Ini Hasil Monitoring dan Analisis Media terhadap Kemenag Versi Pinmas

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat (Pinmas) Kemenag RI menggelar Seminar Hasil Monitoring dan Analisis Media, Jumat (22/4/2016), di Auditorium HM. Rasjidi Kementerian Agama, di Jakarta.

 

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) Mohamad Ali Irfan, didampingi Kepala Sub Bagian (Kasubbag) Informasi dan Humas Kemenag Sultra Syaifuddin Mustaming, menghadiri kegiatan yang bertajuk “Apa Kata Media tentang Kementerian Agama” tersebut.

yamaha

 

Hadir sebagai narasumber Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenag Nur Syam dan Praktisi media Sigit Raharjo itu, juga dihadiri pejabat Eselon I dan II pusat, para Kakanwil Kemenag dan Pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) seluruh Indonesia, serta para penanggung jawab kehumasan di Kanwil Kemenag.

Seminar diawali dengan paparan Kepala Pinmas Rudi Subiyantoro tentang hasil monitoring dan analisis media dalam tri wulan pertama tahun 2016 (periode 1 Januari – 15 April 2016).

 

Menurut Rudi, dari Sepuluh Besar narasumber berita di media yang dianalisis oleh Tim Pinmas dalam tiga setengah bulan terakhir, Menag selalu berapa pada posisi pertama dengan disparitas frekuensi yang sangat mencolok. Pada 15 hari pertama bulan April misalnya, Menag Lukman terekam sebanyak 195 kali menjadi narsum berita di berbagai media, sementara Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Abdul Djamil yang menempati urutan kedua hanya 20 kali.

“Tiga besar narasumber internal Kementerian Agama yang banyak dikutip media adalah Menag Lukman Hakim Saifuddin, Dirjen PHU Kemenag Abdul Djamil, dan Dirjen Bimas Islam Kemenag Machasin,” jelas Rudi.

“Narasumber internal didominasi oleh Menteri Agama. Hal ini mengindikasikan 2 hal. Menteri agama sebagai narasumber yang baik atau narasumber yang lain tak banyak berkomunikasi dengan media,” imbuhnya.

Untuk itu, lanjut Rudi, kedepan diperlukan langkah strategis agar para pimpinan Kementerian Agama dapat menjadi narasumber berita yang sesuai bidang tugasnya. Menurut Rudi, pembaruan informasi secara berkala dibutuhkan untuk menangani masalah yang perlu reaksi cepat dan itu juga sangat bergantung pada sejauhmana respon para pejabat Eselon I dan II, pusat maupun daerah.

Dalam sesi seminar, praktisi media Sigit Raharjo mengapresiasi temuan hasil monitoring dan analisis media terkait berita seputar Kemenag yang didominasi berita positif. Namun demikian, dengan total berita hanya 2.343 dalam tiga setengah bulan terakhir, menurut Sigit, secara kuantitas hal itu masih kurang dari cukup.

Dengan Satuan Kerja (Satker) yang demikian besar dan tersebar di seluruh Indonesia, minimal lebih 1000 perbulan berita seputar Kemenag. Untuk itu, Sigit berpandangan bahwa mendesak bagi Kementerian Agama untuk memperkuat kehumasannya.

“Pentingkanlah humas ini, mungkin perlu dinaikkan eselonnya. Ini fungsi yang super penting. Fungsi kehumasan itu. Sehebat apapun institusi itu, harus mempunyai etalase yang baik,” tegas Sigit yang disambut aplaus audiens.

Senada dengan Sigit, Menag Lukman Hakim Saifuddin mengapresiasi inisiatif Pinmas melakukan monitoring dan analisis media terkait pemberitaan Kemenag. Menurutnya, hal itu positif sebagai bahan refleksi diri tentang apa yang harus dilakukan kedepan.

Merespon pandangan Sigit, Menag Lukman mengaku kalau pihaknya sekarang sedang memikirkan struktur yang terbaik bagi Humas Kementerian Agama. Menurutnya, humas adalah etalase Kementerian dan etalase itu juga menjadi bagian dari pertanggungjawaban publik.

 

“Kita sedang berfikir terkait positioning terkati kehumasan, agar ke depan fungsinya lebih baik,” jelasnya.

Menag juga mendorong agar setiap pimpinan Kemenag dapat tampil sebagai juru bicara bagi Satkernya masing-masing. Menurutnya, orang yang paling memiliki kapasitas dalam menjelaskan sebuah persoalan adalah para pimpinan satker sesuai dengan bidang dan tugasnya masing-masing.

 

“Jubir Kemenag adalah kita semua. Setiap Rektor, Kakanwil, semua jubir di institusinya masing-masing. Saya berharap betul. Kita yang paling memiliki kapasitas untuk membicarakan hal yang ada di daerah sesuai tugas masing-masing,” ungkapnya.

“Kita harus percaya diri untuk speak up. Syarat utama untuk berbicara depan media, harus tau masalah yang akan disampaikan. Dengan kita mengetahui masalah, akan memudahkan kita untuk berbicara, karena fungsi kita menjelaskan duduk masalah yang ada,” pungkas Menag. (Inmas Kemenag Sultra)

 

Editor: Gugus Suyaman

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.