SULTRAKINI.COM: KENDARI - Tepat 28 Oktober 2017, Indonesia kembali merayakan hari Sumpah Pemuda ke-89, sejak deklarasi di tahun 1928 lalu dalam momen Kongres Pemuda II di Batavia yang sekarang ini disebut Jakarta. Peristiwa yang menyatakan Indonesia akan tanah air Indonesia, Bangsa Indonesia, dan Bahasa Indonesia.

Ikrar 'Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia'
(Foto: Ilustrasi. (Foto: Google)
Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Halu Oleo, Drs. Fahruddin Hamati, M. Pd. (Foto: Mita/SULTRAKINI.COM)

Dikatakan juga Koordinator Pengembangan dan Perlindungan Bahasa Kantor Bahasa Sultra, Uniawati bahwa bangsa Indonesia awalnya menggunakan bahasa Melayu sebagai 

sumber utama, tetapi sebatas bahasa pengantar diantara beberapa orang. Hingga dideklarasikannya sumpah pemuda 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia resmi dan memiliki landasan yuridis serta disahkan di UUD 1945, termasuk di UU Nomor 40 Tahun 1994 tentang bendera, bahasa, dan lambang negara sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa negara sampai sekarang.

Begitu juga implementasi bahasa Indonesia terhadap masyarakat, serentak dilakukan pada momen tersebut.

"Pengajaran bahasa Indonesia terhadap siswa memang berjenjang, tetapi itu serentak saat sumpah emuda dilakukan. Agar pemuda yang ada di luar sana mau belajar mendalam tentang bahasa Indonesia, terlebih kami, di kantor Bahasa punya motto, yaitu utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing. Para pemuda harus mempunyai rasa tanggung jawab melaksanakan ke tiga motto itu. Bahasa Indonesia wajib digunakan karena sudah diatur dalam ndang-undang sebagai bahasa pengantar," jelas Uniawati, Sabtu (28/10/2017).


Laporan: Mita

Tanggapan Anda?

Facebook Conversations