SULTRAKINI.COM: Andi Erni Astuti (37), tersangka pembunuh Ketua DPRD Kolaka Utara (Kolut), Mussakir Sarira, akhirnya angkat bicara soal kronologis yang terjadi pada malam nahas tersebut, Selasa (17 Oktober 2017).
Ini Cerita Detail Istri yang Tikam Ketua DPRD Kolut Hingga Wafat
Andi Erni Astuti.Foto: Google

Kejadian bermula saat Erni mempertanyakan kepada suaminya (Mussakir) soal perselisihan sang suami dengan teman sejawatnya di akun Facebook suami.  

“Karena selama ini teman tersebut telah menjadi bagian dari keluarga yang juga selalu berkunjung ke rumah,” jelas Erni kepada tim Aliansi Perempuan Sultra yang menemuinya akhir pekan lalu.

SultraKini.com menelusuri akun facebook Mussakir Sarira, tidak menemukan postingan perselisihan dimaksud. 

Andi Erni merasa teman-teman suaminya tidak ada lagi yang datang bersilaturahim ke rumahnya.  

Namun rupanya Mussakir tidak terima mempertanyakan hal itu. Ia  marah dan menyalahkan Erni kenapa harus membela teman-temannya tersebut dibanding dirinya. 

Pertengkaran pun terjadi tapi tidak sampai terjadi kekerasan fisik, seperti pemukulan kepada Erni.  Mussakir kemudian meninggalkan istrinya, keluar rumah untuk menenangkan pikiran. 

(Baca: Mendagri Kaget atas Tewasnya Ketua DPRD Kolut yang Ditikam Istri)

Erni pun masuk ke kamar untuk istirahat sekaligus menidurkan anak-anaknya. AE seperti biasanya memadamkan lampu kamar.

Beberapa saat kemudian gerendel pintu teralis besi kamar bergoyang. Erni berdiri melihat siapa yang datang, namun tidak melihat siapa pun. Ia kembali ke tempat tidurnya. Sesaat kemudian pintu teralis besi kembali bergoyang namun ketika diperiksa tidak ada siap-siapa.

Untuk ketiga kalinya gerendel pintu kembali bergoyang, Erni kemudian bangun dan mengambil pisau buah  sambil menghampiri pintu. Erni kaget ketika tiba-tiba ada sosok tubuh mengenakan baju putih maju mendekat ke arah pintu. Secara refleks menghujamkan pisau, dan rupanya orang itu tak lain adalah Mussakir, suaminya.

Melihat kondisi suaminya yang berlumuran darah, Erni dengan gugup menarik sarung dan kain celana pada keranjang cucian untuk membersikan darah yang keluar dan berceceran di lantai kamar.  

Suami yang sudah terluka bergerak ke arah meja makan untuk duduk. 

Erni pun berkata, “Itu mi kita Ayah, sudah tau saya penakut masih tong ki bercanda begini.” 

Erni kemudian menelpon dokter atas perintah suaminya, karena enggan dibawa ke rumah sakit.  Dokter pun datang beberapa menit kemudian dan menyarankan untuk segera membawa korban ke Rumah Sakit Kolut. 

Masih menurut Erni, setiba di rumah sakit suaminya kerap berkata bahwa “ini kecelakan,  dia (Erni) tidak sengaja”.  

(Baca: Direktur RSUD Djafar Harun Kolut Bantah Terlambat Tangani Musakkir Sarira)

Kepada Alpen-Sultra, Erni menyesal dan menceritakan bahwa sama sekali tidak ada niat untuk mencelakai atau menciderai suaminya.

Sebagai penggiat persoalan kekerasan terhadap perempuan Alpen-Sultra pun menggali lebih dalam kehidupan rumah tangga mereka yang terjadi selama ini.  Erni mengaku bahwa selama 10 tahun berumah tangga dengan Mussakir, dia kerap dan sering kali mengalami kekerasan.   

Direktur Alpen-Sultra, Hasmida Karim (Direktur) mengeluarkan pernyataan kepada semua pihak baik keluarga kedua belah pihak maupun masyarakat umum untuk melihat lebih jauh persoalan yang menimpa Erni sebagai refleksi atas relasi laki-laki dan perempuan yang timpang dalam ranah domestik. 

“Mengajak perempuan dan laki-laki untuk tidak memojokkan perempuan korban kekerasan,” pinta Alpen-Sultra dalam release yang dikeluarkan di Kendari, Minggu, 22 Oktober 2017.

Musakkir yang juga Ketua PDIP Kolut meninggal karena luka tusuk benda tajam. Hasil otopsi ditemukan luka robek pada bagian perut atas sebelah kanan sekitar 1,9 cm dengan kedalaman luka 4,1 cm menembus hati. 

Erni adalah ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian setempat. Ia diduga sebagai pelaku tunggal penikaman suami dengan menggunakan pisau.

Keluarga Mussakir dan Erni dikaruniai tiga orang putri, masing-masing adalah Ratu (9) kelas 4 SD, Lady (7) kelas 2 SD, dan Queen (5) masih TK. Erni sendiri adalah PNS dengan jabatan sebagai Kepala Seksi (Gol 3D) pada Bidang Penyakit tidak Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Kolaka Utara. (frirac)

Tanggapan Anda?

Facebook Conversations