Ini Harga Premium Bila Subsidinya Dicabut

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Bila selama ini kita konsumen menggunakan bahan bakar jenis premium yang telah disubsidi oleh pemerintah seharga Rp 6.550 per liternya. Para konsumen dipastikan bakalan kaget ketika mengetahui berapa harga asli premium tanpa subsidi.

Diungkapkan oleh Retail Fuel Marketing Manager PT Pertamina MOR VII, Tata Pandaya, harga premium tanpa subsidi bahkan bisa mencapai Rp 9.000 per liter. Padahal dari segi kualitas jauh dibawah bahan bakar jenis pertamaX.

“Quota BBM dibatasi, sarana kesehatan dan pendidikan yang lebih untuk subsidi. Kalau BBM subsidi nantinya banyak yg minum premium subsidi,” ungkap Tata.

Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2005 dan Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2006 harus direvisi terkait dengan penggunaan BBM subsidi agar penggunaannya tepat sasaran.

Fokus utama Pertamina saat ini memperbaiki sarana dan prasarana agar pasokan lancar dan kelangkaan dapat teratasi. “Kalau subsidinya dicabut, premium bakalan hilang,” pungkasnya.

Ada dua tolak ukur pemerintah dalam hitung-menghitung BBM subsidi dan nonsubsidi, yaitu ICP (Indonesian Crude Price) atau Harga Minyak Mentah Indonesia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Dikutip dari www.migas.esdm.go.id (18/02/2017), berdasarkan perhitungan Formula ICP, rata-rata ICP minyak mentah Indonesia pada bulan Januari 2017 mencapai US$ 51,88 per barel, naik tipis US$ 0,79 per barel dari  ICP bulan Desember 2016 yang mencapai US$ 51,09 per barel.

ICP SLC bulan Januari 2017 juga mengalami kenaikan sebesar US$ 0,49 per barel dari US$ 52,62 per barel pada bulan Desember 2016 menjadiUS$ 53,11 per barel .

Perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar Internasional pada Januari 2017 dibandingkan bulan Desember 2016, mengalami peningkatan menjadi sebagai berikut.

Brent (ICE) naik  sebesar US$ 0,53 per barel dari US$ 54,92 per barel  menjadi US$ 55,45 per barel.

WTI (Nymex) naik sebesar US$ 0,44 per barel  dari US$ 52,17 per barel menjadi US$ 52,61 per barel.

Basket OPEC naik sebesar US$ 0,67 per barel dari US$ 51,74 per barel  menjadi US$ 52,41 per barel.

Laporan: Rian Adriansyah

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.