Indonesia Resesi! Sultra Masih Aman, Pengamat: Empat Sektor Pertahankan Ekonomi

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Secara nasional Indonesia alami resesi pada triwulan III-2020. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi RI yang diukur berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal III-2020 tercatat minus 3,49 persen (y-on-y).  

Sementara itu, ekonomi Sulawesi Tenggara triwulan III-2020 tumbuh sebesar 4,65 persen (q-to-q) meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun mengalami kontraksi sebesar minus 1,82 persen (y-on-y) dibanding triwulan III-2019 yang tumbuh sebesar 6,43 persen.

Menanggapi hal tersebut, Pengamat Ekonomi Sultra, Dr Syamsir Nur, mengatakan implikasi resesi ke daerah tidak terlalu signifikan karena sejak tahun 2015 pertumbuhan ekonomi Sultra masih diatas rata-rata ekonomi nasional. 

Di tahun 2020 ini, kata Syamsir, sejak triwulan I dan II bahkan triwulan III ini, pertumbuhan ekonomi Sultra masih lebih baik walaupun mengalami penurunan jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional. 

“Jadi sesungguhnya situasi ekonomi secara regional sangat dipengaruhi dengan kondisi domestik kita, sejauh mana sektor-sektor unggulan bertahan atau kembali bergeliat seperti disektor pertanian, pertambangan, perdagangan besar dan kontruksi. Karena 4 sektor ini yang menjadi penopang utama dinamika ekonomi Sultra yang tumbuhnya selalu diatas 10 persen,” ungkap Syamsir Nur, saat dihubungi melalui telepon seluler, Senin (23/11/2020). 

Pengamat, memprediksi ekonomi Sultra triwulan IV akan lebih baik, ditopang oleh sektor transportasi dan pariwisata yang masih tumbuh positif. Tetapi jika dilihat dari sisi permintaan, konsumsi masyarakat masih mengalami kontraksi karena daya beli masih rendah dimasa pandemi Covid-19 ini.

“Sektor konsumsi turun namun masih akan membaik dipicu oleh perbaikan ekonomi nasional dengan penyaluran dana bantuan langsung tunai pada masyarakat sehingga mendorong peningkatan daya beli,” ujarnya.

Menurutnya, jika ekonomi nasional dilanda resesi maka hal ini tidak terlalu berdampak secara signifikan terhadap ekonomi daerah, sebab Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2021 pemerintah masih fokus terhadap pemulihan ekonomi daerah. Tentu implikasi kedaerah tetap akan lebih baik untuk pemulihan ekonomi.

“Olehnya itu, daerah harus mampu melakukan akselerasi terhadap sektor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi. Adapun strategi yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah ditengah melandainya konfimasi Covid-19, melakukan evaluasi terhadap bantuan tunai, dijaga dan diperhatikan agar tetap tepat sasaran,” ucapnya. 

Kemudian, pemerintah daerah harus melakukan upaya menggerakan ekonomi misalnya sektor pariwisata. Selanjutnya pemerintah daerah perlu melakukan transformasi ekonomi dimana sektor-sektor yang selama ini belum tersentuh dengan teknologi digital perlu dilakukan literasi dan penguatan jaringan infrastruktur. (C)

Laporan: Wa Rifin
Editor: Hasrul Tamrin

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.