Iklan Clarion

IAEI Sultra: Perbankan Masih Campur Adukkan Syariah dan Konvensional

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Sulawesi Tenggara menyimpulkan, perbankan syariah masih kurang diminati masyarakat. Satu penyebabnya, mekanisme pengelolaan perbankan masih mencampur adukan syariah dan konvensional.

Ketua IAEI Sultra, Prof. Dr. Samdian, SE., M.Si mengatakan, lembaga perbankan yang menggaet sistem syariah belum sepenuhnya murni syariah. Meski ada juga yang murni, tetapi masih sebatas permodalan.

“Dalam implementasi penerapannya belum murni. Murni syariah mungkin murni modalnya,” katanya, Kamis (22/12/2016).

Hal itulah menjadi salah satu alasan masyarakat untuk beralih ke sistem keuangan tersebut. Apalagi sistem bagi hasil belum produktif diterapkan, mengingat rumitnya perhitungan laba nasabah yang kecil-kecil dan nilai simpannyadi bank tidak tetap.

Akademisi Perbankan Syariah IAIN Kendari, Dr. Wahyudin Maguni, M.Si, berpendapat sama tentang campur aduknya sistem syariah dan konvensional di suatu perbankan.

“Iya masih campur aduk (syariah-konvensional),” ucap Ketua Jurusan Perbankan Syariah IAIN Kendari ini.

Hal lainnya penyebab kurangnya minat masyarakat, yakni kedekatan pihak perbankan syariah dengan masyarakat dalam bentuk sosialisasi masih terbilang kurang. Sehingga menambah buruk literasi masyarakat untuk memahaminya.

“Perlu juga peningkatan kemampuan SDM mengelola sistem itu. Makanya untuk sekarang ini kita giat sosialisasikan ke mahasiswa,” tambah Samdin.

Statistik Perbankan Syariah dari Direktorat Perbankan Syariah melihat pertumbuhan tersebut sangat signifikan sejak 2007- Agustus 2013. Terhitung ada 2.872 perbankan syariah yang berasal dari bank umum syariah, unit usaha syariah dan bank pembayaran rakyat syariah.

Laporan: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.