Iklan Clarion

Indonesia Menjadi Harapan Muslim Uighur?

Pemerintah Indonesia dinilai memiliki posisi yang kuat untuk mendorong pemerintah Cina membuka informasi atas apa yang menimpa etnis Uighur di provinsi Xinjiang. Dalam laporan Amnesty Internasional, sekitar satu juta penduduk Uighur mengalami penyiksaan dan tidak diketahui nasibnya ketika dimasukkan ke “kamp pendidikan ulang”.

Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia, Agung Nurwijoyo, mengatakan Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia, anggota Dewan Keamanan PBB, dan juga memiliki hubungan bilateral yang baik dengan Cina, bisa memanfaatkan hal itu agar menjembatani persoalan yang dialami komunitas tersebut.

“Indonesia punya peranan yang signifikan, karena Indonesia punya hubungan baik dengan Cina. Nah, ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk berkomunikasi dengan Cina untuk membuka akses informasi terhadap orang Uighur dan itu akan menghapus kecurigaan global atas kasus Uighur,” jelas Agung Nurwijoyo kepada wartawan dalam diskusi di Jakarta, Kamis (20/12).

Hanya saja, menurutnya, belum adanya sikap resmi pemerintah atas permasalahan ini dikarenakan Indonesia masih menunggu respons negara-negara Islam lain. “Kayaknya pemerintah masih wait and see, karena rata-rata negara-negara Islam di dunia belum banyak bersuara,” ujarnya seraya meyakini bahwa Indonesia akan mengambil jalan soft diplomacy untuk merespons kasus etnis Uighur.

Dari pengamatannya, langkah soft diplomacy itu ditempuh untuk menghindari balasan pemerintah China yang justu akan merugikan ekonomi Indonesia, yakni embargo. Ini melihat besarnya investasi yang ditanam di dalam negeri. Merujuk pada data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi dari China pada periode Januari-September 2018 mencapai USD1,8 miliar.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyatakan pemerintah belum menentukan sikap apapun atas apa yang menimpa etnis minoritas Uighur, lantaran masih menunggu laporan Duta Besar Indonesia di Beijing. Di mana pemerintah Cina mempersilakan dubes ke Xinjiang untuk melihat situasi sebenarnya.

Selain itu, pemerintah juga akan menunggu penjelasan Duta Besar China yang sebelumnya disurati Kementerian Luar Negeri pada 17 Desember lalu. Pemerintah sangat berhati-hati dalam merespons isu Uighur sebab ada dugaan kelompok tersebut memang terlibat kelompok terorisme. Ia merujuk pada penangkapan 4 etnis Uighur di Poso karena dituduh membantu Santoso.

Berdasarkan fakta di atas Indonesia bisa menjadi harapan untuk menyelamatkan muslim Uighur walaupun masih sekedar menjembatani atau berkomunikasi dengan China untuk membuka akses informasi terkait persoalan muslim Uighur di Xinjiang.

Namun sejatinya tidak akan mampu diantaranya karena besarnya ketergantungan Indonesia terhadap China dari fakta di atas, terlebih lagi karena memang dalam sistem sekulerisme ini umat Islam akan selalu terdiskriminasi, nyatanya persoalan muslim Uighur yang nyata-nyata mengalami penyiksaan bahkan pembunuhan pemerintah Indonesia masih saja menduga mereka sebagai teroris dan mengurungkan niatnya untuk merespon masalah mereka.

Maka,  tidak ada harapan lain kecuali kembali kepada pemerintahan Islam yang akan menyelamatkan muslim Uighur hingga tuntas tidak hanya sebatas membuka akses informasi karena begitu besarnya penderitaan umat Islam ini. Sesungguhnya umat Islam di berbagai wilayah mengetahui bahwa keselamatan mereka hanya ada pada Islam, juga pada kekuasaan Islam dalam hal ini Negara Islam.

Sebab Negara Islam adalah perisai/pelindung sejati umat Islam. Ini berdasarkan sabda Nabi saw.: “Sungguh Imam (Khalifah) itu laksana perisai. Kaum Muslim akan berperang dan berlindung di belakang dia.” (HR al-Bukhari dan Muslim). Makna (Imam/Khalifah itu laksana perisai)” dijelaskan oleh Imam an-Nawawi, “Maksudnya, ibarat tameng, karena Imam/Khalifah mencegah musuh untuk menyerang kaum Muslim; mencegah anggota masyarakat satu sama lain dari serangan; melindungi keutuhan Islam…”.

Imam/Khalifah yang disebut sebagai junnah (perisai) karena dialah satu-satunya yang bertanggung jawab. Ini sebagaimana dijelaskan dalam sabda Nabi saw.: “Imam/Khalifah itu pengurus rakyat dan hanya dia yang bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Menjadi junnah (perisai) bagi umat Islam khususnya dan rakyat umumnya meniscayakan Imam/Khalifah harus kuat, berani dan terdepan. Kekuatan ini bukan hanya pada pribadinya, tetapi pada institusi negaranya, yakni negara Islam.

Kekuatan ini dibangun karena pondasi pribadi pemimpin dan negaranya sama, yaitu akidah Islam. Inilah yang ada pada diri kepala Negara Islam pada masa lalu, baik Nabi saw. maupun para khalifah setelah beliau. Ini antara lain tampak pada surat Khalid bin al-Walid:

“Dengan menyebut asma Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Khalid bin al-Walid, kepada Raja Persia. Segala pujian hanya milik Allah, Yang telah menggantikan rezim kalian, menghancurkan tipudaya kalian dan memecahbelah kesatuan kalian…Karena itu, masuk Islamlah kalian. Jika tidak, bayarlah jizyah. Jika tidak, aku akan mendatangkan kepada kalian kaum yang mencintai kematian, sebagaimana kalian mencintai kehidupan.”

Ketika ada wanita Muslimah yang dinodai kehormatannya oleh orang Yahudi Bani Qainuqa’ di Madinah, sebagai kepala negara, Nabi saw. menyatakan perang terhadap mereka. Mereka pun diusir dari Madinah. Demikianlah yang dilakukan Nabi saw., sebagai kepala Negara Islam saat itu, demi melindungi kaum Muslim.

Hal yang sama dilakukan oleh para khalifah setelah beliau. Khalifah Harun ar-Rasyid, di era Khilafah ‘Abbasiyyah, misalnya, pernah menyumbat mulut jalang Nakfur, Raja Romawi, dan memaksa dia berlutut kepada Khilafah.

Khalifah Al-Mu’tashim, juga di era Khilafah ‘Abbasiyyah, pernah memenuhi permintaan tolong wanita Muslimah yang kehormatannya dinodai oleh tentara Romawi. Ia segera mengirim ratusan ribu pasukan kaum Muslim untuk melumat Amuriah, mengakibatkan ribuan tentara Romawi terbunuh, dan ribuan lainnya ditawan.

Demikian pula yang dilakukan oleh Sultan ‘Abdul Hamid di era Khilafah ‘Utsmaniyah dalam melindungi kaum Muslim. Semuanya melakukan hal yang sama karena mereka adalah junnah (perisai).

Semua itu tentu dasarnya adalah akidah Islam. Karena akidah Islam inilah, kaum Muslim siap menang dan mati syahid. Rasa takut di dalam hati mereka pun tak ada lagi. Karena itu musuh-musuh mereka takut luar biasa ketika berhadapan dengan pasukan kaum Muslim. Kata Raja Romawi, “Lebih baik ditelan bumi ketimbang berhadapan dengan mereka (kaum Muslim).”

Bahkan sampai terpatri di benak kaum kafir, bahwa kaum Muslim tak bisa dikalahkan. Inilah generasi umat Islam yang luar biasa. Generasi ini hanya ada dalam sistem negara Islam.

Karena itu jelas, kita tidak bisa berharap banyak kepada para pemimpin Muslim saat ini. Negara Islamlah satu-satunya harapan, sebab ialah pelindung sejati umat sekaligus penjaga agama, kehormatan, darah dan harta mereka serta menjadi penjaga kesatuan, persatuan dan keutuhan setiap jengkal wilayah mereka.Wallahu a’lam bishshawab.

Oleh: Dewi Tisnawati,  S.  Sos. I (Pemerhati Sosial)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.