Industri Pengolahan Topang Pertumbuhan Ekonomi Sultra 2019

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara mencatat pertumbuhan ekonomi Sultra pada 2019 ekonomi tumbuh 6,51 persen lebih tinggi dibandingkan tahun 2018 sebesar 6,42 persen. Pertumbuhan terjadi pada semua lapangan usaha.

Kepala BPS Sultra, Muhammad Edy Mahmud, mengatakan industri pengolahan merupakan lapangan usaha yang memiliki pertumbuhan tertinggi sebesar 9,13 persen, diikuti kategori jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 8,41 persen serta informasi dan komunikasi sebesar 7,83 persen.

“Tingginya pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan didorong meningkatnya produksi industri makanan dan minuman terkait adanya beberapa kegiatan nasional diselenggarakan di Sultra serta meningkatnya produksi industri logam dasar ferronikel,” ujar Edy, Rabu (5/2/2020).

Sementara Struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sultra 2019 masih didominasi oleh empat lapangan usaha utama yaitu pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 23,73 persen; pertambangan dan penggalian 21,21 persen; konstruksi 13,69 persen dan perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil-sepeda motor 12,76 persen. Lapangan usaha lainnya memiliki kontribusi kurang dari 10 persen.

Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Sultra tahun 2019 pertambangan dan penggalian menyumbang sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 1,58 persen, diikuti pertanian sebesar 1,17 persen; perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil-sepeda motor sebesar 0,98 persen serta konstruksi sebesar 0,90 persen. Sementara pertumbuhan ekonomi Sultra dari lapangan usaha lainnya sebesar 1,88 persen.

Fortune

Edy menyampaikan dari sisi pengeluaran pertumbuhan ekonomi Sultra tahun 2019 mencapai 6,51 persen. Pertumbuhan terjadi pada seluruh komponen dimana pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen ekspor barang dan jasa sebesar 44,32 persen, diikuti komponen pengeluaran konsumsi lembaga non profit yang melayani rumah tangga (PK-LNPRT) sebesar 9,85 persen, komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga (PK-RT) sebesar 6,06 persen, komponen Pengeluaran konsumsi pemerintah (PK-P) sebesar 5,96 persen, dan komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 5,30 persen.

“Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi tahun 2019, komponen ekspor barang dan jasa merupakan komponen dengan sumber pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 8,91 persen,” ujar Edy.

Pertumbuhan pada komponen ekspor barang dan jasa seiring dengan peningkatan nilai ekspor besi dan baja (fero nikel) yang mempunyai share terbesar dalam ekspor di Sulawesi Tenggara yang naik sebesar 69,62 persen, serta ekspor bijih, kerak, abu logam (Nikel Ore) yang naik sebesar 83,89 persen.

Untuk sumber pertumbuhan tertinggi kedua yaitu komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 2,86 persen. Struktur PDRB Sulawesi Tenggara menurut pengeluaran tahun 2019 tidak menunjukkan perubahan berarti.

“Aktivitas permintaan akhir terhadap barang dan jasa masih didominasi oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga (PK-RT) sebesar 49,09 persen dari PDRB atas dasar harga berlaku, diikuti komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 39,40 persen,” ungkapnya.

Laporan: Wa Rifin
Editor: Habiruddin Daeng

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.