada April dan Mei, dengan masa tanam September dan Oktober tahun sebelumnya ini memang puncak panen jagung.

“Kita tidak memiliki bantuan, subsidi kepada petani dalam menanggulangi atau menalangi panen jagung petani dengan harga jual rendah saat ini, hanya program bantuan bibit untuk percepatan tanam secara gratis. Selain itu, kita menyarankan ke petani untuk melakukan tunda jual,” ujarnya.

“Seharusnya, untuk mengantisipasi situasi kayak begini, ada satu badan usaha yang bisa menampung panen petani guna melakukan tunda jual, namun itu belum ada di Muna, karena ini kewenangan Dinas Perindak yang berhubungan dengan Kementrian Perdagangan terkait program resi gudang, ada beberapa kabupaten yang sudah ada, akan tetapi tidak operasional,” ungkapnya.

Dua manfaat resi gudang, pertama, bisa melakukan stabilitas harga dalam situasi apapun. Kedua, bila terjadi bencana, bisa menjadi penyangga logistik. Ketiga, bisa jadi jaminan kredit perbankan dengan jaminan jagung yang sudah ditaksir oleh bank.

Laporan: LM Nur Alim
Editor: Habiruddin Daeng

beras pokea

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.