SUARA

Hari Merdeka dan Pesta Olahraga

Perayaan Hari Kemerdekaan ke-73 RI tahun ini berlangsung istimewa. Sebab, sehari
kemudian pada tanggal 18 Agustus 2018 akan digelar pembukaan ajang olahraga negara-
negara Asia, Asian Games 2018 (Liputan6.com,17/08/2018)

Semangat pun semakin terasa di Ibu Kota DKI Jakarta, yang menjadi salah satu tuan rumah
pesta olahraga terbesar di Asia itu. Apalagi, terakhir kali Indonesia menjadi tuan rumah Asian
Games adalah pada tahun 1962, 56 tahun lalu.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan perayaan hari kemerdekaan RI ini sebagai
momen untuk mengingat kembali semangat persatuan Indonesia (detikNews.com,
17/08/2018)

"Kita merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-73 Republik Indonesia hari ini, seraya
mengingat kembali semangat persatuan Indonesia yang telah dibuktikan oleh para pendiri,
perintis, dan pejuang bangsa," tulis Jokowi lewat akun Facebook-nya, Jumat (17/8/2018).
Momen untuk mengingat semangat persatuan para pendiri dan pejuang bangsa. Kala itu, kata
Jokowi, para pendiri dan pejuang bangsa menyingkirkan segala perbedaan pandangan politik
dan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) demi mewujudkan Indonesia merdeka.

"Dalam persatuan itulah, mereka menemukan energi yang dahsyat untuk menggerakkan
seluruh tenaga, pikiran, dan keringat untuk Indonesia merdeka. Dalam persatuan Indonesia
itulah, para pejuang kemerdekaan menemukan solidaritas, kepedulian, dan juga semangat
berbagi antarsesama anak bangsa," tutur Jokowi.

"Jika bangsa Indonesia tetap bersatu, berbagi, dan peduli pada sesama anak bangsa, maka
Indonesia bukan lagi hanya sekadar nama, atau gambar sederetan pulau di peta dunia,
melainkan Indonesia maju, yang menjadi sebuah kekuatan yang disegani oleh bangsa-
bangsa lain di dunia," pungkasnya.

Pun, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mempunyai cara sendiri memaknai
arti Kemerdekaan Republik Indonesia ke 73. Merdeka menurut dia, memiliki arti masyarakat
menikmati pembangunan yang terus berjalan mulai dari kesejahteraan yang membaik,
kemiskinan menurun hingga konektivitas yang lebih baik. (Merdeka.com,17/08/2018)
"Jadi tentu dari sisi kita ingin melihat pembangunan berjalan. Masyarakat bisa merasakan
perbaikan dalam bentuk kesejahteraan langsung, pendapatan membaik, kemiskinan
menurun. Mereka yang selama ini tidak mendapatkan akses dan konektivitas sekarang lebih
baik lagi," ujar Sri Mulyani di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Jumat (17/8/2018).

Sri Mulyani mengatakan, beberapa hal tersebut merupakan cita-cita pemerintah yang
diwujudkan terus-menerus. Pemerintah juga masih akan terus membangun dan memperbaiki
ketertinggalan daerah yang belum optimal.

"Itu adalah cita cita yang kita ingin, sehingga dia bisa ikut merasakan arti kemerdekaan itu.
Dan apa yang sudah baik kita akan terus perbaiki dan yang masih tertinggal kita akan terus
perbaiki supaya mereka bisa mendapatkan apa yang disebut arti kemerdekaan," jelas Sri
Mulyani.

Sri Mulyani menambahkan, merdeka bukan berarti tidak punya kewajiban dan tanggung
jawab. Oleh karena itu, untuk membangun Indonesia yang adil dan makmur maka semua
elemen negara harus bekerja bersama-sama.

Sayangnya, realita saat ini tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Masyarakat tidak
sepenuhnya menikmati pembangunan yang ada, kesejahteraan tidak membaik, kemiskinan
pun semakin melonjak, pengangguran yang banyak karena sempitnya lapangan pekerjaan.
Padahal Indonesia salah satu negara yang kaya atas sumber daya alamnya. Bagaimana tidak
banyak sumber daya alam di Indonesia yang dikelola pihak asing. Hasilnya dibawa ke negara
lain, sedangkan Indonesia mendapatkan sangat sedikit bagian. Itu atas nama investasi,
padahal tidak. Semua itu bagian dari penjajahan jenis baru. Tambang emas, kilang minyak,
gas alam, semen, dan segala sumber daya alam yang melimpah diserahkan asing. Penduduk
Indonesia sendiri hanya bisa gigit jari.

Indonesia Merdeka, Sudahkah?
Meski Indonesia sudah merdeka secara fisik pada 17 Agustus 1945, tetapi tidak merdeka
secara substansial, hakikat, dan sejati.

yamaha

Indonesia masih dijajah dengan konsesi-konsesi politik, kapitalisme atas nama investasi,
setting kurikulum pendidikan yang membodohkan seluruh pelajar Indonesia, dan lainnya.
Mirisnya, hampir tidak bisa membedakan siapa yang menjajah, karena sebagian manusia
Indonesia juga menjajah sesama manusia Indonesia lainnya.

Sebab, arti dan makna kemerdekaan RI seharusnya bebas dan lepas dari segala bentuk
penjajahan, baik itu penjajahan langsung maupun tidak langsung.

Merdeka dalam Islam
Melihat fakta sejarah, Nabi Muhammad dan pengikutnya benar-benar merdeka tanpa ada
tekanan dari suku lain setelah berjuang sekian lama. Umat Islam otonom, bebas, dan terlepas
dari penjajahan suku lain.

Sebagai seorang muslim, kita mestilah memandang dari kacamata keimanan yang utuh agar
bias kebathilan bisa lantas sirna. Mengutip pendapat dari KH Hafidz Abdurrahman, hakikat

merdeka itu adalah kita bebas diperhamba oleh sesama manusia. Karena kita hakikatnya
hanya hamba Allah, bukan hamba manusia, harta, wanita dan dunia. Ketika kita menjadi
hamba Allah, maka kita pun hanya mentaati titahNya.

Dalam islam, merdeka juga bukan hanya sekedar memenangkan hati tamu-tamu olahragawan
lewat jamuan akbar dan pelayanan prima sehingga menjadi tuan rumah yang baik bagi negara
lain. Apalagi jalannya juga harus menabrak aturan Allah.

Karena sesungguhnya perintah dan larangan-Nya pun harus kita tegakkan dengan sempurna.
Semua itu termaktub dalam syariatNya. Karena itu, kita pun terikat dan taat menjalankannya.
Ketaatan dan keterikatan kita kepada syariatNya itulah yang menjadikan merdeka, bukan
hanya pengakuan dan peresmian seremonial dari negeri adidaya dan negeri lain yang ada.
Karena itu artinya tidak ada siapapun yang bisa mendikte kita, menguasai kita, bahkan
menindas dan menjajah kita. Merampas kekayaan alam kita, menguasai tanah-tanah kita, dan
memiskinkan kita. Dengan kata lain, ketika kita menjadi orang shalih, orang yang hanya taat
dan terikat dengan syariat-Nya, maka kita pasti akan memimpin dunia, menguasai bumi ini.
Saat itulah, kita akan menjadi Khalifah Allah di muka bumi.

Sebaliknya, jika kita menolak,  menjauhi dan bahkan mengkriminalisasi syariat-Nya, maka
jangan harap kita akan merdeka. Jangan harap kita akan menjadi penguasa di muka bumi dan
menguasai dunia dan seisinya.

Itulah mengapa negara penjajah sangat takut kepada umat Islam yang taat pada syariat-Nya.
Karena itu artinya penjajahan mereka akan sirna. Mereka dicap radikal, fundamentalis,
ekstrimis, bahkan teroris. Karena merekalah yang mengancam penjajahan negara-negara
penjajah di dunia Islam.

Sehingga kita harus berupaya mengembalikan aturan Islam secara kaffah ke tengah umat.
Agar tidak terjadi berbagai kezaliman yang menimpa umat Islam Sebab hidup tanpa syariat-
Nya hanya akan mengundang kehinaan dan kenistaan di tengah umat manusia.

Maka dari itu Kita hanya bisa Merdeka dengan tunduk dan senantiasa taat kepada syariat-Nya
secara kaffah.Wallahu ‘alam bisshawab.

Oleh : Estriani Safitri
(Member Writing Class with Has)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.